Ruang makan keluarga itu tak terlalu besar, dengan meja makan kayu di tengah-tengahnya. Paling banter enam orang bisa duduk mengelilingi meja tersebut, dan sering kursi-kursi itu berisi teman-temannya sesama penulis atau seniman lainnya. Charles Dickens akan duduk di kepala meja, menghadap ke arah jendela. Kita bisa mendengar roda kereta kuda sesekali lewat, dan sais kereta yang meneriakkan sesuatu. Di dalam ruangan sendiri, bisa terdengar bunyi sendok atau pisau berbenturan dengan permukaan piring, diselingi suara percakapan di antara orang-orang. Begitulah kurang-lebih suasana salah satu ruangan di Charles Dickens Museum. Pengunjung seolah tak hanya dibawa masuk ke suasana rumah sang penulis besar (salah satu yang terbesar setelah Shakespeare), yang memang pernah tinggal di bangunan yang sama yang kini menjadi museum, tapi juga melemparkan kita ke banyak hal yang berbau era Victorian. Dilengkapi perangkat suara yang juga memberi ilustrasi “suara-suara” yang mungkin bisa kita dengar di masa Dickens hidup di ruangan tersebut. Seperti saya bilang, rumah yang jadi museum itu merupakan rumah tempat Dickens pernah tinggal (di masa-masa awal pernikahannya). Jadi di kiri-kanannya, saling menempel seperti perumahan yang orang Jakarta sering menyebutnya sebagai “town house”, tentu masih ada rumah-rumah lain, berpenghuni, dengan gaya yang saya yakin masih dipertahankan sejak masa yang lama. Papan namanya kecil saja di depan pintu masuk, dan tanpa papan nama itu, orang pasti tak akan mengira itu museum. Rumah Dickens terdiri dari empat lantai: bawah tanah, dasar, lantai satu dan lantai dua. Kehidupan Dickens (dan isterinya) sehari-hari lebih banyak dihabiskan di lantai dasar dan lantai satu. Lantai bawah, yang lebih rendah dari permukaan jalan, merupakan teritori para pelayan rumah tangga. Itu tempat dapur dan tempat cucian berada, juga tempat Dickens menyimpan tabungan anggur dan beragam minuman keras lainnya (bukan tipe pemabuk sebenarnya, tapi ia memang suka menjamu teman-temannya, dan minum pada tingkat yang moderat). Sementara lantai paling atas, merupakan teritori anak-anak dan pengasuh mereka. Sebagaimana orang-orang “kaya” era Victorian, kita harus membayangkan pengurus rumah tangga dan pengasuh anak ini tidak hanya satu, tapi beberapa. Mereka dipimpin oleh “kepala pelayan”, yang dalam kasus Dickens, dijabat oleh adik perempuan isterinya (ketika mereka bercerai, si adik ipar memilih tetap bersama Dickens sebagai kepala pelayan. Ini di zaman itu sempat memancing kehebohan, dan sang kakak mengirimi si adik cincin ular, sebagai tanda “pengkhianat”. Ada hubungan khusus Dickens dengan adik iparnya? Entahlah, tak ada penjelasan soal ini. Di akhir hidupnya, Dickens dekat dengan perempuan(-perempuan?) lain). Satu hal yang menarik, yang baru saya ketahui setelah mengunjungi museum tersebut, adalah kebiasaan Dickens untuk membacakan karya-karyanya di depan teman-temannya. Itu biasanya dilakukan di drawing room, yang bisa disulapnya menjadi ruang teater kecil. Ia menjadi satu-satunya aktor (dan saya rasa ia aktor yang berbakat). Di ruangan itu, kita bisa menikmati suasana bagaimana Dickens membaca potongan karyanya, dan tak salah jika saya menganggapnya sebagai rock star. Ia salah satu yang memelopori tradisi penulis membacakan karyanya, bahkan hingga menyeberang ke Amerika. Saya, yang punya sedikit rasa sentimentil untuk menganggap semua penulis lama yang saya kagumi sebagai “orang tua”, merasa kunjungan ini semacam kunjungan “mudik”. Saya memandangi bagian-bagian rumahnya, seolah mengingat kembali detail-detail rumah tempat tinggal saya yang diingat dari masa kecil (bedanya, saya mencoba mengingat detail rumah Dickens melalui apa yang dia tulis di buku-bukunya). Saking khusuknya, saya lama sekali di sana hingga tiga putaran pengunjung bahkan melewati saya, dan saya terlambat untuk berkunjung ke tempat satunya lagi yang saya rencanakan, Sherlock Holmes Museum. Tak apa, mudik sebaiknya ke satu rumah dalam satu waktu. Dan ketika meninggalkan rumah tersebut, saya memperoleh kesan bahwa tujuan utama museum itu rasanya berhasil tercapai, setidaknya untuk saya: saya jadi ingin membaca lebih banyak karya Dickens.

2015-20-Charles-Dickens-Museum_01

2015-20-Charles-Dickens-Museum_02

2015-20-Charles-Dickens-Museum_03