Eka Kurniawan

Journal

Maxim Gorky dan Saran Untuk Kamu yang Mendambakan Cinta Ideal

Beberapa tahun lalu, saat masih mahasiswa, saya iseng menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari kumpulan Tales of Italy. Satu hal yang saya ingat (saya tak tahu lagi di mana buku itu, termasuk edisi terjemahannya yang diterbitkan teman saya), cerpen-cerpen itu penuh dengan cinta platonik. Cinta antara lelaki dan perempuan yang diidealisasikan. Tentu saja kebanyakan tokoh-tokohnya merupakan masyakarat kelas bawah, sebagian besar nelayan. Kehidupan mereka biasanya kasar dan keras, tapi menyangkut cinta, mereka menjadi melankoli dan lembut. Beberapa hari ini, karena kesibukan pekerjaan dan perjalanan, sementara saya tetap butuh membaca, saya memutuskan untuk membaca buku-buku tipis yang bisa saya baca di waktu luang yang sangat sedikit. Saya menemukan kumpulan cerpen Gorky lainnya berjudul Chelkash and Other Stories. Isinya cuma tiga cerita pendek, dan lagi-lagi saya menemukan pola tema seperti di cerpen-cerpen yang sebelumnya saya baca. Saya membaca buku itu dari cerpen terakhir, “Twenty Six Men and a Girl”. Itu tentang dua puluh enam bujangan yang bekerja di pabrik roti. Hidup mereka nyaris seperti perbudakan: disekap di satu ruangan, jatah istirahat yang minim, dan jatah makan yang tak mencukupi. Satu-satunya hiburan mereka adalah seorang gadis berumur enam belas tahun yang sekali sehari muncul, bernama Tanya. Mereka semua menyukainya, mencintainya. Mereka mengagungkannya seperti seorang dewi. Tak pernah ada yang berani bicara buruk tentangnya, apalagi mencoba merayunya. Cinta mereka sangat tulus, sehingga mereka tak punya keberanian bahkan untuk berpikir buruk tentangnya. Hingga muncullah karyawan baru, kepala tukang roti yang awalnya seorang prajurit. Si prajurit membanggakan kegantengannya, kemampuannya menaklukkan banyak perempuan. Bahkan membuat perempuan cakar-cakaran memperebutkannya. Kedua puluh enam buruh pabrik roti ini terpesona, dan tiba-tiba mereka ingin menguji “cinta” mereka: satu di antaranya menantang si prajurit, apakah mampu menaklukkan Tanya dalam semalam. Mereka yakin Tanya merupakan dewi mereka, yang polos dan suci, tak mudah jatuh oleh rayuan gombal … di sisi lain, melihat kemampuan si prajurit, keyakinan ini mulai tergerus. Hingga akhirnya mereka harus menelan kenyataan pahit, Tanya jatuh ke pelukan si prajurit. Kedua puluh enam budak pabrik roti ini terbakar oleh amarah cinta mereka sendiri. Cerpen kedua, merupakan bentuk lain cinta platonik yang lucu tapi juga tragis, berjudul “Makar Chudra”. Judul itu sebenarnya aneh, karena Makar Chudra di cerpen itu lebih merujuk ke si narator yang mengisahkan kisah cinta dua gypsi: seorang pemuda bernama Loiko Zobar dan seorang gadis bernama Radda. Intinya, baik Loiko Zobar maupun Radda saling mencintai, tapi mereka lebih mencintai kebebasan, dan tak mau hubungan itu mengkerangkeng mereka. Radda menuntut, jika Loiko mau menjadi suaminya, Loiko harus patuh kepadanya sebagaimana banyak lelaki takluk kepada keinginan isterinya (pendapat ini diutarakan sebagai pembuka oleh si narator, Makar Chudra). Keadaan ini membuat mereka menderita. Mereka tak bisa hidup satu sama lain tanpa merasa terpenjara, tapi juga tak bisa terpisah. Cerpen ini diakhiri dengan tragedi semacam Romeo dan Juliet, di mana si lelaki membunuh si perempuan, dan ayah si perempuan terpaksa membunuh calon menantu yang disayanginya. Baiklah, saya minta maaf karena dengan penuh semangat membocorkan isi cerita masing-masing cerpen. Bahkan meskipun kamu tahu ceritanya (saya sudah pernah membaca cerpen-cerpen ini juga sebelumnya), tetap menarik melihat bagaimana Gorky membangun sebuah konflik, yang pada dasarnya konflik dalaman. Permasalahan ada di dalam pikiran si tokoh, sebelum berakhir dalam sebuah aksi. Jujur saya jadi bertanya-tanya, apakah ini sejenis kritik atas idealisme – melalui cinta platonik? Dengan kata lain, enggak usah mengkhayal tentang cinta yang ideal, hadapi saja kenyataan sesungguhnya. Mungkin saja, toh? Ada satu cerpen lagi, yang menjadi judul buku, “Chelkash”. Tapi saya rasa catatan ini saya akhiri di sini saja, sebelum saya berkhotbah lebih banyak tentang cinta, yang saya jamin, saya tak tahu apa-apa.



2 Comments

  1. Di Indonesia di mana bisa menemukan cerpen-cerpen semacam ini ya Mas? Terima kasih..

    • @Tika We:
      Cerpen-cerpen Maxim Gorky? Saya pernah menerjemahkannya, judulnya “Pemogokan”, terus dicetak ulang dengan judul “Cerita-cerita dari Italia”, tapi mungkin sudah agak susah mencarinya. Dalam bahasa Inggris, cari di internet juga saya rasa bisa ditemukan. Gorky penulis Rusia yang sangat populer dari era Sovyet.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑