Seperti kebanyakan orang, dulu waktu masih remaja saya menganggap seni yang baik itu tentu saja yang “indah”. Maksudnya, jika itu lukisan, tentu itu lukisan pemandangan yang memperlihatkan tanah subur, hijau oleh dedaunan dengan gunung membiru di kejauhan; jika lukisan orang, isinya perempuan cantik dan lelaki ganteng. Tentu juga dilukis dengan semirip mungkin. Jika itu karya sastra, saya membayangkan kata-katanya harus puitis, penuh umpama dan kiasan. Tokoh-tokohnya dengan cepat mengundang simpati. Jika ia menderita, ia akan berjuang keras untuk menggapai impiannya. Ditulis rapi, dengan plot yang terukur, perkembangan karakter yang dinamis. Jangan lupa pesan moral. Itu dulu, sebelum saya berjumpa dengan seni-seni yang “tidak indah”. Sebelum saya tahu Marc Chagall melukis petani-petani degan gaya lucu, dan Picasso melukis kuda yang plantat-plentut. Di kesusastraan, saya akhirnya bertemu tokoh konyol semacam Don Quixote. Bukan pahlawan hebat, tapi juga bukan penjahat menyebalkan. Bertemu Tristram Shandy. Saya juga membaca kata-kata yang tidak puitis: coretan di toilet, grafiti di badan truk. Hingga akhirnya bertemu dengan istilah itu. Grotesque. Sesuatu yang aneh, sangat tidak alamiah (dalam konteks kita tidak terbiasa), dan tentu saja secara sederhana: buruk. Si Bongkok dalam novel The Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo tentu saja grotesque. Demikian pula monster yang diciptakan Dr. Frankenstein. Dalam tradisi pewayangan, di luar para pangeran gagah dan puteri-puteri yang cantik, kita juga tahu ada Semar. Ada Gareng dan Petruk. Togog dan Bagong. Mereka grotesque. Menghadapi karakter-karakter semacam itu barangkali lama-kelamaan kita bisa terbiasa, meskipun tetap saja dalam alam bawah sadar, semua yang jelek dan buruk ini hanya ada untuk bahan olok-olok, dan sama sekali tidak untuk wilayah romantis maupun keksatriaan. Rasanya tak mungkin kan, membayangkan sosok buruk rupa, dengan wajah tidak proporsional, terlibat kisah asmara ala Harlequin? Tapi grotesque tentu saja tak hanya berurusan dengan karakter. Jika kita menengok kepada tradisi seni rupa atau arsitektur, dalam kesusastraan ia juga mestinya merasuk kepada gaya maupun tradisi. Menulis novel tanpa plot, tanpa karakter, dan hanya menampilkan berbagai lema dalam susunan macam ensiklopedia (Nazi Literature in Americas, misalnya, atau dengan cara yang sama saya membayangkan ada novel berjudul Makanan Tak Enak dari Pelosok Nusantara yang barangkali akan mengolok-olok selera kuliner kita) karena tampak aneh dan tidak biasa, dan dalam cita rasa tertentu jadi terlihat buruk, tentu saja bisa disebut grotesque. Sekarang bayangkan beragam kemungkinan-kemungkinan lain: novel yang tak punya konsistensi, tak punya koherensi. Bahkan novel yang ditulis dengan susunan kalimat yang berantakan. Logika yang payah. Pokoknya segala sesuatu yang keluar dari aturan pokok novel yang baik (dan cantik). Menurut saya, sudah pasti itu novel grotesque. Jadi, kalau suatu hari tanpa sengaja bertemu novel yang buruknya minta ampun (bahkan jika dibaca bisa membuat perut mual dan ingin muntah), jangan dulu menghakiminya sebagai novel yang buruk. Siapa tahu itu novel grotesque. Novel yang hadir untuk menggedor-gedor selera borjuis kita, yang terlalu nyaman dengan segala yang indah dan cantik. Setidaknya, jika novel itu memang buruk, kita tak perlu menyakiti penulisnya dengan kejujuran semacam itu. Anggap saja dia sedang berusaha menciptakan rute baru dalam kesusastraan, penjelajahan baru dalam tradisi grotesque. Penulisnya pasti senang, dan membuat orang lain senang saya yakin ada pahalanya. Ya, ya, meskipun kesusastraan tak pernah ambil pusing sesuatu ada pahalanya atau tidak.