Saya rasa, Cervantes seorang master karakter. Untuk mahakaryanya, Don Quixote, Milan Kundera pernah bilang, “Don Quixote sejatinya tak terbayangkan sebagai manusia hidup, tapi, dalam kenangan kita, karakter mana (lagi) yang lebih hidup (daripada Don Quixote)?” Demikian kuatnya karakter si lelaki tua yang merasa dirinya sebagai ksatria pengembara, yang gila karena kelewat banyak membaca novel-novel kepahlawanan, kebesarannya bahkan melampaui nama penulisnya sendiri (saya yakin di dunia ini lebih banyak yang mengenal Don Quixote daripada Cervantes). Keyakinan saya atas ini, bahwa Cervantes merupakan master pencipta karakter, diperkuat setelah membaca cerita-cerita dalam Exemplary Stories, yang terbit di antara bagian satu dan bagian dua Don Quixote. Kita tahu, seluruh cerita pada dasarnya bisa disederhanakan dalam satu formula sederhana, “Apa yang terjadi jika …” Bagian titik-titiknya akan diisi oleh para penulis, dan setiap penulis saya rasa punya kecenderungan tertentu yang tentu saja berbeda-beda. Ada yang mengisi titik-titik itu dengan spekulasi peristiwa, ada yang mengisinya dengan karakter dan situasi yang dihadapinya. Saya ingin memberi contoh, dalam kebanyakan novel-novel José Saramago, kita menghadapi situasi di mana ada skenario yang tak lumrah. Apa yang terjadi jika Ricardo Reis bertemu dengan hantu Fernando Pessoa (dalam The Year of the Death of Ricardo Reis), sebab sebagaimana kita tahu, Ricardo Reis dan Fernando Pessoa tak lain merupakan orang yang sama (meskipun bisa dibilang penyair yang berbeda). Apa yang terjadi jika seseorang melihat manusia lain yang mirip dirinya di dalam sebuah video (dalam The Double); atau apa yang terjadi jika satu kota tiba-tiba terjangkit wabah buta (dalam Blindness). Cervantes, pada dasarnya juga bekerja dengan formula sederhana itu, tapi ia membangun ceritanya di seputar karakter. Karakter-karakter Cervantes sebenarnya tidak bisa dibilang tak lumrah. Mereka karakter-karakter yang mudah dikenali. Yang membuatnya menjadi menarik, karakter-karakter ini seperti dilihat dengan kaca pembesar. Mereka menjadi hiperbola, dan seperti orang yang mabok jamur kotoran sapi, melihat dunia dengan cara juga berlebihan. Kita tahu, seperti itulah Don Quixote. Dalam cerita-cerita di Exemplary Stories, kita akan menemukan manusia-manusia semacam itu juga. Dalam cerita “The Glass Graduate”, Cervantes mengisahkan seorang sarjana hukum yang dipelet (ya, diberi ramuan cinta) oleh seorang perempuan yang tergila-gila kepadanya. Pelet itu tak manjur, tapi malah memberi efek samping. Selain membuat si sarjana hampir mati, ramuan itu juga membuatnya gila: ia merasa tubuhnya terbuat dari kaca. Rapuh. Bayangkan manusia macam apa yang harus hidup dengan pikiran bahwa tubuhnya bisa hancur berkeping-keping hanya karena tersenggol! Di cerita yang lain, “The Jealous Extremaduran”, kita bertemu dengan lelaki setengah baya yang pencemburu berat. Ketika ia menikah dengan gadis muda, ia mulai terjangkit penyakit cemburu ini. Ia takut isterinya bertemu pemuda lain, ia takut ada pemuda lain melihat isterinya. Ia memutuskan mengurung isterinya di rumah, dengan pintu berlapis-lapis, dan satu-satunya jendela hanya menghadap langit. Familiar dengan karakter-karakter ini? Ya, jika kita mengenal istilah “quixotic”, saya rasa cerita-cerita ini memiliki sifat dan situasi yang sama. Membaca cerita-cerita Cervantes ini membuat saya teringat satu penulis lain. Saya rasa salah satu “murid” Cervantes yang hadir beberapa abad kemudian: Italo Calvino. Saya membaca tiga novelanya yang kemudian disatukan dalam buku Our Ancestors. Dengan bertumpu pada karakter dan situasi tak lazim yang dihadapinya, saya rasa Calvino juga menciptakan dunia yang quixotic ini. Dalam The Cloven Viscount, kita berhadapan dengan seorang bangsawan yang pergi berperang dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Sialnya, kedua tubuh itu tetap hidup dengan masing-masing membawa sifat yang bertolak-belakang; yang satu jahat, yang lain baik. Di Baron in the Trees, kita bertemu dengan seorang anak keras kepala, yang karena sumpahnya (setelah bertengkar dengan ayahnya di meja makan), memutuskan untuk hidup di atas pohon. Di novela terakhir, The Non-Existent Knight, kita bertemu dengan karakter ksatria berbaju jirah yang tak ada isinya, sebab ia memang ksatria yang “tidak ada”. Saya yakin, kita bisa menemukan karakter quixtotic ini semakin banyak di penulis-penulis lain yang muncul selepas Cervantes, untuk memperlihatkan betapa besar pengaruhnya. Jika Anda tak punya banyak waktu untuk membaca Don Quixote, saya rasa Anda bisa membaca Exemplary Stories ini sebagai permulaan mengetahui dunia rekaan Cervantes. Di sana Anda bisa menemukan Don Quixote dalam bayang-bayang.