Eka Kurniawan

Journal

“Marry You”

Setelah menonton satu video Girl’s Generation menyanyikan lagu Bruno Mars, “Marry You”, saya jadi memikirkan ide tentang pernikahan. Lihat gadis-gadis itu. Gadis-gadis yang saya kagumi, karena kecantikan dan bakatnya, tampak berbinar-binar menyanyikan baris “I think I wanna marry you.” (Baiklah, yang menyanyikan lagu itu sebenarnya hanya tiga orang: Yoona, Sunny dan Sooyoung, tapi saya membayangkan semuanya menyanyikan itu). Seperti kebanyakan orang (terutama mereka yang belum menikah), pernikahan di mata mereka tampak seperti “tanah yang dijanjikan”, sebuah surga, sebuah bangunan utopia di mana segalanya indah. Bahkan kadang-kadang, tujuan orang jatuh cinta dan menjalin hubungan, tak lain adalah pernikahan. Sebagian besar yang kita peroleh dari kesusastraan juga seringkali menjadikan pernikahan menjadi tujuan pamungkas cerita. Coba kita kenang, berapa banyak dongeng yang berakhir dengan kalimat, “Akhirnya pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selamanya.” Seolah-olah pernikahan merupakan gerbang kebahagiaan. Seolah-olah sebelum menikah merupakan ketiadaan kebahagiaan dan setelah menikah tak ada penderitaan. Romeo dan Juliet berakhir dengan kematian, juga karena mereka ingin menikah. Saya sering membayangkan menulis ulang Romeo and Juliet, dan dalam versi saya, saya membayangkan Romeo dan Juliet tak keras kepala dengan keinginan mereka untuk menikah. Juliet bisa menikah dengan Paris (pilihan orangtuanya). Romeo bisa menikahi siapa pun yang direstui orangtuanya (bukan Juliet, juga bukan Rosaline, karena keduanya Capulet). Di antara kedua keluarga dan pernikahan, Romeo dan Juliet masih bisa bertemu. Diam-diam tentu saja. Dan memadu kasih. Semua bahagia. Orang tua mereka bahagia, suami/istri mereka bahagia, dan keduanya juga bahagia. Mereka tak perlu mati. Tapi seperti kita tahu, cerita ini menjadi tragedi karena kedua tokoh kita menginginkan pernikahan di antara mereka. Mereka membayangkan pernikahan akan membuat mereka bahagia. Padahal pernikahan yang mereka idamkan membawa mereka kepada kematian. Lihat pula Sitti Noerbaja, salah satu novel klasik kita. Tujuan utamanya juga pernikahan. Oh, bukan, bukan pernikahan Siti Noerbaja dengan Datuk Meringgih, tapi justru untuk menggagalkan pernikahan tersebut. Novel ini menyadari aspek buruk pernikahan (yang direncanakan) untuk sang tokoh, tapi bukan untuk menolak pernikahan sebagai gagasan, melainkan hanya untuk menggantikan pernikahan lain (yang diidamkan), yakni pernikahannya dengan Samsul Bahri. Jika kesusastraan bisa hanya dibagi dua, barangkali saya akan membaginya dalam kategori 1) yang menjadikan pernikahan sebagai tujuan kebahagiaan, 2) yang menjadikan pernikahan sebagai sumber penderitaan. Oh, tentu saja pada akhirnya ada novel-novel yang memperlihatkan tokoh-tokoh yang tak berbahagia dalam pernikahan mereka. Anna Karenina salah satu yang terbesar, barangkali penderitaannya paling berat, dalam pernikahan. Bagaimanapun, kedua kategori menyimpulkan hal yang sama. Kategori pertama tak menunjukkan pernikahan sebagai sesuatu yang membahagiakan, tetapi lebih sebagai kebahagiaan yang dibayangkan. Belum terjadi. Masih sebagai gagasan. Kategori kedua sudah jelas, pernikahan tak memperlihatkan kebahagiaan. Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia (tentu saja, yang membahagiakan tak membuat hidup menjadi masalah, dan tanpa masalah tak ada cerita). Seperti kata Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dari sudut pandang penulis, hanya keluarga tak bahagia yang menarik ditulis. Dengan kata lain, keluarga bahagia pada dasarnya “tak ada”. Dalam kategori filsafat bisa dibilang “non-exist-thing”. Bahkan meskipun itu “tak ada”, tetap saja kita sering membaca penutup kisah, “dan mereka bahagia selamanya dalam pernikahan”. Barangkali begitulah nasib manusia. Kita membutuhkan tujuan (sebagaimana cerita butuh tujuan), tak peduli seilusif apa tujuan itu. Sebab tanpa tujuan, mungkin kita akan menjadi makhluk yang lebih menyedihkan dan mengerikan. Maka tersenyumlah lebar para kekasih, yang membayangkan pernikahan mereka. Yang membuat hidup selalu layak dijalani adalah, sebab kita selalu percaya ada (pernikahan, misalnya) yang membahagiakan.



1 Comment

  1. Tiba-tiba saja ketika membaca postingan ini, saya jadi teringat tembang The Killers bertitel Romeo & Juliet. Saya lalu mencarinya di You Tube, dan ketemu versi live sewkatu band ini rekaman di Abbey Road. Lengkaplah petualangan.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑