Eka Kurniawan

Journal

Honeymoon, Patrick Modiano

Seperti saya tulis dalam satu esai dua minggu lalu, banyak orang bertanya “Siapa dia?” ketika Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan 2014. Saya tak akan membahas lagi soal kenapa namanya tak dikenal di “dunia”, lebih tepatnya di dunia anglophone (dan negara-negara yang terpengaruh olehnya). Saya hanya akan bercerita, betapa beberapa teman saya tak hanya bergumam “Siapa dia?”, tapi juga kesal karena jagoannya tidak menang. Terlepas dari nama-nama populer yang beberapa di antaranya layak untuk menang, saya justru selalu senang jika Nobel memilih nama-nama yang asing. Bagi saya itu artinya satu: rekomendasi bacaan baru, petualangan baru. Demikianlah, ketika nama Patrick Modiano muncul, saya memutuskan untuk setidaknya membaca satu bukunya. Barangkali karena judulnya menarik, saya memilih buku ini. Honeymoon. Di luar yang saya duga, prosanya sangat enak dibaca. Tak hanya enak, tapi juga mudah. Yang menyulitkan barangkali lompatan-lompatan waktunya yang bergerak cepat, ke depan, ke belakang. Tapi saya yakin, pembaca yang terbiasa membaca dengan konsentrasi tak akan kesulitan soal ini, apalagi bukunya hanya 120 halaman. Itu membuat saya semakin bingung, kenapa dia tidak begitu populer di Amerika (buku-bukunya konon numpuk di gudang penerbit bertahun-tahun, tak laku, tapi saya yakin hal ini pasti berubah setelah kemenangannya). Tapi baiklah, selera orang beda-beda. Tak usah bicara Amerika, menerjemahkan Modiano di Indonesia hari ini pun belum tentu laris seperti kacang goreng (mudah-mudahan saya salah). Baiklah, mengenai waktu dalam novel ini, saya rasa itu merupakan serabut yang mengasyikkan. Ia tak hanya menjadi penanda peristiwa-peristiwa yang berbeda, tapi bahkan menjadi semacam lanskap. Honeymoon merupakan dua kisah paralel mengenai Jean (si aku narator), yang memutuskan lari dari isterinya (yang selingkuh dengan teman mereka, dan kemudian belakangan juga ia tahu, selingkuh pula dengan kolega mereka yang lebih muda). Tapi perselingkuhan itu bukan motif utama pelariannya (bagaimanapun Jean sudah tahu itu lama), ia menghilang (dengan harapan dianggap mati) untuk menulis biografi seorang perempuan bernama Ingrid. Keputusannya ini dipicu oleh satu peristiwa ketika mengunjungi Milan dan dari seorang pelayan bar memperoleh cerita tentang perempuan yang bunuh diri. Ia mengenal perempuan itu, Ingrid, sebab satu hari ketika Jean masih berumur 20 tahun, Ingrid dan suaminya pernah memberi Jean tumpangan mobil. Kisah mengenai Ingrid merupakan kisah kedua dari novel ini. Cara Modiano membuat kedua kisah ini berlari sejajar sangatlah unik. Ketika Jean mengenang masa-masa umur 20annya, ia juga bisa lari ke masa-masa Ingrid berumur sekitar itu. Bahkan cara ini ia sudah lakukan sejak pembukaan novel ketika Jean masih di Milan, berjalan sepanjang trotoar, naik taksi. Ia membayangkan (ya, meskipun hanya membayangkan), di waktu yang berbeda Ingrid melakukan hal yang sama sebelum memutuskan mengambil nyawanya. “Kami sedang bulan madu”, kata suami Ingrid, di waktu yang lain. Saat itu masih perang. Mereka mengungsi di sebuah hotel yang disebut dengan kode “perfumed getho” oleh mata-mata. Mereka masih akhir belasan tahun. “Bulan madu” itu sebenarnya pelarian. Dan seolah untuk memahami pelarian itulah, saya kira, bertahun-tahun kemudian Jean juga harus melakukan pelarian, dari hidupnya, dari pekerjaannya, dari keluarganya. “Di atas segalanya, ini masalah kebutuhan untuk melarikan diri,” tulis Modiano di bagian awal novel, dan menambahkan di bagian lain, “Terlepas dari segala hal.” Novel yang sedih sebenarnya, bagaimana perang (juga kehidupan masa damai), bisa mendorong manusia ke kesepian yang mendalam dan tak melihat apa lagi guna dunia dan kehidupan. Ditulis dengan bahasa sederhana (nyaris tanpa ornamen, pun jejalan metafor), penuh adegan yang tidak sederhana, di mana adegan-adegan tertentu seperti cermin, bahkan pendar adegan lain di waktu yang lain. Saya yakin, buku-bukunya sangat layak keluar dari gudang, dan menemui pembacanya.

1 Comment

  1. Selalu yang jadi pemenang di luar perkiraan banyak orang ya? Jadi penasaran dengan Murakami. Sejak 2008 nama dia sudah muncul. Tapi selalu gugur di akhir… Se oga diskusi tgl 28 di Resto Jumpa Lagi berjalan gayeng, Mas Eka…

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑