Journal

Dua Pamflet

Imperialism: The Highest Stage of Capitalism, V.I. Lenin. Apa urusannya seorang novelis baca pamflet beginian? Ya, enggak apa-apa, toh? Kepala saya juga butuh pijatan yang berbeda daripada biasanya, kan? Isinya sebagian besar sudah saya dengar dari zaman nongkrong-nongkrong di kelompok diskusi akhir milenium yang lalu, tapi baru kali ini saya benar-benar membacanya, dan ternyata menyenangkan untuk mengetahui pikiran Lenin tentang puncak kapitalisme, terutama tahap-tahap perkembangannya, sambil bertanya-tanya apa yang akan dikatakannya jika ia melihat zaman sekarang, ketika kriptokurensi diperkenalkan? Saya sering sedikit meremehkan istilah “pamflet”, yang kepikiran selalu brosur-brosur tipis dengan maksud menawarkan jualan. Tentu saja pamflet ini tak jauh dari itu, memang. Buku kecil dengan niat menjual gagasan. Tapi isinya ditulis dengan dingin, bahkan saya tak melihat persuasi atau retorika berlebihan, sebagian besar isinya data, perbandingan, argumen, dan kesimpulan. Ia bahkan memberi ruang untuk gagasan-gagasan yang berseberangan dengannya, sambil memberi sanggahan, beserta data-data lain, untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan pihak yang disanggahnya. Saya jadi bertanya juga, apakah pamflet macam begini masih ditulis di zaman sekarang? Mungkin masih, tapi saya jarang melihatnya, atau mutunya tak sebagus ini sehingga tak banyak menarik perhatian orang. Bagi yang tertarik bagaimana ekonomi politik dunia kiwari berkembang, saya rasa bisa menengok buku ini, meskipun ditulis di tahun 1915. Saya rasa hal-hal penting di dalamnya masih relevan untuk melihat ekonomi dunia sekarang. Apakah kapitalisme mensyaratkan kompetisi bebas? Ya. Apakah ia akan mengarah ke monopoli? Ya. Bukankah kompetisi bebas dan monopoli itu bertentangan? Ya. Itu bagian paling menarik dari pamflet ini, sungguh. Tentu saja termasuk fakta yang bahkan kini sudah dianggap lumrah: komoditas ekspor-impor yang menjadi puncak kapitalisme bukanlah bahan mentah atau barang hasil produksi, tapi kapital itu sendiri. Dalam bentuk investasi maupun utang. Mau bikin jalan tol berapa panjang? Butuh berapa duit? Seperti kata Lenin, yang berubah pemain-pemainnya saja.

The Communist Manifesto, Karl Marx & Friedrich Engels. “Kelas borjuis telah mengubah para dokter, pengacara, pendeta, penyair, ilmuwan, menjadi buruh upahannya.” Saya rasa tak perlu ngomong banyak untuk pamflet yang ini. Banyak yang sudah tahu dan mungkin membacanya, apalagi di zaman internet macam sekarang, dan mengerti isinya. Yang jelas, komunisme sampai sekarang mungkin satu-satunya ideologi, atau setidaknya yang terbesar, yang tak berhubungan dengan agama, yang bisa melintasi batas-batas negara dan generasi, dan memiliki rujukan teks yang jelas. Manifesto ini bisa dianggap salah satu teks pentingnya, bahkan mungkin yang paling mudah untuk dipahami (dengan gaya retorika, bahasa yang sederhana, sangat berbeda dengan karya-karya Marx maupun Engels yang lain, yang umumnya merupakan analisa ekonomi, filsafat maupun sejarah). “Kalian ketakutan dengan niat kami menghapus kepemilikan pribadi [catatan: istilah ‘property’ mungkin perlu didiskusikan lebih lanjut untuk memperoleh padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia]. Padahal dalam masyarakat yang ada, kepemilikan pribadi sudah lenyap dari sembilan puluh persen populasi.” Dengan kata lain, sebelum komunisme muncul pun, petani sudah kehilangan tanahnya, dan para pengrajin tak memiliki akses terhadap alat produksi. Maka tak heran jika pamflet ini ditutup dengan, “Kaum proletar tak akan kehilangan apa pun kecuali rantai yang membelenggu.” Pamflet ini juga dipenuhi banyak pengantar untuk berbagai terjemahan, yang sebagian ditulis Marx dan Engels, sisanya ditulis Engels sendiri, dan itu bagian lain yang sama menariknya. Termasuk ketika Engels menyinggung terjemahan Rusia yang dilakukan Bakunin, yang menurutnya “hanya karena penasaran intelektual saja” (hahaha, orang macam saya juga harusnya tersindir juga). Bagian pengantar edisi Italia, Engels juga membuka ruang rasa penasaran lain ketika mengatakan, “Negeri kapitalis pertama adalah Italia. Penutupan Abad Pertengahan yang feodal, pembukaan era kapitalisme modern ditandai oleh satu sosok kolosal: seorang Italia, Dante, penyair terakhir Abad Pertengahan sekaligus penyair pertama zaman modern.” Apakah Engels pernah membicarakan Dante lebih jauh di buku-bukunya yang lain? Serius, ini menarik dan bikin penasaran.



Standard

2 thoughts on “Dua Pamflet

Comments are closed.