Bisakah kita menceritakan sesuatu apa adanya? Tidak bisa, kata Jacques. Sebab seorang pencerita memiliki personalitas, sudut pandang, standar dan hasratnya sendiri. Karya yang besar, tetap terasa berdering, bahkan tetap terasa mengganggu, bertahun-tahun, bahkan puluhan hingga ratusan tahun kemudian. Ini berlaku untuk novel sejenis Jacques the Fatalist (1780), karya penulis Prancis Denis Diderot (jika Anda lupa siapa penulis ini, Diderot merupakan salah satu yang mengawali pembuatan ensiklopedia). Awalnya terasa seperti parodi Don Quixote dimana seorang tuan pergi berkelana diiringi pelayannya. Bedanya, jika di Don Quixote yang menjadi tokoh utama dengan segala kegilaannya adalah sang tuan, di novel ini, si pelayanlah (Jacques) yang mengambil alih peran itu. Novel ini didasari satu pertanyaan besar, yang saya pikir masih terus menghantui bahkan manusia-manusia modern (baik filsuf maupun orang awam, para pendosa maupun orang saleh): apa jadinya kehidupan kita jika segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi sebenarnya sudah tercatat di atas sana oleh Dia-yang-Mengarang? Kita hanya aktor-aktor yang menjalankan kehendak Dia-yang-Mengarang? Apakah manusia masih memiliki “kehendak bebas”? Adakah masa depan? Jacques, atas pengaruh Sang Kapten ketika ia masih bertugas sebagai prajurit, memiliki keyakinan filosofis semacam itu, bahwa segala sesuatu sebenarnya sudah tercatat di atas sana. Jika mereka dirampok, menurutnya karena mereka memang sudah ditakdirkan akan dirampok, bukan karena pintu losmen tidak dikunci. Jika ia sedih karena barang-barang tuannya dirampok, ya karena di catatan langit ia sudah ditakdirkan untuk sedih. Seperti Sancho Panza yang harus menjadi kontras bagi kegilaan Don Quixote, Sang Tuan cenderung pragmatis tapi juga tak berdaya menghadapi argumen dan keyakinan filosofis Jacques. Saya membandingkannya dengan Don Quixote bukan tanpa sebab. Novel ini bisa juga dilihat sebagai jawaban atas novel Cervantes mengenai tema yang sangat penting: membaca. Ya, kedua novel sebenarnya bercerita tentang manusia-manusia yang “membaca”, dengan cara yang sangat berbeda satu sama lain. Jika dalam Don Quixote kita melihat “membaca” sebagai tindakan memilih, di Jacques “membaca” merupakan tindakan menyerah (terhadap takdir). Di novel Cervantes, kita berhadapan dengan orang gila yang terpengaruh oleh bacaan-bacaannya, terutama oleh novel-novel keksatriaan. Ia mencoba menafsirkan bacaan-bacaan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupannya, dalam petualangannya. Di Jacques, kita berhadapan dengan filsuf yang tak hanya terpengaruh, tapi yakin bahwa hidupnya merupakan tafsir langsung atas “bacaan” yang ditulis di langit. Sebenarnya salah membayangkan dunia Jacques dengan mengatakan manusia, kita, sebagai aktor-aktor yang memerankan kisah yang ditulis di langit. Juga keliru membayangkan Don Quixote menempatkan diri sebagai aktor, yang memerankan ksatria rekaannya. Ia tampak mencoba meniru, dalam keyakinannya sebenarnya “menjadi”, kstaria-ksatria yang diteketahuinya melalui novel-novel bacaannya, dan dengan cara itulah ia tak bisa disebut aktor, sebab ia merasa dirinya ksatria yang hidup dalam dongeng itu sendiri. Di dunia Jacques, juga tak ada aktor: kita, manusia, adalah penjelmaan kata-kata itu sendiri. Ia bahkan bukan tafsir. Ini menarik. Meskipun kedua tokoh di kedua novel melihat hidup dengan cara yang sedikit berbeda, mereka tiba di sifat fatalis yang hampir sama: keyakinan bahwa hidup hanyalah penjelmaan kata-kata. Yang satu kata-kata dari langit, yang lain kata-kata dari novel-novel yang di tingkat tertentu, juga diyakini kebenarannya. Lantas, jika segalanya telah tercatat, masih perlukah kita berpikir dan memimpikan kehidupan? Ah, bahkan keragu-raguan mengenai hal ini pun, Jacques akan berkata, sudah tercatat di langit. Untuk apa kita berbuat baik jika di catatan langit ujung-ujungnya kita masuk neraka? Tidak untuk apa-apa, suka-suka yang membuat cerita, dong. Satu hal ingin saya catat mengenai novel ini: ia merupakan seni melipir yang sangat tinggi, perayaan atas digresi, sebab barangkali memang sesuai dengan niat filosofisnya. Mari kita bayangkan catatan di langit tersebut, dengan gaya seperti apa Dia Yang Mahapengarang menuliskannya? Entahlah. Satu-satunya yang pasti, hidup kita merupakan sekumpulan digresi, cecabang plot yang lebih banyak tak pentingnya daripada penting, dan kita tak tahu seperti apa ujungnya. Seperti perjalanan Jacques dan tuannya, yang tanpa arah itu, kita tetap mengikutinya, meskipun kita tak tahu kemana arah tujuan mereka. Bukankah tujuan hidup manusia juga terasa samar-samar? Bahkan meskipun ujungnya tak menarik, kita tetap menunggunya. Hanya karena kita ingin tahu, dan perasaan ingin tahu ini pun, sialnya, telah tercatat juga jauh di atas sana.