Adalah Milan Kundera yang pernah menyinggung perkara menulis dengan pendekatan musikal. Dalam hal ini, saya rasa Jenny Erpenbeck melakukan hal yang kurang-lebih sama, meskipun dengan cara yang berbeda bagaimana mengadopsi pendekatan musikal ini terhadap bentuk novel. Saya melihat, Kundera terutama mengambil pendekatan dramatik dan irama dari musik. Membaca novel-novelnya, kita merasa seperti membaca (dan memainkan) komposisi musik: dibuka dengan sejenis intro, dan ditutup dengan sejenis outro. Panjang-pendek babnya juga sangat memperhitungkan aspek irama ini. Atau juga perhatikan pendapatnya tentang polifoni dalam musik dan novel. Jenny Erpenbeck melakukannya dengan cara yang berbeda. Saya sering membayangkan bahwa musik pada dasarnya merupakan seni menciptakan pola atau motif. Di luar aspek-aspek dramaturginya, saya merasa musik memiliki kecenderungan untuk menciptakan motif, yang tentu saja dibentuk melalui nada-nada dan irama. Ada motif yang berulang, ada penyimpangan, ada variasi. Motif, atau pola, seperti motif atau pola yang kita kenal dalam batik, misalnya. Bayangkan novel-novel (setidaknya dua novel yang saya baca) Jenny Erpenbeck dengan cara seperti itu. Novel-novelnya dibentuk dengan kesadaran akan adanya motif atau pola ini. Mungkin belum banyak yang tahu nama Jenny Erpenbeck, terutama di sini, tapi sudah jelas ia merupakan salah satu penulis Jerman penting sekarang ini. Belum lama ia memperoleh Independen Foreign Fiction Prize, salah satu penghargaan prestisius untuk karya asing yang diterjemahkan ke bahasa Inggris (di Britania), untuk novel The End of Days yang diterjemahkan oleh Susan Bernofsky (saya sangat menyukai terjemahannya atas mahakarya Kafka, Metamorphosis). Novel ini secara sekilas saja bisa dikenali terutama karena motifnya: terdiri dari lima “buku”, yang semuanya mengisahkan tokoh yang sama. Di setiap buku itu, si tokoh selalu menemui akhir hidupnya, alias mati. Perbedaannya, di buku pertama ia mati ketika masih muda. Di buku kedua, melalui pengandaian bahwa sebenarnya ia selamat ketika bayi, si tokoh mati ketika masa remaja. Begitu seterusnya hingga si tokoh mati di usia tua, di buku terakhir. Ada motif yang diulang (soal kematian si tokoh), tapi sekaligus ada motif yang bervariasi (karena si tokoh hidup di zaman yang berbeda). Dengan cara ini, Erpenbeck mengarungi waktu, dengan konteks sejarah rasisme, Perang Dunia, Eropa selepas perang dan seterusnya dengan cara yang cantik. Hidup seolah-olah tak berakhir ketika seseorang mati. Dan masalah serta penderitaan juga tak berarti dengan mudah dihadapi sekali kita bisa melewati kemungkinan mati. Bentuknya membuat novel ini terasa jenaka, tapi sekaligus membuat kita terus-menerus awas bahwa hidup yang lama dan panjang juga tak selalu menyenangkan. Novelnya yang lain, yang terbit lebih dulu, memperlihatkan jenis motif yang lain. Visitation, judulnya. Jika ada kesamaan dengan novel pertama, kita bisa menunjuk pada lanskap sejarah yang terpapar di kedua novel. Jika di novel pertama, sejarah diarungi oleh seorang tokoh (dan keluarganya) yang diandaikan mati dan hidup, di novel kedua, kita bertemu dengan sebuah rumah di hutan, di tepi danau tak jauh dari Berlin. Ada dua belas sosok yang pernah tinggal di rumah tersebut, di waktu-waktu yang berbeda, dan mereka memiliki kisah sendiri-sendiri, mengikuti arus waktu dan konteks sosial-politik yang mengiringinya. Boleh dikatakan tokoh utamanya barangkali si rumah tersebut, dan dalam keterdiamannya, ia merekam bagaimana para penghuni ini datang dan pergi merajut kisah. Menarik, bukan? Sebuah novel, sebagaimana sering keliru dikatakan banyak orang, tak semata-mata mengenai cerita. Bagi saya jelas, selain keterampilan dan intelektualisme, empati dan keterlibatan, lebih penting lagi: semangat untuk bermain-main di sana. Karena bagi saya, novel dan seni secara umum, tak akan berkembang dan menyenangkan, tanpa semangat semacam itu. Jenny Erpenbeck merupakan suara baru yang menyenangkan. Jenaka tanpa harus menjadi konyol.