Kita tak mungkin memilih ayah dan ibu biologis kita, tapi saya yakin kita bisa memilih ayah dan ibu, dan bahkan leluhur spiritual kita. Buat saya itu jauh lebih penting, dan kita seharusnya merdeka memilih sejarah kita sendiri. Sejarah kesusastraan merupakan contoh paling nyata bahwa kita bisa memilih sejarah kita sendiri, tanpa terkungkung oleh wilayah geografis, oleh keyakinan, bahkan oleh waktu. Bayangkan, salah satu novel penting Prancis, Jacques the Fatalist, beribu novel dari tanah Inggris, Tristram Shandy. Dan novel babon yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Ulysses, berayah pada novel Prancis yang sungguh tak dikenal We’ll to the Wood No More. Gabriel García Márquez barangkali tak akan menulis One Hundred Years of Solitude tanpa ia membaca novel terpenting Meksiko, Pedro Paramo; dan apakah Nyai Ontosoroh ciptaan Pramoedya Ananta Toer akan memiliki karakter seperti yang kita kenal, seandainya Pram tak membaca Mother dari Maxim Gorky? Lantas apa gunanya sejarah kesusastraan yang kita kenal di sekolah, yang disebut sebagai sejarah kesusastraan nasional? Entahlah. Sejarah kesusastraan yang dibagi-bagi dalam periode-periode dan tahun-tahun, bagi saya merupakan gagasan paling absurd; siapa pun yang menuliskannya, yang menciptakannya, tak mengerti dengan baik bagaimana kesusastraan secara alamiah bekerja, demikian juga pemikiran yang melatarbelakanginya. Sejarah yang disusun berdasarkan periode-periode, barangkali hanya berguna bagi pengamat di luar, yang ingin tahu apa yang ditulis dan dipikirkan sebuah bangsa di satu waktu dan waktu lainnya, yang bahkan sebenarnya mereka harus sadar bahwa hubungan karya yang ditulis di waktu-waktu yang berbeda itu tidak selurus yang mereka bayangkan. Bagi penulis, setidaknya untuk saya, itu tak banyak membantu. Sebab seperti masa depan, masa lalu seharusnya merupakan pilihan. Seperti kita menciptakan peta jalan untuk masa depan kita, semestinya kita merdeka memilih peta jalan masa lalu, dan itu besar kemungkinan tidak merupakan jalan lurus yang membentang. Sebab mustahil menentukan masa depan tertentu tanpa kita memilih masa lalu tertentu. Memilih sejarah sendiri, bagi saya seperti meramu makanan di meja dapur. Artinya, kita tak hanya memerdekakan diri dari selera makan yang diam-diam terbentuk, tapi membayangkan rasa yang akan didapat, bahkan mungkin juga bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan, rasa yang tak disangka-sangka. Bayangkan jika kita bisa menciptakan novel yang beribu dari novel-novel horor-fantasi H.P. Lovecraft dan berayah novel horor-politik Geroge Orwell, serta diselingkuhi oleh novel horor lokal ala S.B. Chandra, kira-kira akan menghasilkan novel horor macam apa? Sudah jelas hasilnya sangat absurd jika kemudian kita letakkan novel (dan penulisnya) dalam sejarah kesusastraan dalam kerangka periode tertentu, katakan saja sastra angkatan 2014; sementara rekan segenerasinya menciptakan novel yang berayah Serat Centhini dan beribu novel-novel Barbara Cartland. Baiklah, yang jauh lebih penting dari kemerdekaan memilih sejarah kesusastraan sendiri, karena kemerdekaan semacam ini hanyalah buah turunan, adalah kemerdekaan pikiranmu dari segala yang mengungkung. Sejarah sebagaimana yang lainnya selalu merupakan pisau bermata dua: mengikatmu atau membebaskanmu. Sebab sebagaimana tubuhmu, pikiran juga sangat mudah untuk terpenjara. Dan lebih berbahaya daripada penjara untuk tubuh, penjara untuk pikiran seringkali tak terlihat. Dan lebih sialnya: penjara pikiran besar kemungkinan tak tersadari.