Eka Kurniawan

Journal

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

8 Comments

  1. Mas, bisa dijelaskan lebih jauh mengenai tolok ukur tentang kumpulan cerpen yang bagus. Saya cermati tolok ukurnya ialah “tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan’ atau ‘kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu’. Apakah kumpulan cerpen yang tidak disebut, seperti kumpulan cerpen yang dihasilkan Idrus, kumpulan cerpen “Pertempuran dan Salju di Paris” Sitor Situmorang, atau “Tegak Lurus Dengan Langit” Iwan Simatupang, bisa digolongkan ke dalamnya?

    Soal Corat-coret di Toilet, apakah dulu memang sengaja dibuat untuk tampil sederhana dan terkesan main-main, menjauhi upaya adanya kesatuan tema dan gaya? Bukankah justru itu yang membuatnya banyak disukai pembaca sebagai sebuah upaya tidak ‘menjadi sastra’?

    Apakah Mas Eka menyesali gaya seperti itu dan akan meninggalkan spirit kebebasan seperti kumpulan cerpen awal tersebut? Terus terang, akan sangat mengecewakan pembaca jika penulis dengan latar belakang kebebasan penerbitan indie seperti Mas Eka pada akhirnya masuk ke kungkungan ‘menjadi sastra’, mencoba menyempitkan gaya dan tema tulisan cerpen-cerpen seperti yang dituntut lembaga atau juri ‘penghargaan’.

    Kalau boleh saya berpendapat, tetap apa adanya Mas. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap tidak pernah peduli dengan upaya ‘menjadi sastra’ seperti itu, walau gaya dan tema mereka sangat khas.

    • @alkemi sastra:
      Baca kembali dengan cermat, saya sudah mengatskan, saya memang tak memiliki kriteria khusus. Saya hanya mencoba menebak-nebak selera saya, kenapa kumpulan-kumpulan tertentu menarik minat saya.

      Soal Corat-coret di Toilet, saya tak ingat apa yang saya pikirkan ketika itu. Tapi apa yang bisa diharapkan dari pemula dengan pengetahuan sastra yang pas-pasan? Saya yakin, si penulis hanya ingin menulis cerita (sebagian besar kisah dirinya dan teman-temannya). Pengetahuannya masih level dasar untuk memikirkan konsep apa pun. Upaya tidak ‘menjadi sastra’? Barangkali cara pandang kita mengenai sastra berbeda. Jika kamu mengacak-acak blog ini dan menemukan pandangan saya tentang sastra sebagai genre, saya justru melihat Corat-Coret di Toilet sangat sastra. Hampir seluruh cerpen merupakan upaya ngobrol dengan karya-karya lain.

      Saya tak akan menerbitkan kembali buku ini jika saya menyesal. Ini buku saya yang paling istimewa, sekaligus tentu saja buku yang saya tak ingin mengulanginya. Saya tak tertarik mengulangi buku yang mana pun.

  2. “Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia.”

    Bang Eka, barangkali ia tak perlu membaca banyak buku kumpulan cerpen untuk bisa menyukai “Corat-Coret di Toilet”. Barangkali itu seperti cinta pada pandangan pertama; sejak kalimat pembuka ia sudah tahu akan menyukai buku itu sepanjang hidupnya. Barangkali itulah sebabnya ia menyampul rapi buku itu dan sangat pelit meminjamkannya pada siapa saja. Barangkali tujuh tahun setelah ia membeli buku itu pun, ia masih suka membuka-buka buku itu untuk sekadar membaca kembali satu-dua cerita di dalamnya. Barangkali favoritnya adalah “Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti”, yang selalu membuatnya menitikkan air mata di akhir cerita karena teringat akan masa kecilnya sendiri, saat ia setengah mati merindukan ibunya yang sering bekerja hingga larut malam. Barangkali ini bukan persoalan teknik mengarang, melainkan kegairahan menulis dan kejujuran :)

    • @andina dwifatma:
      Terima kasih, Andina. Kita akan bertemu kembali dengan “Si Bandit Kecil Pencuri Roti” di edisi 2014, sama seperti edisi 2000.

  3. Kebetulan sekali Corat-coret di Toilet adalah satu-satunya buku fiksi Kang Eka yang saya lewatkan (terlewat lebih tepatnya). Senang mengetahui ia akan naik cetak lagi. Saya pasti akan membelinya. Selamat, Kang.
    Btw, apakah akan ada perubahan dalam cetakan baru ini? Tambahan cerita atau justru pengurangan mungkin?

    • @Fitria Sari:
      Akan ada dua cerita, yang saya tulis di tahun-tahun yang sama dengan cerita-cerita di buku ini (1999-2000), yang belum pernah muncul di buku lainnya, ditambahkan ke edisi 2014 ini.

  4. Mas Eka, di mana saya bisa mendapatkan novel Lelaki Harimau? Terima kasih.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑