Eka Kurniawan

Journal

Masa Depan Indonesian Literature

Masa depan Indonesian literature kalo sekiranya memang panjang umurnya, mungkin harus ditulis dengan Indonesian yang buruk lagipula benar (ato salah, semoga dibuka saja pintu kebahagiaan). Udah pasti susah, soalnya, yang buruk dan bisa benar bisa salah tuh enggak ada aturannya (kalo ada yang coba-coba membuatkan aturannya, boleh juga untuk dibikin tenggelam ini orang). Kalo ada aturan kan jelas, kayak aturan lalu-lintas. Lampu merah, yo berhenti. Huruf S dicoret, orang tolol juga tahu artinya enggak boleh stop, apalagi parkir dan numpang eek (ato malah boleh?). Ngikutin aturan itu capek. Lo pikir kita mesin, otak kita gampang diprogram buat ngikutin aturan ini dan itu. Berenti aja jadi manusia, pindah agama jadi robot. Udah pasti robot pinternya lebih kebangetan. Kita semua enggak ditakdirkan sekece robot, beberapa terkutuk lahir jenius. Sedikit, sih, tapi ada. Ada. Meskipun kece sih tidak. Robot tak ada yang jenius. Ribit mungkin ada. Tai yang jenius melimpah. Naik mobil pake aturan. Upacara bendera ada protokolnya. Beli susu kopi (apa kopi susu? Bodo, lah) di Starbucks, eh kenyataannya ada aturannya pula (antri, bayar dulu, antre lagi, baru dapet kopi susu — eh susu kopi). Numpuk duit ada aturannya. Mau nyumbang tanah dan bikin masjid gede banget, juga terbikinlah aturannya. Sekarang, masa mau ngarang cerita dan berpenyair juga diatur-atur? Kebangetan. Ejaan harus begini, bikin kalimat harus begono, kalo enggak begono elo kesambet setan. Kontol lo dicabut orang. Ngehek emang. Hidup susah, kalo mau tambah susah, coba jalan pake telinga. Ato nyeruput kuah baso pake idung, enak plus ingus dan upil. Mau susah yang berlebih-lebih???!#$@??! Coba saja kau kawin dengan tujuh belas setengah manusia freak kontrol (atau kontrol grand prix, gue lupa?), mampus deh lu dikoyak-koyak obeng. Ngomong-ngomong, menurut hamba sahaya ini yang imut bersahaja, ngarang susastra itu seperti pasang sepatu. Kadang-kadang pengin pake sandal, boleh juga ingin nyeker. Besok-besok, ternyata pengin pakai celana pendek, atau cangcut kebalik. Pokoknya susastra itu seperti sepatu dipasang di kaki, atau diemut. Atau beli kacamata di toko, sebelumnya boleh berminum cendol, boleh juga bergandengan pacar di tangan. Memakai sepatu, terbukti akurat dan meyakinkan, menjelaskan dengan gamblang apa itu susastra. Yang enggak bisa diomongin susastra sarjana, karena mereka lupa buka sepatu kalo bercinta. Jadi gimana masa depan literature van Indonesian? Syuram tapi menjanjikan. Menjijikkan tapi asoy geboy. Tak perlu ada criticus, juga editeur, apalagi pengamat pertandingan prosa atau puitik. Ngepel trotoar pasti udah lebih berguna untuk mereka. Enggak perlu pula rumah-rumah budaya, ganti saja semua itu jadi pleygron, biar kita bisa bobo-bobo dan main-main dipepende mbak-mbak dan abang-abang. Tidak perlu selesai menulis, sebab Kafka pun sampai sekarang tidak selesai-selesai menyelesaikan novelnya, meskipun berkali-kali dicetak tetap juga tidak selesai-selesai. Yang kita perlukan cuma … kebahagiaan dunia-akherat, baby. Tak ada hasil prakarya yang buruk, soalnya semua sampah tapi jangan kuatir bisa didaur ulang dan ramah lingkungan menjadi enerji drink yang terbaharukan, tidak pula ada otak goblok, sebab semua goblok dan yang paling goblok cuma robot. Satu-dua ada yang jenius, biasanya tai dan bulu ayam. Dan itu masa lalu yang enggak move on-move on. After mas-mas motivator: Masa depan Indonesian literature adalah sudah pasti the future of kesusastraan Indonesia.

11 Comments

    • Masih berusaha mencerna arti dari halaman ini.
      Aturan memang perlu, sekalipun terasa membelenggu.
      Tanpa aturan resiko utamanya ialah pesan yang mau disampaikan oleh sang penulisa tidak tersampaikan.
      Diskusi bisa menjadi panjang:
      //Seni untuk seni atau seni untuk manusia// … an endless debate will occur when trying to solve this.

      Contoh sederhananya ya ini.
      Entah karena otak saya yang dangkal hingga tidak bisa menangkap,atau memang latar belakang filologi dan psikologi kita begitu berbeda?

  1. Pokoknya joss dech tulisannya…tanpa bosa-basi

  2. Daripada baca sampah, mending yutuban ah. Indon literature biarlah let it flow kak, ngalir ke septic tank paling.

  3. Mantep dah bro. Salam buat Om Ben. Ngeeeeee!!!

  4. sujud syukur ada postingan ini dr kang eka, baca-bacain tulisan (atau beraque yang dianggap tulisan?) penyair-kritikus di sosmed malah makin bikin males sama the-so-called-sastra endonesah

  5. Kang Eka, Man Tiger sangaaaaat bagus kualitas terjemahan bahasa Inggrisnya. Dia penduduk sinikah? Sangat bagus. Sangat langka orang Indonesia bisa menerjemahkan sebagus Man Tiger. Kalau boleh usul novel-novel Pram yang belum diterjemahkan ke bahasa Inggris sebaiknya diserahkan ke tangan penerjemah Man Tiger itu. Pilihan kata-kata dalam bahasa Inggrisnya sederhana dan tidak arkaik, efektif dan kuat, tapi menyentuh. Sayang sekali dulu Pak Pram tidak sempat memiliki kemewahan diterjemahkan dengan kualitas yang baik ke dalam bahasa Inggris..

    • @Cak Wi:
      Iya. Labodalih Sembiring orang Indonesia, tinggal di Yogya.

      Saya sepakat karya-karya Pram yang lain perlu juga diterjemahkan. Setidaknya “Keluarga Gerilya”. Puisi-puisi Chairil Anwar juga perlu diterjemahkan ulang, semuanya. Enggak banyak, kok. Saya juga sempat usul waktu di Amerika, untuk menerjemahkan puisi-puisi Wiji Thukul. Tapi tentu saja keputusan itu ada di tangan ahli waris, dan juga penerjemah yang bersangkutan.

  6. Setelah membaca artikel ini jadi teringat pada pak Afrizal Malna. Ada kaitannya kah?

  7. Wah2 orang2 planet Vega (atau Tuhan2, Kami (kata Quran) paling demen sama kode2 rahasia kayak gini2 nih.. Hahhaa..

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑