Seperti saya tulis akhir tahun lalu di jurnal ini, sepanjang tahun ini saya ingin membaca lebih banyak penulis “muda”. Muda dalam hal ini ialah lahir sekitar tahun 1950 atau lebih muda lagi. Saya telah membaca beberapa penulis hebat dari generasi ini. Lupakan Roberto Bolaño, semua orang hampir mengenalnya sekarang, dan tengok nama-nama lainnya: César Aira (Argentina, novelnya How I Became a Nun benar-benar ejekan untuk tradisi novel yang terlalu kaku menempatkan narator); Enrique Vila-Matas (Spanyol, saya baru membaca dua dari beberapa novelnya, Dublinesque dan Bartleby & Co.); Michel Houellebecq (Prancis kembali menempatkan salah satu penulisnya di radar kesusastraan dunia, saya sangat menikmati The Map and the Territory dan Atomised); dan jangan lupa László Krasznahorkai (Hungaria, bagi yang tak tahan membaca cara menulis Jose Saramago, kemungkinan besar tak akan berhasil membaca novelnya Satantango). Itu hanya beberapa nama saja. Sementara saya menikmati novel-novel yang dihasilkan generasi ini, di sisi lain saya mulai merasakan sesuatu yang “hilang”. Apa itu? Dengan mudah saya bisa menemukan apa yang hilang dari novel-novel kontemporer ini: individu. Tentu saja itu tak membuat novel-novel ini menjadi buruk atau gagal, bagi saya ini hanyalah merupakan kecenderungan dari satu generasi, satu zaman. Sebenarnya tanda-tanda menghilangnya individu dari novel-novel “besar” ini saya rasakan telah dimulai sejak generasi setelah Perang Dunia II. Seperti kita tahu, pengagungan terhadap individu merupakan sesuatu yang sangat kuat di novel-novel modern, sebab pengagungan individu merupakan anak sah dari modernisme ini, dan bagi saya itu sangat terasa sejak kemunculan novel modern: Don Quixote. Membaca novel ini mau tak mau kita “membaca” sosok sang ksatria. Demikian juga ketika kita membaca Moby Dick (novel terbesar yang berhasilkan oleh Amerika, dan rasanya mereka tak pernah menghasilkan yang seperti ini lagi setelah itu), kita membaca mengenai Ishmael dan Kapten Ahab. The Idiot Dostoevsky? Kita membaca Pangeran Mishkin. Anna Karenina? Tentu saja itu tentang Anna Karenina (dan sosok-sosok lainnya, tentu). Novel-novel modern berputar di sosok-sosok individu dan nasibnya. Tapi modernisme memang tak hanya mengagungkan individu, di sisi lain, modernisme juga bisa dianggap bertanggung jawab atas lahirnya kolonialisme, yang secara umum berakhir setelah Perang Dunia II. Analisa saya mungkin salah, mungkin terlalu sembrono, tapi saya merasa para penulis dari negara-negara koloni ini (yang kemudian melahirkan kesusastraan pascakolonial, dan di negara Dunia Pertama barangkali melahirkan posmodern), mulai mengikis individu di novel-novel mereka. Demikianlah ketika kita membaca Bumi Manusia, saya merasa Minke di sana bukan Minke, tapi Jawa/negeri jajahan. Demikian juga Saleem Sinai di Midnight’s Children adalah India. Keluarga Buendia? Mereka bukan hanya Kolombia, tapi dianggap sebagai Amerika Latin. Individu di novel-novel pascakolonial tak lagi sekadar mewakili dirinya, ia lebih merupakan metafor generasi, bangsa, atau kaumnya. Sekali lagi itu mungkin kecenderungan. Beberapa mungkin sadar melakukannya, beberapa yang lain mungkin tidak sadar. Tentu butuh penelitian yang lebih seksama, dan menyeluruh, untuk mengamati perkembangan ini. Dan tentu saja perubahan ini, saya yakin, tidak bisa serempak. Masih banyak novel-novel berwawasan modern di abad kedua puluh satu, sebagaimana pasti ada cikal-bakal novel posmodern di abad kesembilan belas atau dua puluh. Kini kembali ke sastra kontemporer, ditulis oleh sebagian besar penulis yang sama sekali tak mengalami trauma kolonialisme. Penulis-penulis yang saya sebut di atas, bisa dibilang merupakan anak kandung globalisasi. Bahkan bisa dibilang generasi internet. Jika individu semakin menghilang di novel-novel mereka, bisa jadi itu merupakan perkembangan lebih lanjut dari era pascakolonial ini. Di novel-novel Vila-Matas, misalnya, individu hanyalah antek-antek untuk menyampaikan gagasan. Mereka menjadi semen dan batubata untuk sebuah bangunan. Jika di kesusastraan pascakolonial bangsa dan identitas merupakan perkara yang penting, di novel-novel kontemporer ini, arsitektur gagasan terasa seperti sesuatu yang mahautama. Sekali lagi, mungkin itu perasaan saya. Saya mungkin harus membaca lebih banyak lagi generasi ini, meskipun diam-diam, kerinduan saya pada individu membuat saya ingin menengok kembali Moby Dick dan cerpen-cerpen Gogol sebagai selingan yang pasti menyenangkan. Dan seperti apa novel-novel di masa mendatang? Itu akan berada di tangan Anda semua, penulis-penulis masa kini.