Jika kamu suka membaca novel yang bisa membuatmu mual, cobalah Killing Auntie karya Andrzej Bursa ini. Kebrutalannya nyaris menyerupai adegan-adegan di film kelas B, di mana si narator mencoba memotong kaki mayat, putus asa membiarkan mayat bibinya di bak mandi selama berhari-hari, bahkan di puncak adegannya, bagaimana ia (dibantu yang lain) melemparkan potongan-potongan mayat ke binatang buas di kebun binatang. Juga jangan dilupakan bagian di mana diketahui, nenek si tokoh menggerogoti daging mayat. Sadis dan gila, tentu saja. Tapi novel ini tak hanya sekadar itu, tentu saja. Sejak bagian-bagian awal, kita sadar penulis ini, novel ini, membawa sejenis roh Dostoyevsky di dalam dirinya. Pengamatan yang telaten atas diri manusia, masyarakat yang tampak baik-baik saja di luar tapi menjadi mencekam begitu menelisik ke bagian dalam jiwa masing-masing. Humornya tersamar, sama sekali tak bermaksud melucu, tapi demikian melimpah. Andrzej Bursa merupakan penulis Polandia, dan ini merupakan satu-satunya novel yang ia terbitkan. Ia meninggal sangat muda, umur 25. Tapi itu tak menghindarkannya menjadi sejenis pujaan dalam kesusastraan Polandia, menjadi sejenis suara bagi kaum muda yang gelisah dan terkadang marah. Secara sederhana bisa dikatakan, novel ini bercerita tentang seorang anak muda (anak kuliahan), yang satu hari menggetok kepala bibinya dengan palu. Mati, tentu saja. Sepanjang cerita, dikisahkan bagaimana ia mencoba menghilangkan jejak tindakan kriminalnya, yang artinya mencoba melenyapkan mayat si bibi. Bukan perkara mudah, bahkan kemudian ia sadar, mayat merupakan lawan yang tangguh, yang sulit ditaklukan. Saya menyebut Dostoyevsky di atas, dalam rangka menyanjung yang sepantasnya untuk penulis muda ini. Ketika membacanya, kita akan sadar tengah menghadapi sejenis kegilaan. Tapi caranya bercerita, terutama di bagian awal, kita akan menemukan sebuah dunia di mana kegilaan merupakan sesuatu yang begitu wajar dan normal, sesuatu yang bisa terjadi kepada setiap orang. Seperti Dostoyevsky biasa melakukannya. Hingga kemudian kita tersadar bahwa Bursa melangkah lebih jauh. Perlahan tapi pasti, nada suara naratornya mulai berubah. Kegilaan yang awalnya tampak sebagai obyek, sebagai sesuatu yang “begitulah memang kejadiannya”, sesuatu yang pembaca lihat, tiba-tiba menjadi sesuatu yang melibatkan kita. Yang dirasakan pembaca. Di sanalah kita mulai ikut merasa bingung, ikut ketakutan (hey, kenapa dia membunuh si bibi? Kenapa dia enggak ngaku sepenuhnya saja kepada si pastor? Kalau memang mau urusannya selesai, kenapa tidak segera lapor polisi), ikut berkonspirasi dalam kejahatan (ayo, kamu kabur saja! Pikirkan cara brilian untuk melenyapkan mayat bibimu!), bahkan ikut kesal (hey, kenapa kamu ceritakan pembunuhan itu kepada pacarmu?). Perubahan nada suara ini yang menurut saya membuat novel ini menjadi terasa lebih istimewa. Bahkan di bagian akhir, perubahan itu semakin ketara. Cara naratornya bicara semakin berbeda, dan kita mulai menyadari kita tak lagi sedang menonton kegilaan, kita sedang ikut di bagian dalamnya. Sedang bicara dengan cara yang gila. Kadang saya berpikir, dunia membutuhkan lebih banyak novel sinting seperti ini. Tapi, bukankah novel yang cemerlang menjadi menarik justru karena novel semacam itu memang tak banyak dihasilkan? Penulis seperti Andrzej Bursa, saya pikir hanya perlu menulis satu novel sepanjang hidupnya (ya, dia tak mungkin menulis karya lainnya), tapi itu cukup untuk meninggalkan bayangan yang panjang.