Melarang orang berkunjung ke Filipina karena ledakan bom di Moro, sama saja dengan melarang orang piknik ke Disneyland karena KKK bikin ulah di Alabama. Saya tersenyum membaca baris-baris kalimat semacam itu di novel Ilustrado karya Miguel Syjuco. Saya mengambil stabilo dan dengan riang mencorat-coret buku itu di kalimat-kalimat yang menarik hati saya. “Jatuh cinta,” kata Syjuco di tempat lain, “tak lain tentang membuat rencana-rencana.” Di tempat lain ia menulis, “Menjadi politikus, aku akan menjadi korup karena terpaksa harus kompromi, atau aku akan mati karena mempertahankan idealisme.” Tentu saja tujuan membaca buku, terutama novel, bukanlah untuk menemukan pesan-pesan pendek yang “layak-kutip”, tapi selalu menyenangkan menemukan baris-baris semacam itu di tengah-tengah sejilid buku. Selama beberapa bulan terakhir, saya mencoba memegang janji untuk membaca karya-karya sastra dari penulis “muda”, yakni penulis yang lahir tahun 50-an hingga kemari, serta jika memungkinkan, juga membaca penulis-penulis dari Asia, lebih khusus lagi Asia Tenggara. Janji pertama tampaknya tak terlalu sulit untuk dipenuhi, tapi janji untuk membaca penulis-penulis dari negara-negara tetangga tampaknya bakal berat. Asia Tenggara, kita tahu meskipun berbagi kebudayaan yang kurang-lebih sama, sosial-politik dan pengalaman kolonial yang kurang-lebih sama, sialnya terpecah-pecah dalam berbahasa. Satu-satunya harapan, tentu membaca dalam bentuk terjemahan, yang juga sialnya, tak banyak karya sastra dari wilayah ini diterjemahkan. Di antara yang sedikit itu, kita cukup beruntung menemukan Ilustrado (bukan terjemahan, ditulis dalam Bahasa Inggris), yang disebut-sebut (di dalam novel itu sendiri) tentang pengalaman pascakolonial dan pasca-pascakolonial. Bercerita tentang seorang penulis Filipina Crispin Salvador yang mayatnya ditemukan di Sungai Hudson sebagai kisah mengenai pengalaman pascakolonial, dan cerita tentang si aku (Miguel Syjuco) yang kembali ke Filipina untuk menulis biografi sang penulis, sebagai kisah pengalaman pasca-pascakolonial. Si aku ini, saya rasa ia lahir di tahun 70an, mengingat referensi budaya yang disebut-sebutnya (ia mendengarkan New Kids on the Block, berkomentar tentang Curt Cobain, dll). Novel ini memperoleh Asian Literary Prize tahun 2008 lalu, satu penghargaan yang belakangan pamornya naik untuk para penulis Asia, dengan beberapa nama lain pernah memenanginya: Su Tong, Jiang Rong (keduanya dari China), serta tahun ini dimenangi oleh Tan Twan Eng, seorang penulis Malaysia. Mengisahkan dua generasi intelektual dan situasi politik yang melingkupinya, Ilustrado mengambil cara yang saya pikir brilian. Ketika ia bicara tentang Crispin Salvador, novel ini muncul dalam bentuk potongan-potongan kliping karya-karya Salvador, wawancara, dan tentu saja dari “biography in progress” yang sedang ditulis Syjuco. Sisanya, si aku menceritakan perjalanan dirinya menelusuri segala hal mengenai Salvador, karya terakhirnya yang misterius, serta kisah mengenai keluarganya. Juga ada potongan-potongan dari blog serta papan-pesan. Selain dihubungkan oleh hubungan penulis biografi dan subyek yang ditulisnya, kedua generasi juga dihubungkan oleh latar belakang keduanya yang kurang-lebih sama. Baik Salvador maupun si aku berasal dari keluarga “politikus”, maka dengan satu dan lain cara, kita juga seperti melihat novel ini sebagai biografi politik Filipina. Sedikit bedanya, jika Salvador, selain minat intelektualnya sebagai penulis, ia juga sesekali menjadi komentator politik, si aku mencoba menghindari dirinya dari dunia itu meskipun keluarganya sangat berharap ia mengikuti jejak mereka, terutama ketika pada umur tujuh belas tahun ia menghamili pacarnya. Membaca Ilustrado, saya menjadi sedikit yakin. Beberapa tahun ke depan, kita akan melihat penulis-penulis hebat dari kawasan ini. Mereka akan menulis diri mereka sendiri. Mungkin bukan hal-hal indah dan baik tentang negeri mereka, seperti ditanyakan oleh nenek si aku, “Kenapa kamu tidak menulis hal yang menyenangkan? Kenapa kamu tidak menulis yang bikin orang membaca karyamu dan ingin mengunjungi negaramu?” Si aku menjawab, “Seorang penulis harus mengatakan hal-hal yang tak terkatakan.” Seolah-olah hendak mengatakan: jika niatnya untuk mendatangkan turis, kita tak perlu menulis sastra, kita bisa membuat brosur pariwisata saja.