Kemarin sore, saya ngobrol dengan Maman S. Mahayana. Ia akademisi, kadang orang menyebutnya juga sebagai kritikus. Ia yang saya sebut menganjurkan “kritik sastra khas Indonesia” di tulisan saya sebelumnya di jurnal ini. Saya membaca soal itu di esainya, yang bisa ditemukan di internet dengan mudah. Dalam obrolan kami (ada Linda Christanty juga di antara kami), saya mencoba menangkap gagasan besarnya mengenai hal ini. Menurutnya, kritik sastra “barat” (sejujurnya saya tak terlalu suka istilah “barat” ini) seringkali tak cocok untuk menelaah karya sastra timur. Ia bercerita tentang kesusastraan Korea, tentang cerpen-cerpen mereka, yang tampak “berbeda”. Tak ada konflik, hampir tak ada fokus, dan kegemaran untuk menyimpang (digresi), tapi tetap saja sebuah cerita (saya tak paham kesusastraan Korea, jadi tak bisa berkomentar banyak). Juga pengaruh tradisi lisan yang sangat kuat. Baiklah, sementara mencoba memahami argumen dan gagasannya, saya perlu mengungkapkan pendapat saya sedikit lebih jelas. Pertama, membedakan barat dan timur dalam dikotomi tradisi tulis dan tradisi lisan, bagi saya merupakan penyederhanaan berlebihan. Meskipun perlu diperdebatkan, novel pertama yang kita kenal selamat sampai hari ini berasal dari Jepang: Tales of Genji, dari abad ke-11. Don Quixote (dari Spanyol) saja baru muncul beberapa abad kemudian. Dan ingat: kertas ditemukan di Cina. Dan tradisi lyric di barat, jelas menunjukkan karya yang akan dinyanyikan, artinya diucapkan, bukan dituliskan. Jadi siapa pemilik tradisi tulis dan lisan? Barat atau timur? Kedua, mengenai gaya bercerita yang nyaris tanpa konflik, senang melakukan digresi (yang mungkin dipengaruhi tradisi lisan, sekadar mengobrol), benarkah merupakan “kekhasan” sastra timur? (Saya sambil mengingat Kawabata, Murakami, dan tentu saja karya-karya klasik kita). Itu juga penyederhanaan berlebihan. Sangat mudah menemukan karya-karya “barat” yang melakukan hal itu. Memangnya apa konflik di novel One Hundred Years of Solitude? Novel itu cuma menceritakan sejarah sebuah keluarga saja, kok. Dan digresi? Bahkan Jacques the Fatalist, bisa disebut novel yang sangat merayakan digresi, melantur kemana-mana. Dan bagaimana dengan Tristram Shandy? Ketiga, selalu ada jurang antara teori dan kenyataan. “Teori sastra barat” saya yakin, jika urusannya cocok atau tidak cocok, juga tak selalu cocok untuk sastra barat sendiri. Maka demikian pula, jika kita ngotot menciptakan “teori sastra timur”, atau apa pun istilahnya. Teori, bagaimanapun, alat untuk mencoba memahami subyek. Seperti kita memilih kapak untuk membelah kayu dan pisau untuk memotong tomat. Kita menciptakan teori baru, karena merasa teori lama tak lagi memadai untuk memahami subyek. Dengan premis-premis saya di atas, bukan “kritik (atau bahkan teori) sastra khas Indonesia” yang kita butuhkan, melainkan “kritik (atau teori) sastra”. Jika teori yang ada itu tak memadai, kita coba membuat teori baru. Jika masalahnya kita merasa “ilmuwan barat” gagal memahami pantun, misalnya, maka kita sodorkan cara baru untuk memahaminya. Bukan karena kita orang Indonesia dan dengan begitu mengerti lebih baik tentang pantun, tapi karena argumen kita lebih kuat. Dan jika masalahnya kita terlalu terlena mempergunakan Strukturalisme (Prancis?) untuk menelaah karya sastra (Indonesia?), kita bisa mempergunakan alat lain, kok. Itu perkara memilih kapak atau pisau, memilih melempar pakai batu atau pakai botol. Nah, dengan asumsi itu, sebelum benar-benar menciptakan sebuah teori baru, pertama-tama kita harus melakukan hal yang sangat penting: kritik atas teori. Saya percaya, tradisi menciptakan teori tentu saja harus dibangun. Ini satu tradisi yang tak sekadar milik dunia sastra: itu merupakan bagian dari tradisi berpikir. Saya tak keberatan mengenai diciptakannya teori baru. Pada dasarnya kita harus membiasakan diri berpikir. Tapi pertama-tama, kita harus kritis terhadap latar-belakangnya. Dan tradisi menciptakan teori ini, sekali lagi saya kira harus dibangun melalui tradisi kritik atas teori. Nah, sebelum benar-benar menciptakan teori baru, pernahkan kita benar-benar melakukan kritik atas Strukturalisme Prancis, misalnya? Pernah melakukan kritik atas Formalisme Rusia? Pernah melakukan kritik atas Orientalisme? Poskolonialisme? Jangan cuma memakai teori-teori yang sudah ada, tapi kritik juga teori-teori itu, siapa tahu teori-teori tersebut hanya sampah buangan saja? Itu saya rasa pertanyaan mendasar yang muncul dari perdebatan pendek ini, pertanyaan mendasar untuk tradisi berpikir kita. Dan yang paling penting: kita menciptakan teori, bukan karena kita “timur” (atau Indonesia) dan mereka “barat”, tapi karena kita merasa memiliki argumen yang lebih baik, itu saja soalnya. Dan argumen ini, tentu saja tak hanya bisa meyakinkan orang-orang Indonesia saja, tapi semestinya bisa meyakinkan orang Ghana atau Eskimo sekalipun.