The Iliad adalah kemarahan, sementara The Odyssey adalah perjalanan. Yang pertama ditulis konon ketika ia di puncak kematangannya sebagai penyair, yang kedua ditulis di masa ketika ia lebih tua, yang barangkali artinya ia jauh lebih bijak. Saya tak tahu mana kualitas terbaik yang harus dimiliki seorang penulis: kemarahan atau kebijaksanaan. Kisah kemarahan Achilles di The Iliad merupakan salah satu yang menurut saya paling mengerikan. Ada beberapa “kemarahan” di kisah-kisah yang saya baca, yang terus mengganggu saya (dan mungkin banyak pembaca). Kemarahan Sethe di Beloved Toni Morrison, ketika ia membunuh anaknya, merupakan salah satu yang terus menghantui pikiran saya. Di novel Knut Hamsun, Pan, saya teringat kemarahan Letnan Thomas Glahn yang menembak mati anjingnya sendiri, Aesop. Bangkai si anjing ia kirim ke rumah Edvarda, gadis yang menghancurkan hatinya. Dan jangan dilupakan kemarahan Kapten Ahab terhadap paus raksasa yang memutus kakinya, di novel Moby-Dick. Meskipun begitu, kemarahan Achilles kepada Hector saya rasa tak ada tandingannya. Di buku kedua puluh dua puisi epik ini, setelah Achiles mengalahkan Hector (yang membunuh Patroclus, sahabat Achilles) dalam pertempuran, Achilles menyeret mayat Hector di tanah berdebu. “So his whole head was dragged down in the dust, and now his mother began to tear her hair …” (kutipan dari terjemahan Robert Fagles, sang jenius Homer menderetkan dua baris, dua adegan di dua tempat yang berbeda, untuk memperlihatkan rasa marah di satu sisi, dan rasa perih di sisi lainnya). Perang Troya sendiri, yang merupakan panggung utama The Iliad, lahir dari satu kemarahan setelah Paris dari Troy menculik Helena, memancing amarah orang-orang Achaea. Pasukan Achaea yang dipimpin oleh Agamemnon (kakak Menelaus, suami Helena) pun melancarkan perang atas Troya, dan Achilles dengan kemarahannya menjadi roh penting dari perang bertahun-tahun ini. Menurut tradisi, The Odyssey ditulis Homer setelah The Iliad, bahkan banyak yang yakin itu ditulis di masa tuanya. Kisah yang meliputi The Odyssey pun, pada dasarnya merupakan “sekuel” dari The Iliad, yakni perjalanan Odysseus (atau Ulysses dalam tradisi Latin, salah satu komandan pasukan Achaea) seusai perang Troya, pulang ke rumahnya di Ithaca. Perjalanan ini merupakan “perang” tersendiri, dan meliputi waktu bertahun-tahun yang sama lamanya dengan perang Troya. Perjalanan, saya rasa merupakan tema klasik dalam banyak literatur, tak hanya di Barat (tempat The Odyssey memberi pengaruh yang sangat luas terhadap kesusastraan klasik maupun modern), tapi juga di Timur. Journey to the West, salah satu kanon klasik Cina yang mengisahkan perjalanan Sun Gokong dan pendeta Buddha ke Barat (India) untuk memperoleh kitab, juga merupakan kisah perjalanan. Demikian pula dalam novel-novel kontemporer, dengan mudah kita bisa menemukannya: tahun lalu saya membaca Traveller of the Century karya Andrés Neuman. Meskipun merupakan novel gagasan, novel itu berkisah mengenai satu perjalanan (dan perhentian). Seperti ditulis dalam pembukaan The Odyssey, kisah perjalanan menurut saya selalu merupakan “Many cities of men he saw and learn their mind” (juga terjemahan Robert Fagles). Kisah perjalanan pada dasarnya merupakan kisah gagasan, kisah memperoleh kebijaksanaan. Tentu saja ada pertarungan, ada drama: istri Odysseus, Penelope yang menunggu kepulangannya, dirongrong ratusan pemuda yang menginginkan dirinya menjadi istri. Tapi yang terpenting, membaca The Odyssey sering membuat saya yakin, perjalanan paling panjang dan menderitakan, adalah perjalanan pulang ke rumah. Pelampiasan dendam Achilles pada akhirnya membawanya kepada kematiannya sendiri. The Iliad seperti mengatakan bahwa pertarungan merupakan perjalanan yang pendek. Singkat dan ringkas. Sementara itu, The Odyssey seperti bilang perjalanan dan petualangan merupakan kemarahan yang panjang, dendam yang berlarut-larut.