“Gagasan sebagai bangsa serumpun antara Indonesia dan Malaysia (yang disebut rumpun Melayu), pada dasarnya merupakan sesuatu yang dikonstruksi,” itu yang saya katakan dalam satu sesi perbincangan (perbualan, kata orang Malaysia), di hari terakhir Cooler Lumpur Festival, Kuala Lumpur 20-22 Juni 2014. Acara “Eka Kurniawan in Conversation with Ahmad Fuad Rahmat”. Ahmad Fuad Rahmat merupakan salah seorang intelektual publik Malaysia, juga penyiar radio yang terutama sering membicarakan masalah-masalah filsafat dalam konteks kekinian. Tentu saja saya tak ingin mengingkari bahwa ada sejenis ikatan antara Indonesia dan Malaysia, misalnya dalam hal bahasa dan secara umum kebudayaan. Tapi kita juga tak bisa mengelak bahwa gagasan mengenai bangsa serumpun ini memiliki implikasi politis, dan itulah kenapa saya mengatakan gagasan tersebut dikonstruksi. Diciptakan dengan maksud tertentu. Jika maksud itu merupakan sesuatu yang baik, katakanlah untuk menciptakan persahabatan yang elok antar kedua negara, menciptakan perdamaian, menghindarkan konflik yang tak perlu, tentu saja ini perlu didukung. Tak ada yang salah dengan hal ini. Tapi dalam konteks Indonesia (mungkin juga Malaysia), kadang-kadang konstruksi ini membahayakan dan tak patut. Membayangkan Indonesia (dan Malaysia) sebagai satu rumpun merupakan suatu penyederhanaan yang berlebihan, dan inflikasinya seringkali brutal dan menyedihkan. Hal paling mudah tentu saja bisa kita lihat kenyataan di Indonesia Timur: semua orang dengan mudah bisa sepakat bahwa orang Maluku dan Papua tak ada urusannya dengan rumpun Melayu. Menyamaratakan wilayah ini dalam satu “bangsa serumpun”, artinya menihilkan berbagai ekspresi-ekspresi budaya yang berbeda-beda, demi sebuah kesamaan dan kesatuan yang semu. Dan sekali lagi, obsesi untuk melihat wilayah geo-politik ini sebagai suatu bangsa serumpun, sebagai satu kesatuan yang seolah-olah sewarna, bisa dan telah mengakibatkan banyak konflik-konflik brutal. Obsesi agama tunggal yang paling benar, sebagai contoh. Percakapan kami tak hanya itu, tentu saja. Meskipun festival ini menghadirkan sesi-sesi acara yang pendek, hanya satu jam, tapi setiap sesi hadir dengan pembicaraan yang intensif dan fokus. Itu satu hal yang saya rasa perlu ditiru di Jakarta (atau kota-kota lain di Indonesia yang mengadakan acara yang sama). Hingga kami sampai pada satu gagasan utama saya mengenai kemungkinan kesusastraan Indonesia bisa hadir secara luas di Malaysia, dalam Bahasa Indonesia; dan kesusastraan Malaysia hadir secara luas di Indonesia, dalam Bahasa Malaysia. Saya percaya, hanya dengan cara itu kedua tradisi kesusastraan akan memperoleh untung yang berlipat-lipat, tak hanya soal pertukaran (dan barangkali standarisasi) bahasa, tapi juga perjumpaan kebudayaan yang berada pada tingkat pemikiran dan perjumpaan gagasan. Obrolan kami, karena memang sesinya singkat, berlanjut di luar. Bahkan kemudian di restoran (karena ada wartawan yang tertarik isu ini dan ingin mengulang pembicaraan tersebut untuk artikel di korannya). Seorang penulis muda Malaysia mengeluhkan kondisi kesusastraan negaranya. Bahwa penulis-penulis senior (apakah yang ia maksud para Sastrawan Negara? Hehehe), tak mau banyak menengok ke karya-karya penulis muda ini. “Percayalah,” kata saya, “Itu terjadi di mana-mana. Untuk orangtua yang menuntut generasi muda menghormati mereka tanpa mau bersikap selayaknya orangtua kepada anak muda, kita tak perlu banyak menghiraukan.” Di Indonesia, saya yakin dalam titik tertentu hal ini juga terjadi. Saya punya jalan keluar sederhana: ciptakan karya sebaik mungkin, setinggi dan sebesar mungkin, sehingga siapa pun (termasuk orangtua yang membutakan diri), tak mungkin tidak melihatnya. Seperti hampir tak mungkin tak melihat Eiffel selama di Paris. Jika karyamu telah menarik perhatian orang di mana-mana, kau tak perlu mencemaskan orang-orang yang membutakan diri ini. Saya berharap masa depan yang cemerlang untuk generasi baru penulis Indonesia maupun Malaysia.