Eka Kurniawan

Journal

Etgar Keret

Satu hari, tiga atau empat tahun lalu, saya membaca satu cerpen di internet, dan karena manyukainya, saya menerjemahkannya menjadi “Sepatu”. Saya tak ingat dimana terjemahan itu, teman saya seorang editor di suratkabar yang saya sodori untuk memuatnya, juga menghilangkan file terjemahan itu, tapi saya selalu ingat ceritanya. Itu tentang seorang bocah Israel yang senang bermain bola dan dibelikan sepatu Adidas oleh ayahnya. Ia benci sepatu itu, karena Adidas buatan Jerman dan orang Jerman merupakan pembunuh Yahudi. Tapi ketika ia membuat gol dengan sepatu itu, ia kemudian (kira-kira) bilang, “Boleh juga.” Cerita sederhana, tapi kita tahu, banyak hal mencabik-cabik kemanusiaan kita di dalamnya. Beberapa lembar cerita, tapi barangkali memuat sejarah Eropa dan Timur Tengah yang kelam. Lebih mengagumkan dari itu semua, cerpen ini ditulis dengan humor yang melimpah, seolah semua hal tentang politik, rasisme, perang merupakan kedunguan manusia yang menggelikan. (Bagi saya, humornya menjadi terasa berganda: di negeri saya ketika kaum Islamis selalu menyalahkan segala kesialan kepada Yahudi, melarang memakai ini dan itu karena konon buatan Yahudi, menjadi menggelikan ketika membayangkan bocah Yahudi menimpakan segala kesialan kepada orang Jerman, dan tak mau memakai ini dan itu karena buatan Jerman). Sejak saat itu saya tak pernah lupa nama penulisnya: Etgar Keret. Sayang ketika beberapa waktu lalu ia datang ke Indonesia, saya tak berjumpa dengannya untuk sekadar meminta tandatangan. Di tahun-tahun terakhir ini, cerpen-cerpennya mulai bermunculan di majalah dan jurnal berbahasa Inggris. Saya menemukan cerpennya di New Yorker dan Granta, hingga akhirnya membacanya di buku kumpulan cerpennya. Kini bisa dibilang, ia tak hanya salah satu penulis (terutama cerpen) terpenting Israel, tapi bisa dibilang merupakan generasi penulis cerpen dunia yang layak dibaca. Kebanyakan cerpennya berukuran pendek, atau sangat pendek, bahkan untuk ukuran penulis Indonesia yang (karena halaman suratkabar) terbiasa menulis cerpen sekitar 1500-1700 kata saja. Saya kagum dengan keefektifitasan cerita-ceritanya, menceritakan hal-hal yang perlu tanpa dorongan genit untuk berpanjang-panjang, tapi sekaligus tak merasa harus berpendek-pendek sehingga kehilangan nuansa. Sekilas, kita akan merasa cerpen-cerpennya berbau Kafka: Seorang perempuan satu pagi kedatangan dua petugas yang memberitahu bahwa suaminya meninggal. Perempuan itu bingung, karena ia tak punya suami. Tapi ia tak semata-mata bau Kafka: Di cerita lain, seorang penulis (saya rasa Etgar Keret sendiri), kedatangan orang Swedia yang menodongkan pistol ke kepalanya hanya agar ia mendongeng untuknya. Ketika si penulis bilang, ia bisa mendongeng tanpa perlu ditodong kasar seperti itu, si Swedia berkata, “Setelah seminggu di negeri ini, saya tahu, di sini segala sesuatu harus diminta dengan kekerasan.” Dan itu benar: orang Palestina meminta negara dengan cara baik-baik, tak ada yang menggubris. Memintanya dengan ledakan bom, baru kemudian diundang ke perundingan. Etgar Keret merupakan tukang sindir bermulut tajam, tanpa kehilangan selera humor yang menyenangkan. Ia meminjam sedikit elemen dari Kafka, terutama ketika seorang individu harus menghadapi dunia yang tak dipahaminya, yang berjalan tidak sesuai dengan (apa yang ia pikir) seharusnya, atau menghadapi situasi yang keluar dari kebiasaannya, untuk menjelaskan situasi-situasi politik dan kemanusiaan modern. Saya tak tahu apakah ia (akan) menulis novel atau tidak (yang saya tahu, ia membuat film juga), tapi bahkan dengan cerpen-cerpennya, saya yakin ia akan menjadi salah satu master tukang cerita kelas dunia. “Kelas dunia” dalam makna yang sebenarnya, sebagaimana saya menikmati cerpen-cerpen Chekhov dan bahkan Borges.

2 Comments

  1. wah langsung nih bsk sy mw berburu cerpen2 karya Etgar Kerett….

  2. saya, apa boleh buat, termasuk orang yang terbius oleh cerita-certa Etgar Keret.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑