Eka Kurniawan

Journal

Hal-hal yang Sulit Dituliskan

Semalam saya ngobrol dengan seorang sutradara, kebanyakan perkara teknis mengenai produksi film. Obrolan kami sampai kepada tema mengenai adegan-adegan yang menurutnya sulit untuk diambil gambarnya (maksudnya, sulit untuk dibikin menarik, setidaknya sampai ke atas standar dia). Menurut teman saya ini, adegan di meja makan merupakan adegan yang paling sulit, dan ia sering frustasi jika menghadapi adegan tersebut. Bagaimana tidak? Di meja makan, orang cenderung diam, percakapan pun biasanya terbatas, dan peletakan kamera juga tak terlalu menguntungkan. Hal yang sama juga terjadi di meja judi kartu (ia memberi contoh serial James Bond di Casino Royale). Saya yakin setiap seniman pasti memiliki aspek-aspek tertentu dalam bidangnya, yang dia anggap sulit dan memberi tantangan berlebih. Saya jadi ingat kepada pekerjaan menulis saya, dan hal-hal yang menurut saya sulit dilakukan (oleh saya). Dulu saya beranggapan menulis percakapan merupakan hal yang paling sulit. Saya selalu merasa, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak diciptakan untuk percakapan. Ini bahasa untuk dituliskan. Novel pertama saya dibangun dengan kesadaran bahwa bagian percakapan sebaiknya tidak terlalu banyak. Struktur utama novel itu (Cantik Itu Luka) dibangun oleh narasi, diselingi adegan dan deskripsi, dan percakapan memperoleh porsi yang lebih kecil. Kebanyakan percakapan merupakan konfirmasi tokoh-tokohnya untuk narasi atau adegan, lain kali lebih banyak befungsi sebagai punch-line (“kalimat tonjokan”?) untuk menciptakan humor, ironi, atau membuat pernyataan. Di novel kedua (Lelaki Harimau), saya mengambil sikap yang lebih ekstrem: saya nyaris menghilangkan percakapan. Tentu saja masih ada percakapan di sana, tapi bisa dibilang sangat sedikit. Novel itu hampir sepenuhnya dibangun oleh narasi, dengan sedikit selingan adegan dan deskripsi. Tentu saja jika ada yang bertanya kenapa di kedua novel itu jarang ada percakapan, tentu saya akan menjawab mereka memang didesain dengan cara seperti itu. Tapi bagi saya ini sangat menggelisahkan. Saya tak bisa membiarkan kesulitan saya menuliskan percakapan membuat saya “terpaksa” menulis novel dengan cara seperti yang telah saya lakukan. Selama bertahun-tahun saya melatih diri untuk bisa menulis cerita, terutama yang bertumpu pada percakapan. Hal pertama yang ingin saya taklukkan adalah: bahasa Indonesia harus terasa enak dalam percakapan. Saya ingin mementahkan asumsi awal di kepala saya. Saya mencoba mendengarkan bagaimana orang bicara, mencoba mencatatnya. Saya menonton film Indonesia (kebanyakan gagal membuat saya senang, jika percakapannya tidak terasa kaku, biasanya kelewat encer). Saya mencoba menulis cerpen dengan percakapan yang padat. Tidak mudah. Selain tak terbiasa, saya juga menuntut bahwa percakapan seharusnya berfungsi ganda (atau lebih): tak hanya sekadar percakapan, ia juga sebaiknya mengantarkan narasi, menyisipkan deskripsi, bahkan jika mungkin mengasumsikan adegan. Saya ingin melawan ketakutan dan ketidakmampuan diri dengan memberi tantangan: novel ketiga sebaiknya dibangun oleh sebagian besar percakapan dan adegan. Itu yang kemudian saya lakukan di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jika ada hal yang membuat saya bahagia dengan novel itu, salah satunya tentu karena saya (merasa) berhasil menaklukkan kesulitan saya dengan teknik menulis percakapan, setidaknya saya berhasil menghadapi ketakutan saya. Saya ingat seorang penulis pernah berkata, menulis pada akhirnya perkara keterampilan. Kita menghadapi kesulitan, dan kita mencoba memecahkannya. Kita merasa tak mahir dalam melakukan satu hal, kita melatihnya, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Percakapan dengan teman sutradara saya membuat saya memikirkan hal ini, serta kesulitan-kesulitan lain dalam penulisan, dan mau tak mau itu harus dipecahkan. Novel ketiga saya mengingatkan, bahwa setiap tulisan merupakan pelajaran tambahan. Mengenai menulis sebagai perkara keterampilan, sekarang saya ingat, García Márquez yang mengatakannya.

6 Comments

  1. Haruki Murakami, dalam satu wawancara, mengatakan menulis adalah bakat. Mas Eka cenderung ke siapa? Mengingat keduanya merupakan favoritmu.

    • @Muji:
      Saya cenderung tak peduli dengan “bakat”. Jika seseorang ditakdirkan tak memiliki bakat, terus bagaimana? Diam saja? Saya sendiri tak tahu apakah berbakat atau tidak. Tapi saya tahu, jika saya ingin menjadi penulis yang baik, saya harus belajar.

  2. Seingat saya novel Cala Ibi nya Nukila juga disusun tanpa percakapan, dan toh tetap menyenangkan (sensasi yang sama ketika membaca Lelaki Harimau). Mementahkan pendapat beberapa penganjur “how to write” yang mengatakan bahwa narasi akan melelahkan.

  3. cerpen “rumah kopi singa tertawa”-nya mas yusi avianto itu seluruhnya percakapan. bagaimana menurutmu, mas?

    • @amexrijal
      Saya sudah baca buku itu. Yusi salah satu penulis yang pintar menuliskan percakapan. Alamiah dan seringkali lucu.

  4. Nice ending

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑