Bosan dengan cerpen-cerpen kontemporer? Bosan dengan cerpen-cerpen yang penuh catatan kaki yang mencoba menerjemahkan bahasa, istilah, atau dialek lokal? Bosan dengan cerpen yang selalu berupaya aktual, kalau perlu persis seperti judul berita halaman pertama koran? Bosan dengan cerpen yang heroik, yang menganggap tugas cerpen adalah membela orang lemah dan korban kesewenang-wenangan, sebab seorang penulis adalah juru khotbah segala kebaikan? Bosan dengan cerpen yang menceritakan orang komunis mati dibantai tahun 65, atau orang-orang yang diculik sekitar tahun 98? Bosan dengan cerpen yang membicarakan senja, hujan, kopi, bir, café? Pokoknya bosan dengan segala tema yang over produksi sehingga menciptakan inflasi yang nyaris tak tertolong? Bosan dengan cerpen yang kalimatnya jauh lebih indah daripada ceritanya, seperti kursi yang ornamennya jauh lebih hebat daripada kualitas kayunya? Barangkali bisa diobati dengan membaca cerpen-cerpen Maupassant. Cerpen-cerpen sederhana, dengan ironi yang tidak sederhana. Setidaknya, meskipun umurnya sudah tua, beberapa cerpennya masih bisa menggedor-gedor kepala kita yang waras dan terpuji ini melalui pesan-pesan moral yang hebat: 1) Jahatlah kepada orang yang kita anggap baik. Di cerpen “Country Living”, Maupassant menceritakan dua keluarga desa dengan anak banyak. Mereka hidup sederhana, bisa dibilang miskin. Suatu hari muncul sepasang suami-isteri dari kota yang kaya raya dan jatuh cinta kepada salah satu anak lelaki kecil kampung ini. Pasangan kota ini tak dikaruniai anak. Mereka ingin mengadopsi. Keluarga pertama menolaknya, meskipun diiming-imingi uang dan janji membahagiakan si anak. “Tidak, kami bukan penjual anak!” Tapi keluarga kedua menerimanya, karena gila harta. Kita bersimpati kepada keluarga pertama, yang memilih hidup miskin tapi tetap bersama anaknya, dan mengutuk keluarga gila harta. Tapi di akhir, kita tahu, keluarga kedua lebih bahagia: anaknya setelah dewasa pulang, dengan sosok tegap tampan, dan banyak harta. Sementara keluarga pertama: si anak marah karena hidup mereka miskin, karena “kesempatan untuk bahagia” direnggut orang tuanya ketika ia masih kecil, dan akhirnya kabur dari rumah. Pelajaran moral: menjual anak itu baik, menjadi ibu yang baik itu jahat, dan gila harta itu perlu. 2) Korban selalu lebih jahat. Di cerpen berjudul “Riding Out”, kita bertemu keluarga ningrat tapi miskin. Satu ketika, mereka dapat bonus sehingga memutuskan untuk piknik sekeluarga, menyewa kereta kuda (untuk isteri dan anak-anak) dan kuda (untuk tunggangan si ayah). Malang, di jalan si ayah menabrak seorang nenek tua. Untuk menunjukkan niat baiknya, si ayah membawa nenek tua itu ke klinik. Dokter bilang, paling tiga hari juga sembuh (bayarannya per hari). Tapi setelah tiga hari, si nenek tak mau bangun. Mengeluh masih sakit. Hari berikutnya, sama. Minggu berikutnya sama, sementara tubuhnya makin gemuk karena makan terjamin. Begitu seterusnya, “sampai sisa hidupku,” kata si nenek. Keluarga miskin itu semakin miskin untuk membayar si nenek di klinik. Pesan moral: jangan hidup sok baik. dan jika ada kesempatan untuk memeras orang: lakukanlah! Terpujilah Maupassant, terpujilah cerpen-cerpen ini (saya membacanya, hanya beberapa cerpen) yang telah menunjukkan, tak hanya hidup, bahkan cerita rekaan pun seringkali jauh dari yang kita harapkan. Setidaknya, cerpen-cerpen ini mengingatkan, ada lho penyembuh kebosanan.