Eka Kurniawan

Journal

Lelaki Ini Melakukan Apa Pun untuk Orang yang Dicintainya, Membikin Repot Walikota dan Polisi

Saya selalu senang dengan orang-orang yang jatuh cinta. Mereka bisa melakukan nyaris apa saja, didorong oleh ketololan dan harapan. Setidaknya mereka mencoba melakukannya. Jika terpaksa, mereka akan coba memutar matahari agar terbit dari barat, atau menguras samudera Hindia dalam semalam. Bayangkan air yang mengalir perlahan dari puncah-puncak gunung dan bukit, merembes melalui celah-celah bebatuan, berbelok-belok mengikuti kontur tanah, mengarungi hamparan daratan beratus-ratus kilometer, demi cintanya kepada samudera. Hanya orang-orang yang bernyali, ditambah ketabahan tanpa ujung, serta kesembronoan dan kembali ketololan, layak untuk jatuh cinta. Tanpa itu, kau hanya akan berujung menjadi orang menyedihkan, penuh gerundelan, bukan ketololan yang kau pertunjukan tapi keonaran, dan hidupmu perlahan habis digerogoti waktu dan rasa sakitmu sendiri. Seperti genangan air yang tak bergerak, segera dipenuhi lumut, sampah, belatung, menjadi butek, bau dan terabaikan.

Bayangkan cinta seorang penulis kepada kesusastraan. Kebesaran cinta dan nyalinya hanya bisa dibedakan, apakah ia mengalir seperti arus sungai, kadang tenang kadang garang, kadang beriak, kadang menghajar bebatuan; atau ia hanya genangan suwung yang tak bakal ke mana-mana kecuali habis dimakan terik matahari, atau diisap perut bumi. Kadang-kadang ada penulis seperti genangan air macam begitu, tapi bersikap seolah ia sungai besar dengan riam dan jeram yang menghidupi banyak hidup, dengan kebijakan dan kemarahan. Atau ia berkata sebaliknya, “Aku tak perlu berkelana menghantam lereng-lereng bukit, aku tak perlu mengalir membelah persawahan dan ladang. Itu semua negeri asing, yang tak lebih indah dari apa-apa yang kulihat di sekelilingku. Kehidupan sejati adalah apa yang kulihat di sini, di sekitarku. Aku menggenang karena di tempat ini semuanya indah.” Tai. Ia tak punya nyali untuk menjelajah. Jika ia mencintai tempatnya menggenang, ia tak perlu mengatakan bahwa tempat lain tak lebih indah atau memberinya makna. Ia belum melihat apa-apa, tapi mulutnya berkoar seolah telah mengerti segala sesuatu.



Ada seorang penulis yang sekali waktu ditanya, “Apa yang Tuan lakukan jika sedang kehabisan gagasan?” Sang penulis menjawab, “Membaca buku.” Tentu saja sang penanya memburu, “Buku apa?” Dan yang terdengar merupakan jawaban paling mengibakan yang pernah keluar dari mulut seorang manusia, “Buku saya sendiri.” Ia tak lebih dari genangan air yang memuja-muji kebutekan dan belatung-belatung di dirinya. Dan penulis lain berkata, “Aku tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Buatku kesusastraan sejati ada di sekitarku, buku-buku dari penulis yang kukenali.” Kau hanya tak punya nyali menghadapi Kafka atau Dostoyevsky. Jika kau menyukai karya-karya kawanmu sendiri, cintai mereka tanpa harus membungkus diri dengan aksi hebat tak membaca Kafka atau Dostoyevsky. Kalau kau mencintai Si Eneng, dan menikahinya, katakan kepada dunia bahwa kau menikahi Si Eneng dan menikahinya tanpa harus menyebut-nyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung. Si Nunung mungkin tak peduli apa pun kepadamu. Menyebut bahwa kau tak mencintai Si Nunung hanya memperlihatkan betapa sial dan menyedihkan dirimu. Betapa kau merinding hingga tulang sumsum pada kenyataan bahwa di dunia ini ada perempuan bernama Si Nunung. Jika seseorang atau sesuatu tak memiliki arti penting untuk hidupmu, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk sesuatu yang tak penting? Tak mengatakan apa pun. Mereka tak ada di pikiranmu.

Jangan bungkus kekerdilanmu dengan kata-kata besar. Itu menyedihkan. Sungguh.

Cinta, sekali lagi, sangat mungkin membuat manusia atau apa pun menjadi begitu tolol. Tapi ketololan yang terakui. Kau harus mengakui bahwa dirimu tolol di hadapan cinta, dan itulah sumber energimu. Sesuatu yang akan membuatmu mengalir dan hidup. Seperti ketololan yang dilakukan Enric Rosquelles di novel The Skating Rink karya Roberto Bolaño. Apa yang dilakukan Enric demi cintanya kepada Nuria, seorang skater cantik yang menemukan dirinya dicampakkan dari tim Olimpiade nasional hanya karena ia seorang Catalan di tim yang dipenuhi para atlet dari Castilian? Ia tahu untuk mengembalikan Nuria ke tim nasional hanyalah dengan membuktikan kepada dunia bahwa mereka salah, bahwa Nuria sangat layak berada di sana. Untuk itu Nuria harus berlatih selama musim panas. Tapi di mana? Ia sudah dicampakkan dan tak memiliki akses atas arena skate, dan mereka tinggal di kota kecil yang juga tak memiliki fasilitas tersebut. Cinta dan ketololan, percayalah, kadang muncul dengan berbagai gagasan, membongkar segala jenis penghalang. Enric Rosquelles membangun rink skate untuk Nuria Martí, seperti Bandung Bondowoso menciptakan seribu candi untuk Roro Jongkrang, seperti Shah Jahan membangun Taj Mahal untuk mendiang isterinya, Mumtaz Mahal. Dan itu merupakan ketololan Enric. Ketololan yang membawanya ke penjara, membawa kejatuhan seorang walikota, dan bahkan membuat seorang penyanyi tua gelandangan terbunuh. Bahkan pada akhirnya, juga membuat Nuria Martí kehilangan karir untuk selama-lamanya.

Bagi saya, Roberto Bolaño merupakan penulis picaresque modern. Ia pengelana, dan seperti semua pengelana, selalu memiliki nyali untuk berkelana jauh. Kita bisa menemukan banyak aspek tradisi novel-novel picaresque di karyanya. Kita mungkin tak banyak bertemu dengan pencopet, gelandangan, bajingan, penipu, pelacur yang harus berhadapan dengan polisi korup, pastor, dan saudagar rakus. Yang akan kita temui, utamanya adalah para penulis, penyair, kritikus, seniman, yang kemudian berhadapan dengan monster-monster macam Pablo Neruda atau Octavio Paz. Tapi apa bedanya? Ia memperlakukan mereka tetap sebagai bajingan, penipu, saudagar rakus, dan gembel. Dan penipu maupun gembel, penyair maupun kritikus, di satu titik mereka akan jatuh cinta. Entah kepada siapa atau apa. Demikian pula di novel ini kita akan bertemu dengan dua penyair: Remo Morán dan Gaspar Heredia. Dua gembel dengan cara masing-masing, tapi seperti karakter dalam banyak novel Bolaño dan novel-novel picaresque, mereka adalah darah dan daging, harapan, nyali, dan satu aksi dungu ke aksi dungu lainnya. Didorong cinta kepada hidup, kepada dunia yang jembar dan pikiran yang luas. Dan mungkin rasa sedih akan hidup yang demikian fana dan singkat.

Darah dan daging yang akan melakukan sesuatu untuk yang dicintainya, seperti Enric Rosquelles dengan rink skatenya, meskipun untuk itu ia harus menghancurkan karir seorang walikota, membuat repot polisi dan dinas sosial, dan bahkan kehilangan cinta itu sendiri. Seperti air, hidup hanyalah tentang mengalir dan menggenang. Karakter-karakter di novel Bolaño adalah manusia-manusia yang bergerak, mengalir. Kadang menciptakan riam dan jeram.

9 Comments

  1. (((((((((((((((Tai))))))))))))))

  2. Mas eka kalo nulis deep banget gilak! Berat ahh, tapi lumayan nyampek maknanya.
    Ada beberapa part yg emang ngegambarin saya, misalnya kayak air yang hanya mau tergenang disitu-situ aja(saya banget). Terima kasih mas pencerahannya.

  3. Novel Bolano yg ga ngebacot soal penulis dan kesusasteraan, meski cuma jadi cameo di si Gaspar. Kalau gaya bab pendek dan multi-narator ini awalnya dari Faulkner atau ada yg lebih dulu?

    • @arip
      Disebut-sebut sebagai inovasi Faulkner, meskipun asal-usulnya bisa dilacak juga dari novel dia yang lain, juga dari tradisi monolog dan teknik arus-kesadaran.

  4. Malam Mas Eka. Saya termasuk pengagum Knut Hamsun. Kini, saya sedang menyelesaikan skripsi tentang novel Lapar. Ada satu rumusan masalah yg bikin pusing, yakni bagaimana politik, ekonomi, dan sosial secara umum di Norwegia yg melatarbelakangi novel Lapar terbit. Bisa merekomendasikan buku apa yg harus saya baca? mohon dg sangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑