Eka Kurniawan

Journal

Cosmos, Witold Gombrowicz

Kami adalah ahli waris yang sah dari para bajingan dalam sejarah kesusastraan. Para bajingan yang tak hanya memuja dan menghormati manusia serta kemanusiaan, tapi juga mengolok-oloknya. Sebab manusia tak hanya berakal-budi dan kuat, tapi juga rapuh dan brengsek sebrengsek-brengseknya. Mengulurkan tangan untuk yang jatuh, tapi sesekali memaki mereka sebagai pecundang. Mengencingi para tiran, tapi sesekali mendirikan prasasti, dengan lantang maupun malu-malu. Bagi Witold, narator di novel Cosmos karya Witold Gombrowicz, tiran itu tak lebih dari pikiran-pikiran yang melanglang-buana di sekitar benda-benda dan peristiwa remeh, dan ia mendirikan prasasti untuk mereka melalui prasangka-prasangka aduhai yang mengocok perut tapi juga bikin panas kepala dan otak hampir meledak. Humornya sinis, dan menyakitkan. Bersama Fuks (saya berkali-kali mengejanya sebagai fuck), mereka berdua menjelajahi hari-hari yang membosankan. Ruang dan waktu mereka. Alam raya mereka. Diawali penemuan burung yang digantung seseorang, dan mereka dipusingkan dan disibukkan oleh tebak-tebakan tak ada akhir mengenai siapa pelaku penggantungan burung itu, hingga pertanyaan-pertanyaan sok filosofis, kenapa burung itu harus digantung. Dan kenapa pula mereka harus menemukannya? Kenapa pula mereka harus membicarakannya? Dilanjutkan dengan penemuan tanda panah di langit-langit kamar. Siapa membuat tanda itu? Apakah itu tanda yang tak sengaja (mungkin karena cat mengelupas atau jamur)? Kalau sengaja dibuat, apa yang ditunjuk tanda panah tersebut? Itu cukup untuk membuat orang gila semakin sinting. Gombrowicz bagi saya tampak seperti penulis yang asyik sendiri, jika kita tak mencoba menggelayut di keteknya, atau duduk di pangkal pahanya, apa yang ditulisnya tampak asing. Tapi apa pedulinya? Para bajingan di sejarah kesusastraan selalu merupakan orang-orang kesepian yang mencoba memahami dunia dengan cara mereka, dan brengseknya, sebaliknya dunia terbata-bata untuk memahami mereka. Meskipun begitu, sekali pukul, ia merayakan kehidupan kita yang membosankan ini, yang gemar meributkan hal-hal trivia, hal remeh-temeh yang bahkan kita sadari tak penting-penting amat untuk hidup kita, tapi kita ributkan karena … hidup kita membosankan dan tak ada hal lain yang bisa dikerjakan! Dan ketika ia, Witold yang agung ini, mencekik seekor kucing dan menggantungnya pula, sekonyong-konyong ia bicara tentang dosa, dan tentang kenapa ia harus mencekiknya. Kenapa ia harus menggantungnya. Ia bertanya, saudara-saudara, karena tak ada hal lain yang harus dilakukan. Ia bertanya, meski ia tahu siapa yang mencekik dan menggantung kucing itu. Kita juga sering bertanya, bukan karena ingin mengetahui jawabannya, tapi karena hidup kita membosankan dan tak ada yang bisa dilakukan. Seperti bagaimana kita meributkan sesuatu, bukan agar orang lain mendengar apa yang kita katakan (kita sadar kebanyakan orang tidak mendengar, mereka asyik dengan suara ribut mereka sendiri), tapi agar ada yang mengisi kebosanan kita. Mengisi ruang kosong alam semesta kita. Setidaknya jika tak berhasil menghancurkan dunia, kita tak hanya diam menunggu dunia menghancurkan kita. Dalam dunia Witold, hidupnya dipenuhi oleh bibir. Bibir Katasia yang aneh, maupun bibir Lena si anak tuan rumah. Bibir yang munjadi budak nafsu pikiran Witold. Bibir. Burung menggantung. Kucing. Tanda panah. Tunggu, novel ini sebenarnya bercerita tentang apa? Hanya ingin menunjukkan seperti apa dunia yang membosankan? “Aku bahkan tak tahu jika ini sebuah cerita. Sulit untuk menyebutnya sebuah cerita. Ini hanya unsur-unsur … yang tercerai-berai … dan berantakan.” Hanya penulis bajingan yang berani-beraninya menyodorkan novel macam begini ke pembaca. Sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan! Kalau kau membaca novel begini dan merasa bosan (dan novel ini memuja rasa bosan!), segera tanyakan kepada diri sendiri, “Hari ini makan apa?” Itu lebih mudah untuk dipikirkan, setidaknya selama ada beberapa lembar duit di dompet saku celana. Untuk Witold: “Hari ini kami punya ayam goreng untuk makan malam.”

8 Comments

  1. Mas Eka, Ini semacam review, kah? Kalau iya, er, saya speechless >,< SUKA BANGET GAYA BAHASA BEGINI GATAU KENAPA~
    #maafnyampahkomen #sukabangetreviewini

  2. Gak tau gimana maksud loe… Gak jelas…

  3. Natalia Santoso

    9 September 2016 at 7:53 am

    Mas Eka. JUJUR saya ga ngerti tentang sastra. Kenapa kalo penulis yg kurang terkenal bikin karya asal-asalan dianggap itu karya jelek, ga jelas. Tapi kalo sastrawan besar bikin karya asal-asalan selalu dianggap revolusioner, kompleks, artistik, dan kitalah yg justru disalahkan kalau tidak mampu memahami karya mereka (contohnya Finnegans Wake, James Joyce). Apakah itu efek nama besar? Seperti ada standar ganda bagi 2 karya yg sama-sama ga jelas tapi ditulis oleh 2 orang berbeda kasta.

    • @Natalia: meskipun enggak kenal orangnya, saya bertanya-tanya benarkan James Joyce nulis Finnegans Wake asal2an? Meskipun begitu, tentu saja selalu terbuka kemungkinan bahwa Joyce itu ngawur dan tolol. Seseorang hanya perlu membuktikannya saja. Satu hal lagi: penulis-penulis terkenal itu pasti sebelumnya “kurang terkenal” dan sebelumnya lagi “tidak terkenal”. Mereka tidak brojol dari perut emaknya langsung terkenal. Kalau menurutmu ada karya penulis tidak terkenal lebih keren dari bikinan Joyce, percaya saja sama pikiranmu. Perdebatkan. Kamu pembaca, punya otoritas besar.

  4. Pengalaman saya setelah menyelesaikan Cantik Itu Luka, saya lansung berkomentar: “Bajingan…!” Sementara saat ini masih bertindak bajingan bersama si O. Orang-orang bajingan itu selalu menghantui kenyamanan…heheheh

    Terlalu keren Mas Eka.

  5. Mas Eka, bolehkah saya bertanya mengenai penggunaan dialog dalam novel? Hehe…

    Salah satu penggunaan dialog, sependek pengetahuan saya, adalah untuk “menguatkan” penokohan. Saya rasa Mas Eka sudah paham banget toh tentang yang saya coba sampaikan… Nah, saya bingungnya begini.

    Kalau tokoh yang “extrovert” kan cenderung banyak bicara; misalnya dibagi dua tipe: tipe 1 extrovert “sopan” sedangkan tipe 2 extrovert “kurang sopan”. Kurang lebih begitu. Hehe… Sementara itu, tokoh yang “introvert” sebaliknya, yaitu sedikit bicara. Pembagiannya boleh ya diasumsikan mirip seperti extrovert di atas; jadi introvert ada dua tipe juga. Lalu ambivert, katanya berada “di tengah-tengah” kategori antara extrovert dan introvert; jadi sepertinya 50% extrovert dan 50% introvert (hmmm, apakah ada ya? kok sempurna banget).

    Masalahnya: saya kan membaca cerita novel tetapi di dalamnya itu para tokohnya ketika berbicara (baik itu tekanan, nada, logat, gaya bahasa, dll) itu SEMUA-nya seperti menggunakan “CARA YANG SAMA”. Jadi tokoh A, B, C, dst. itu kok saya merasakan tidak ada bedanya.

    Pertanyaannya, bukankah sebaiknya antar tokoh dibuat berbeda cara bicaranya Mas? Tetapi kebanyakan cerita saya lihat banyak yang seperti itu. Mungkin, karena ada tanda petik dialog, jadinya kan “pokoknya” si tokoh ini sudah “bicara”, kan begitu, lalu buat apa mempermasalahkan hal macam begini. Itu sih hanya perkiraan saya saja Mas. Hehehe…

    Pendapat Mas Eka bagaimana?

    Saya masih awam Mas jadi maaf kalau pertanyaan ini sangat tidak memiliki kualitas. Cuma kepingin tahu saja. Hehe…

    • @heri
      Jawabannya bisa sangat panjang, karena menurut saya tak cuma berurusan dengan karakter psikologi tokohnya, tapi juga gaya/aliran karyanya. Katakanlah itu di novel ultra realis: ya anggap saja memang karakter tokohnya mungkin sama. Bagus atau tidak itu urusan lain lagi.

  6. :D

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑