Eka Kurniawan

Journal

Manis Agak Pahit

Cerita seperti apa yang saya suka? Yang jelas, saya tak terlalu suka melodrama. Saya suka nangis oleh melodrama, dan saya benci keadaan seperti itu. Sesekali saya terjebak di bioskop menonton film semacam itu. Diam-diam saya berkaca-kaca, dan tak akan pernah melupakan filmnya. The Notebook, misalnya. Tapi sekaligus saya berjanji tak akan menonton film apa pun lagi yang diangkat dari novel-novel Nicholas Sparks (saya malas dan tak pernah membaca novel-novelnya). Tak apa-apa ada melodrama, tapi sedikit saja. Beberapa waktu terakhir ini saya menyelesaikan dua novel Mario Vargas Llosa. Pertama, Bad Girl, atas saran Intan Paramaditha (entah kenapa ia mendorong saya untuk membacanya, mungkin tahu saya akan suka). Setelah membaca novel itu, saya mencoba mengambil novel lain dari Vargas Llosa, Aunt Julia and the Scriptwriter. Jika ada yang bertanya cerita atau novel seperti apa yang saya suka, sekarang saya akan menyebut kedua novel itu. Ada beberapa novel dari penulis lain yang barangkali akan saya gabung dengan keduanya. Saya bisa menyebut salah satunya: Museum of Innocence Orhan Pamuk. Siapa pun yang pernah membaca ketiga novel itu, pasti bisa mengerti apa yang menyamakan ketiganya, dan mungkin bisa sedikit menebak selera bacaan saya. Bad Girl bercerita tentang seorang bocah yang jatuh cinta kepada seorang anak perempuan. Sialnya si anak perempuan selalu menolak cintanya, dan lebih sialnya lagi, si bocah selalu mencintainya. Itu berlangsung hingga si bocah menginjak remaja, menginjak masa dewasa, menginjak masa tua, bahkan menjelang mati. Aunt Julia and the Scriptwriter berkisah tentang seorang remaja yang jatuh cinta kepada bibinya. Bukan bibi sedarah, memang. Ia seorang janda, adik dari istri pamannya. Si bibi jelas beberapa tahun lebih tua, dan si remaja masih dikategorikan di bawah umur menurut undang-undang. Mereka saling jatuh cinta. Tapi orang tua, keluarga besar, bahkan pemerintah (melalui peraturan mereka) menentang hubungan asmara ini. Museum of Innocence berkisah tentang seorang pemuda yang hampir menikah dengan tunangannya, tiba-tiba bertemu dengan sepupunya yang cantik dan jatuh cinta (bahkan menidurinya). Si pemuda berasal dari keluarga kaya raya, si gadis berasal dari keluarga miskin dan pernah berbuat aib karena mengikuti kontes kecantikan. Keluarga si pemuda tak akan menerima hubungan ini. Si gadis kecewa dengan si pemuda yang tak kunjung melamarnya dan memutuskan menghilang, di tengah keruwetan kota Istambul. Si pemuda memutuskan tunangannya dan mencari si gadis. Sedikit ringkasan cerita ketiganya barangkali bisa membuat sesuatu berdering di kepala. Ada kesamaan? Tentu. Semuanya merupakan kisah cinta. Ah, hampir semua novel merupakan kisah cinta. Lebih khusus lagi, ketiganya merupakan romans. Tentang cinta yang “terlarang” atau “terhalang” dan bagaimana mereka berjuang memperoleh cinta. Romeo and Juliet. Laila Majnun. Kita bisa membuat daftar kisah-kisah semacam itu. Seri novel populer Harlequin bahkan mengkhususkan diri di cerita-cerita semacam begini. Selera saya terlihat agak kacangan, tapi percayalah ketiga novel di atas sama sekali tidak kacangan. Saya tak akan mengomentari kualitas-kualitas literer novel-novel itu. Biarlah itu urusan kritikus atau pembaca sastra yang budiman. Saya hanya ingin mengomentari kisah cinta mereka, sebab itu yang menarik perhatian saya. Seperti seharusnya romans yang baik, kisah cinta mereka harus berakhir bahagia. Saya tak terlalu suka pada kenyataan Romeo dan Juliet tidak berakhir bahagia. Saya ingin, setiap kisah cinta yang terhalang oleh apa pun, setelah perjuangan para kekasih, akhirnya mereka bisa memperoleh cinta mereka. Tapi sekaligus saya benci menemukan kalimat “dan mereka bahagia selama-lamanya”. Seperti roti, saya suka roti yang manis, tapi tak suka roti yang terlalu manis atau hanya memberi rasa manis. Membuat mual. Saya menyukai kisah cinta yang manis, dengan serpihan rasa pahit di dalamnya. Bahkan mungkin yang tersisa justru rasa pahit, yang abadi tertancap di ingatan. Seperti itulah ketiga novel di atas. Semuanya berakhir bahagia untuk pasangan-pasangan tersebut, tapi sekaligus tidak bahagia. Ada rasa pahit yang tersisa di ujung cerita, yang saya rasa tak perlu menceritakannya. Sebab hal yang membahagiakan hanya bisa diukur jika kita tahu ada hal yang tidak membahagiakan.



2 Comments

  1. Tulisannya bikin teringat omongan orang tua saya, katanya semua cerita pasti tentang cinta segitiga ^^

  2. setuju banget bagian ini “Sebab hal yang membahagiakan hanya bisa diukur jika kita tahu ada hal yang tidak membahagiakan”

    Seperti kita akan tahu rasanya tertawa bahagia bila kita pernah menangis sedih..

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑