Journal

Blood Meridian, Cormac McCarthy

Sejauh mana kegilaan manusia bisa terentang? Dan sejauh mana daya hidup manusia bisa bertahan dari kegilaannya zaman dan kegilaannya sendiri? Disebut-sebut sebagai salah satu mahakarya kesusastraan Amerika (dalam satu rangkaian bersama Moby Dick dan As I Lay Dying), novel ini merupakan fondasi sebuah bangsa dari sudutnya yang paling gila dan memualkan. Semacam pengakuan dan riwayat segala dosa yang mungkin dilakukan segerombolan manusia. Kita akan bertemu si bocah yang hanya disebut sebagai “The Kid”, yang kabur dari rumah di umur empat belas tahun. Ia sejenis Huck Finn dalam sosoknya yang brutal, melancong dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup melewati berbagai perkelahian, dengan kepalan tangan, dengan tendangan kaki, leher botol, pisau belati, hingga pelor sempat juga menerjang punggungnya. Dan di satu bar, ia membunuh seorang lelaki. Tapi itu hanya bagian pembuka saja, itu hanya awal dari opera kekerasan yang harus dijalaninya. Awal yang membawanya untuk bergabung dengan pasukan pemburu Indian sepanjang perbatasan Meksiko, untuk menangkap, membunuh dan menguliti kepala mereka. Kita juga akan berjumpa sosok lain, seorang lelaki plontos bernama Holden yang lebih banyak disebut sebagai “The Judge”. Tak jelas asal-usulnya, tapi ia seorang pencatat, pembuat sketsa, tertarik kepada artefak-artefak peninggalan Indian, membaca rasi-rasi bintang, tapi sekaligus dengan dingin bisa membunuh siapa pun, menguliti kepala siapa pun, sebab setelah jadi lembaran kulit, Indian atau bukan tak ada bedanya. Mereka berdua bergabung dengan gerombolan koboi pemburu Indian yang dipimpin oleh Glanton, yang memperoleh kontrak perburuan ini dari kedua pemerintah di kedua sisi perbatasan. Blood Meridian tak hanya membeberkan dunia yang liar, penuh kekerasan, tapi juga korup dan bengis. Tentu saja ada pemerintahan, ada markas-markas tentara di sana-sini, ada hukum dan pengadilan dan penjara, juga ada kavaleri yang sesekali lewat, tapi semua itu terasa sebagai basa-basi saja. Selebihnya adalah rimba belantara manusia dan gurun pasir, di mana perkara bertahan hidup lebih penting dari segalanya, dan yang kuat, yang licik, mungkin bisa bertahan hidup. Ditulis Cormac McCarthy dengan cara episodik, kita akan berbenturan dengan berbagai kekejian ini. Jangan cuma kepala manusia dicokok botol hingga retak dan otaknya meleh, atau kepala manusia dipenggal dan kepalanya itu ditenteng-tenteng menjadi sejenis piala, atau daun telinga yang diiris dan dijadikan semacam kalung yang digantungkan di leher, bahkan bayi manusia dijinjing dari punggung kuda dan dibantingkan ke batu, terpapar di novel ini. Ya, untuk kamu yang tak tahan menghadapi gambar-gambar semacam itu, sebaiknya perkuat daya tahan mentalmu sebelum membacanya. Di antara semuanya, sosok The Judge merupakan yang paling menarik. Bagi saya, ia merupakan penjelmaan Iblis yang nyaris sempurna, yang dengan pahit barangkali mengajarkan kita bagaimana bertahan hidup di dunia yang edan: yakni ikut menjadi edan. Ia tampak seperti di atas semua nilai-nilai moral, di atas pengetahuan, bahkan di atas pengalaman. Ia seperti memahami rahasia terdalam kebrutalan hidup. Adegan yang paling mengerikan, yang menampakkan wajahnya yang paling dalam terjadi ketika ia menghampiri tiga orang penyintas yang selamat dari serbuan Indian. Ia menginginkan topi salah satu penyintas. Ia menawar. Meskipun awalnya topi itu tidak dijual, ia terus menawar. Menaikkan harga. Dolar demi dolar. Kita tahu, keinginannya harus dan akan terpenuhi. Hingga terakhir, ia menawar satu-satunya pistol di antara mereka, milik The Kid, yang kita tahu akan mengantarkan si bocah ke akhir yang tragis. The Judge menari bersama kegilaan dunia, sebab ia tak pernah tidur. Sebab, sebagaimana ia selalu berkata, ia tak pernah mati. Seperti jiwa jahat yang bertahan dari zaman ke zaman.



Standard

2 thoughts on “Blood Meridian, Cormac McCarthy

  1. andrilla says:

    Nah, novel-novel kaya gini, nih, yang bikin dilema. Satu sisi aku paham dan mengiyakan (terutama pengertian yang kuat yang menang) tapi di dunia nyata tetep ga berani mengaplikasikan. Pembenarannya cuma ada di dunia ideku. Hfffttt… aku ngefans smpyn. Suka banget sama buku-bukunya smpyn. Maaf belum bisa kirim hadiah.

Comments are closed.