Apa yang membuat Shakespeare terus dibaca, setidaknya terus disebut namanya? Kita tahu, ia memberdayakan bahasa Inggris dengan penuh gaya. Bahasa yang oleh para ilmuwan dan filsuf seringkali dianggap tak memadai (Francis Bacon lebih senang karya-karyanya diterjemahkan ke Latin), di tangan Shakespeare bahasa tersebut seolah menegaskan bahwa bahasa secara umum memang dilahirkan untuk para penyair (dan bukan untuk para filsuf). Borges menunjukkan salah satu kualitas bahasa Shakespeare adalah kecemerlangannya dalam memadukan akar Saxon (bahasa yang dianggap diciptakan para petani dan nelayan) dengan akar Latin (yang dianggap intelek) dalam bahasa Inggris menjadi bahasa pentas (baiklah, saya menulis jurnal ini gara-gara esai Borges berjudul “The Enigma of Shakespeare”, sebuah penelusuran gaya detektif mengenai benarkah karya-karya Shakespeare ditulis oleh Shakespeare “yang itu”?). Di luar perkara bahasa, saya rasa hal paling menarik dari karya-karya Shakespeare adalah karakter-karakternya. Saya lupa siapa yang mengatakan bahwa, kita bisa menemukan semua jenis karakter di karya-karya Shakespeare. Seolah-olah karya-karya itu, jika disatukan (seperti dalam Complete Works keluaran Royal Shakespeare Company yang saya pegang) merupakan ensiklopedia karakter manusia. Selain karena karyanya lumayan banyak (seringkali dikategorisasikan sebagai karya komedi, tragedi dan sejarah), hal penting dari klaim ensiklopedik ini terutama karena Shakespeare sangat memerhatikan semua karakter. Tak hanya karakter utama (Hamlet, Macbeth, Romeo, Juliet, King Lear, dan lainnya), tapi juga karakter-karakter minor yang bagi penulis lain barangkali hanya akan diperlakukan sebagai figuran yang numpang lewat saja. Tidak untuk Shakespeare. Untuknya, disebut minor hanya ditandai penampilannya yang sedikit, beberapa adegan atau beberapa halaman, tapi di luar itu mereka tetap karakter dengan beragam watak-wataknya, tak kalah penting dengan para tokoh utama. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian. Perhatikan misalnya tiga penyihir di Macbeth. Mereka selalu muncul bersamaan, dan seringkali bicara bersamaan. Sekilas dengan perlakuan semacam itu, ketiga penyihir seperti tri-tunggal: tiga orang tapi sebenarnya satu saja. Meskipun begitu, jika kita memerhatikan dialog-dialog mereka, kita bisa merasakan karakter ketiganya yang berbeda satu sama lain. Setidaknya, penyihir pertama selalu merupakan sosok yang bertanya. Ia seperti mewakili kepribadian yang gelisah, yang mendobrak. Kekacauan. Penyihir kedua, akan muncul sebagai pemberi jawaban. Sosok reaktif, perlambang konflik, dan dengan paradoks juga ketertiban. Sosok ketiga, seolah menyempurnakan dialektik di antara mereka, senantiasa muncul sebagai penengah, atau lebih tepatnya sebagai sosok bijak pembuat keputusan. Di atas kekacauan dan ketertiban. Saya membayangkan penyihir ketiga ini sebagai pemikir. Ia bicara di atas masalah dan konflik. Ia merupakan sosok yang mengatakan baris terkenal, “Fair is foul, and foul is fair.” Kita bisa menemukan contoh-contoh karakter minor lainnya di karya-karyanya yang lain. Satu hal yang jelas, bagi Shakespeare, karakter merupakan elemen terpenting yang membangun cerita-ceritanya. Setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan dan lain sebagainya (dan Shakespeare kadang hanya perlu membangun watak ini dalam beberapa baris dialog, karena pendeknya peran karakter-karakter minor ini). Meskipun karya-karyanya memiliki latar belakang yang beragam (baik waktu maupun tempat), keberagaman terpenting ada pada watak-watak karakternya. Dalam karya-karya sejarahnya, misal, waktu menjadi sesuatu yang tak penting-penting amat, sebab pada akhirnya watak manusialah yang utama dalam dunia Shakespeare. Dan watak manusia pulalah yang kita temui, apakah cerita tersebut berada di Verona atau Venice atau di tempat lain. Bagi saya, itulah kebiadaban Shakespeare yang mestinya paling mengintimidasi setiap penulis. Yang memberi mimpi buruk setiap kali membacanya.