Saya melewati awal tahun 2013 ini di Pangandaran. Saya selalu mencintai kota ini. Kecil dan berbau laut. Saya tidak lahir di sini, tapi tinggal di sini sejak berumur 10 tahun, dan meninggalkannya ketika saya masuk universitas. Bagaimanapun, ibu saya masih tinggal di sana, dan sesekali saya mengunjunginya. Kadang-kadang saya hanya di rumah saja, tak menginjakkan kaki sama sekali ke pasir pantai, seperti dilakukan kebanyakan pelancong. Menghirup aroma lautnya dari jendela kamar kadang-kadang sudah lebih dari cukup. Berjalan dari rumah ke minimarket sejauh seratus meter, sudah cukup untuk membakar kulit. Tapi ada waktu-waktu saya mengingat masa remaja saya. Sepulang sekolah, saya pergi ke pantai membawa novel (atau komik), dan duduk membaca di bawah pohon pandan. Pangandaran hanyalah kota kecil, tapi saya rasa para penulis pun tak berani melewatkannya. Di serial Wiro Sableng (Bastian Tito), sang pendekar pernah bertarung di Pangandaran (saya tak tahu apakah di masa para pendekar berkelana ke sana-kemari kota kecil ini sudah ada atau tidak, sudah memiliki nama seperti itu atau belum, tapi itu tak lagi penting, bukan?). Di novel-novel misteri Abdullah Harahap, kota-kota kecil di pantai selatan Jawa Barat (di mana Pangandaran salah satunya) selalu diidentikan dengan mistik, tempat orang mengirim santet, teluh, mencari ilmu hitam. Juga para pencipta lagu. Saya selalu suka lagu Doel Sumbang berjudul “Pangandaran”, tentang sepasang kekasih yang memadu cinta di pantai kota ini. Lagu tersebut dalam Bahasa Sunda, yang membuatnya terdengar lebih memabukkan di telinga. Sekali-dua, saya menyebut kota ini di cerita-cerita pendek saya, dengan penuh cinta. Saya membayangkan kota ini seperti Blanes (di pesisir Catalonia, Spanyol) bagi Roberto Bolaño, tempat sang penulis bahkan pernah menjual cenderamata. Saya suka berjalan memandangi toko-toko cenderamata, tempat kaos-kaos digantung, dimana orang-orang menumpahkan cinta ke kota ini, seperti James Joyce mengagungkan Dublin di cerpen-cerpennya. Mungkin itu berlebihan, tapi itu benar. Jika ada hal yang menyedihkan, tak ada toko buku di kota ini. Saya tak terlalu peduli hal-hal lain yang juga tak ada, tapi tak ada toko buku benar-benar menyedihkan. Juga tak ada perpustakaan. Tapi di kota tanpa toko buku dan perpustakaan ini, setidaknya seseorang yang pernah tinggal di sana sekali waktu bermimpi menjadi penulis. Hanya Tuhan yang tahu setan apa yang merasukinya. Bacaan saya sangat sedikit di masa-masa itu. Novel-novel silat, horor, romans picisan, itulah yang bisa saya peroleh. Juga cerita-cerita pendek dari majalah remaja. Selebihnya barangkali buku kisah para nabi dan orang-orang saleh. Oh, sekali waktu ayah saya pernah memberi satu antologi cerita pendek Australia. Dalam bahasa Inggris yang susah-payah saya coba baca. Saya tak ingat judul bukunya, tapi dua cerpen saya ingat: “The Cruise of the Nifty Duck” (Ray Harris?) dan “Laura Goes to School”. Saya juga tak terlalu yakin siapa saja penulisnya, apa ceritanya, hanya ingat dua judul itu. Saya tak tahu darimana ayah saya memperoleh buku itu. Tapi ia memang jenis ayah yang jika punya uang banyak, tak akan segan membeli semua buku yang ada di dunia untuk kami. Sayangnya ia tak punya uang banyak, jadi hanya beberapa buah buku pernah ia beli untuk kami. Bagaimanapun, saya tetap mencintai kota kecil ini, bahkan meskipun tanpa toko buku. Saya ingat, di awal masa-masa saya menulis, saya sering pulang ke sini hanya untuk menulis beberapa cerita pendek. Saya akan mengurung diri di ruang belakang, tempat ayah saya menyimpan bahan kaos dan cat sablon (ia memiliki usaha kecil membuat kaos cenderamata), dan menulis di buku tulis bergaris. Tanpa gangguan, ditemani kehangatan cuaca pantai, beberapa cerita pendek saya tulis di ruangan tersebut. Sekarang saya jarang menulis di sini, dan menggantinya dengan membaca. Saya selalu memenuhi ruang tersisa di tas saya dengan buku jika berkunjung ke sini. Barangkali kota ini memang dipenuhi energi mistis. Buat saya, energi itu mendorong saya untuk menulis, dan terutama membaca. Sekali waktu seorang teman pernah melemparkan lelucon, jika sekali waktu Indonesia berantakan dan terpecah-belah (seperti terjadi pada Yugoslavia dan Uni Sovyet), tanah air dan paspor mana yang akan saya pegang? Sekarang saya yakin, saya akan memilih memegang paspor “Republik Pangandaran”, meskipun seseorang pernah berkata, satu-satunya paspor yang layak dimiliki seorang penulis hanyalah karya yang (sangat) baik dan satu-satunya tanah air untuk penulis adalah Bahasa yang ia pergunakan.