Eka Kurniawan

Journal

Dua Novel Halldór Laxness

Saya tak pernah bisa membayangkan bahwa seorang penulis dan karya-karyanya, setepat apa pun, bisa mewakili tradisi dan kehidupan (atau kesusastraan) suatu bangsa, yang mestinya lebih ruwet dan beragam. Hal yang lebih tepat barangkali, seorang penulis dan karya-karyanya bisa menjadi sejenis teropong kecil untuk melihat tradisi dan kehidupan, juga spirit negerinya. Membaca buku, kurang-lebih seperti kunjungan singkat ke sebuah negeri. Kita melihat serba sedikit, atau bahkan hanya melihat apa-apa yang sudah ditunjukkan oleh pemandu atau rekomendasi para pelancong sebelumnya, tapi kita pada saat yang sama mencoba membayangkan negeri itu dari potongan-potongan serba sedikitnya. Kadang-kadang kita melihat sesuatu secara tak sengaja, sebagaimana dari sebuah buku kita memperoleh baris-baris yang tak pernah menjadi perhatian pembaca lain. Mengenai Islandia, saya tak banyak tahu kecuali negeri itu sangatlah jauh dan berbeda dari negeri saya. Sebuah negeri yang dari namanya, kita tahu sebagai negeri es, nyaris dekat dengan kutub utara. Sebuah negeri yang sangatlah sulit melihat pohon meskipun beberapa tahun terakhir mereka mencoba menanam pohon di kota untuk menangkal angin kutub yang menggigilkan. Naik bus ke luar kota, yang akan terlihat hanyalah hamparan batuan volkanik yang menghitam, kalaupun ada warna hijau, itulah hamparan padang rumput. Penduduknya sendiri hanya sekitar 360 ribu orang saja. “Kami punya banyak tanah untuk setiap orang kalau dibagi-bagi,” begitu seloroh sopir bus yang saya ajak bicara. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan tanah itu, memang. Dari generasi ke generasi mereka lebih dikenal sebagai pelaut, meskipun salah seorang teman makan malam saya menggerutu, “Ikan-ikan terbaik kami dijual untuk ekspor.” (Dan saya menyahut, “Begitu pula biji-biji kopi terbaik kami.”) Itu sedikit yang saya ketahui setelah kunjungan singkat tempo hari, di awal September tahun ini. Selain kunjungan singkat ke Reykjavik dan sedikit jalan-jalan ke pedalamannya, saya menengok negeri ini juga melalui empat novel Sjón, yang boleh dibilang merupakan perkenalan saya dengan kesusastraan mereka. Setelah itu, saya memutuskan untuk membaca dua novel yang tersedia di tangan saya, dari satu raksasa kesusastraan Islandia. Halldór Laxness.

Under the Glacier. Judul asli novel ini sebenarnya kira-kira “Christianity at Glacier”, tapi mungkin judul itu tampak kurang menjual. Bisa dikira seperti laporan misionaris, meskipun sebenarnya novel ini memang ditulis bagaikan sebuah laporan tentang hal-ihwal kekristenan di daerah pedalaman. Dikisahkan sang uskup mendengar tentang satu daerah glacier di mana ritual kristen tidak diamalkan. Orang mati tidak dikuburkan dengan semestinya, dan misa serta perayaan lain tidak dilaksanakan di gereja setempat. Bahkan konon sang pastor tinggal dengan perempuan yang bukan isterinya. Kuatir mengenai hal ini, diutuslah seorang anak muda, tampaknya calon pastor, meneliti bagaimana sebenarnya kekristenan di daerah tersebut. Novel ini ditulis dalam bentuk sejenis laporan, meskipun di sana-sini kadang muncul komentar-komentar ringkas, yang ditulis oleh sang utusan. Seperti biasa, selama membaca novel ini angan saya melayang ke mana-mana sambil bertanya, agama kristen macam apa sih yang ada di sana? Hingga pertanyaan yang terus mengepung saya, untuk negeri yang tampak begitu jauh dari mana-mana secara geografis, bagaimana hal-hal dari luar membentuk negeri tersebut? Agama kristen, misalnya, jelas sebagai sesuatu yang asing yang merayap datang ke sana dengan sangat lambat (bisa jadi melalui Kerajaan Denmark). Ada kesan ini merupakan negeri antah-berantah yang terabaikan oleh dunia, pengaruh pusat-pusat peradaban karena jarak yang membentang, tampak seperti sayup-sayup saja. Jelas itu salah. Justru karena negeri tersebut berada di ujung dunia, jauh dari mana-mana, orang-orangnya menjadikan diri mereka sebagai petualang-petualang tangguh, yang menganggap samudera dan badainya sebagai pekarangan rumah belaka. Tak hanya secara fisik, tapi juga gagasan. Bahkan daerah glacier sebagaimana di novel ini, tak kurang kosmopolit dari pusat peradaban di negeri-negeri lain. Ketika sang utusan akhirnya bertemu pastor setempat, ia tak hanya menemukan sang pastor yang lebih peduli membantu penduduk memperbaiki sepatu kuda daripada mengadakan khotbah, tapi juga menemukan perdebatan spiritual. Dari kepercayaan pagan lama mereka hingga ide-ide Tao dan kepercayaan Timur, dari “pengikut Muhammad” hingga kepercayaan bahwa daerah glacier tersebut sebagai pusat semesta dan gerbang bagi komunikasi dengan makhluk-makhluk di galaksi lain. Juga tak mengherankan jika bertemu perempuan yang pernah menjadi mucikari di Buenos Aires, menjadi seorang biarawati di Spanyol, melanglang buana ke Lima, Paris, dan banyak tempat lainnya. Saya membayangkan, dari keheningan negeri tersebut (barangkali karena datang dari negeri tropis di salah satu kota yang berpenduduk terpadat di dunia, buat saya Islandia memang hening sekali), mereka menyerap berbagai hal yang terpancar dari mana-mana. Ini novel yang jauh dari permukaannya, jika kau berhasil menyelam sedikit saja, merupakan humor tentang agama dan spiritual. Humor yang tampak begitu bebas, riang, dan berani. Barangkali karena datang dari tepi dunia? Memikirkan itu, bagi saya, semakin menambah kadar kelucuannya. Uskup dan kekuasaan agama kristen bagi penduduk yang lugu ini, barangkali tak ada bedanya dengan raja dan kerajaan Denmark. Mereka ada dan berkuasa, tapi jauh di sana. Mereka mengakuinya, tapi sekaligus tak memusingkannya. Sebab bagi penduduk glacier, menemukan kuda yang lepas jauh lebih penting. Dan bagi para petualang gila, berhasil menemukan kontak dengan makhluk luar angkasa lebih berarti.

The Fish Can Sing. Berbeda dengan novel sebelumnya, di mana watak kosmopolitan lebih menonjol, novel ini tampak berusaha untuk melihat ke dalam. Kisahnya berpusat pada seorang anak muda (diceritakan sejak ia masih kecil) bernama Alfgrimur dan (barangkali alter-egonya) Gardar Holm, penyanyi opera yang berhasil “menaklukkan dunia”, bahkan bisa menyanyi di hadapan Paus dan rumah-rumah opera di kota-kota besar Eropa maupun Amerika. Ya, ini kisah tentang bagaimana negeri terpencil di sudut dunia ini, pun berhasil menyumbangkan putera terbaiknya kepada peradaban dunia. Saya jadi membayangkan Björk. Juga mengingat celoteh pemandu tur yang sepanjang jalan terus bernyanyi dan kemudian berkata, “Hampir semua orang Islandia pernah tergabung dengan kelompok musik.” Dan itu mengantarkan saya pada obrolan lain, “Dibandingkan jumlah penduduk, kami juga punya penyair yang sangat banyak.” Sebagian besar memang menerbitkan sendiri buku puisinya, dan si orang yang menceritakan itu juga mengakui, sebagian besar barangkali mutunya tak seberapa. “Soalnya bukan seberapa bermutu puisimu. Yang terpenting bagi kami, semua orang merasa boleh menulis puisi, dan kami tak berusaha menghancurkan kesenangan mereka.” Laxness berusaha meneropong ketenaran, kejembaran dunia, membandingkannya dengan ketersembunyian dan dunia yang kecil. Islandia sebagai negeri antah-berantah di ujung dunia, memandang negeri-negeri yang dianggap sebagai pusat-pusat peradaban. Penyanyi terkenal yang dipuja-puja, menghadapi bocah kecil yang hanya menyanyi di pemakaman. Bernyanyi untuk banyak orang, untuk uang yang melimpah dan mengalir tiada henti, sebagai kontras dengan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan menemukan nada yang sejati di dalam diri. Tentang pengusaha yang mengeruk ikan dengan kapal besar, dan tentang kakek tua yang menangkap ikan sebatas kebutuhannya. Jika Gardar Holm menaklukkan dunia, hidup Alfgrimur sebatas pekarangan rumahnya. Tapi dalam kontras-kontras macam beginilah, Laxness memperlihatkan kembali humornya, juga ironinya. Alfgrimur mungkin akan mengikuti jejak Gardar Holm setelah kakeknya mengirim dia ke sekolah, kemudian mengirimnya ke luar negeri untuk belajar musik. Tapi baginya, mewakili orang-orang biasa di lingkungannya, harapan terbesarnya tak lebih hanya sekadar menjadi menangkap ikan. Dituturkan dalam bentuk kronik yang mengisahkan peristiwa-peristiwa sederhana di sekitar rumah dan tokoh-tokohnya, ada sejenis kerawanan atas kontras-kontras tersebut. Lihat si kakek, yang tak hanya menangkap ikan sebatas yang dibutuhkan, tapi juga selalu menjualnya dengan harga sama (tak peduli sedang paceklik atau melimpah). Ia memperlihatkan kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan kerakusan. Tapi pada saat yang sama, ia tak bisa membiarkan cucunya (Alfgrimur sebenarnya anak telantar yang ditinggalkan perempuan tak dikenal di rumah itu) hanya hidup di sekitar pekarangan rumah dan berakhir menjadi nelayan (yang makin hari makin susah setelah datangnya kapal-kapal besar). Ia mengirim cucunya ke dunia, yang tentu saja akan menghadapi hidup yang tak sederhana lagi. Novel ini tampak memiliki banyak bias biografi penulisnya, setidaknya pencariannya. Setelah memeluk Katolik Roma di masa mudanya, Laxness menjadi seorang komunis di usia dewasa, dan di masa tua menjadi pengikut Tao. Apa yang ia cari? Seperti Alfgrimur, ia mungkin mencari nada sejati di dalam dirinya. Sebab ikan, yang sangat melimpah di negeri ini, adalah ikan meskipun bisa bernyanyi.

3 Comments

  1. Pernah baca wawancara Sjon kalau dia katanya lebih suka puisi ketimbang novelnya si Laxness ini. Nah, baca atau ngegelutin puisi ngaruh banyak ga sama prosa kita, atau engga pun biasa aja?

  2. Kazuo Ishiguro menang NOBEL nih kang, gimana komentarnya? Bikin review dong tentang dia hehe…

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑