Seperti saya telah tulis sebelumnya, atas undangan British Council saat ini saya tengah mengikuti Cooler Lumpur Festival, di Kuala Lumpur. Karena sedikit kecerobohan, saya hampir melewatkan satu program di mana saya mestinya membacakan sebuah karya. Untunglah saya menemukan satu terjemahan “Kutukan Dapur” (festival ini hampir seluruhnya dalam Bahasa Inggris) di blog dan bisa membacanya melalu telepon genggam. Setelah itu, bersama Miguel Syjuco (jika ada yang masih ingat, tahun lalu saya menulis tentang novelnya, Ilustrado, di jurnal ini) dan Adam Foulds bicara mengenai identitas di satu panel. Saya ingin sedikit membagi pandangan saya mengenai hal itu di sini, beberapa saya tulis ulang dari apa yang saya bicarakan di acara tersebut, dan sebagian saya tambahkan di sini. Kita sadar dalam banyak hal, dengan dunia yang semakin terbuka dan jejaring (terutama internet) menghubungkan komunitas budaya satu dan yang lainnya, dalam banyak hal kita merupakan konsumen budaya. Ini tentu saja pada akhirnya membentuk apa yang barangkali bisa disebut sebagai identitas budaya. Tapi saya rasa itu tak hanya terjadi di kita (Indonesia), tapi juga terjadi di mana-mana. Saya ingin memberi dua contoh yang tak ada hubungannya dengan sastra (minat utama saya): di dunia yang terhubung satu sama lain, dengan klub maupun tim nasionalnya masing-masing, orang di seluruh dunia menonton liga sepakbola Eropa. Kita semua merupakan konsumen liga-liga Eropa. Bahkan bisa dikatakan, fans liga Eropa sebagian besar berada di luar Eropa sendiri. Sebagai contoh: Liga Spanyol, menurut laman fans klub Barcelona di Facebook, penggemar Barcelona terbesar berada di Indonesia. Contoh lain, tengok musik apa yang didengar para remaja di Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura, bahkan Tokyo dan Shanghai? Saya hampir yakin generasi belia ini sama mendengarkan musik yang kita sebut sebagai K-Pop, dengan nama-nama seperti Super Junior dan Girls’ Generation. Menurut saya, sepakbola Spanyol dan musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang. Mereka sadar, “identitas” yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, bisa menjadi semacam “brand”. Jadi apa itu identitas? Saya sebenarnya lebih membayangkannya sebagai sebuah piksel dari gambar raksasa. Titik piksel ini tentu saja kecil saja, tapi karena kita tak akan pernah mampu mengenali gambar raksasa, kita lebih banyak mengenali sesuatu melalui piksel-piksel ini. Seperti kita hanya mengingat seorang teman karena potongan rambutnya, atau aksen bicaranya. Identitas merupakan cara kita mengenali yang lain, dan bagaimana yang lain mengenali kita. Dengan kesadaran semacam itu, identitas bisa diciptakan, dan di sisi lain dipertahankan bahkan seringkali dengan cara brutal seolah tanpa itu kita kehilangan diri kita. Kita bisa mengambil sesuatu dari yang lain, mengakuinya sebagai milik sendiri dan menjadi sejenis identitas, sebelum kehilangan. Lihat sepakbola Spanyol (atau Barcelona) yang dikenal sebagai tiki-taka. Semua penggemar sepakbola tahu mereka mengambilnya dari sepakbola Belanda. Selama beberapa tahun terakhir, mereka memeliharanya dan menjadikannya sejenis identitas sepakbola mereka, dan beberapa malam lalu, Belanda kembali merampasnya seolah berkata, “Sepakbola seperti itu milik kami!” Dan apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan ketika tampil di panggung, kareografi dirancang oleh seniman Jepang. Tapi kita dengan sederhana menyebutnya sebagai “musik pop Korea”. Jika ada yang bertanya kepada saya apa yang saya ketahui tentang Spanyol, barangkali saya akan mengingat Cervantes, atau novel-novel Javier Marías dan Enrique Vila-Matas. Tapi penggemar sepakbola barangkali akan mengingat Spanyol dengan nama-nama seperti Andres Iniesta, atau Xavi. Atau penggemar balap akan mengingat Marc Marquez, manusia tercepat yang menunggangi motor Honda. Apa yang saya ingat dengan Korea? Karena saya tak banyak mengenal kesusastraan mereka, apa boleh buat, identitas Korea di benak saya dibangun oleh gadis-gadis cantik anggota Girls’ Generation. Sekali lagi, mereka sadar “identitas” budaya tersebut bisa dijual, dan kita di mana-mana menjadi konsumen kebudayaan ini. Salahkah menjadi konsumen? Apakah menjadi konsumen kebudayaan bisa mengikis identitas kebudayaan sendiri? Menurut saya, identitas bisa muncul dari mana saja, diciptakan maupun tidak. Tapi jika kita berharap memiliki identitas budaya yang baik, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan kecuali menjadi produktif. Menjadi pencipta yang aktif. Bukan hal memalukan menjadi konsumen, yang memalukan adalah jika kita tidak memproduksi apa pun. Seperti kata para leluhur kita di tahun 45-an, “Kita ahli waris kebudayaan dunia”, tapi sekali lagi, jangan lupa untuk mewariskan sesuatu juga kepada dunia.