Dalam ratusan, bahkan ribuan tahun sejarahnya, kita melihat manusia berhasil menjinakkan banyak binatang. Menjadikan warga domestik. Paling mudah untuk dikenali di masyarakat urban dan modern: kucing dan anjing. Dengan sangat mudah kita melihat kedua binatang itu dari rumah ke rumah. Mereka telah melewati hidup, melewati satu keadaan, yang saya kira mereka tak lagi bisa bertahan hidup tanpa manusia. Kita memang masih bisa melihat kucing dan anjing “liar” di jalanan. Saya menyebut “liar” dengan tanda petik, sebab mereka pada dasarnya tak benar-benar liar. Lebih tepat disebut “tanpa pemilik” daripada liar. Kenapa? Sebab jelas, anjing dan kucing “liar” ini pada dasarnya juga telah terdomestikkan. Mereka bukan binatang-binatang yang turun begitu saja dari hutan. Mereka lebih besar kemungkinan berasal dari rumah, diabaikan pemiliknya atau nenek moyangnya, dan luntang-lantung di jalanan. Sebagian besar dari mereka kehilangan daya bertahan hidup tanpa “bantuan” manusia: mereka memakan sampah manusia, dan tanpa itu mereka mati. Hewan-hewan ini telah dikondisikan, ribuan tahun lamanya, untuk tergantung kepada manusia. Persis seperti negara berkembang tergantung kepada lembaga-lembaga keuangan internasional. Para pemelihara hewan, dengan sangat cerdas, membalut penaklukan ini dengan istilah yang terdengar sopan: mengadopsi. Persis seperti para rentenir lembaga keuangan dunia menaklukkan negara berkembang dengan istilah yang juga sopan: bantuan keuangan. Tentu ada yang lebih parah dari itu. Jika hewan peliharaan, meminjam istilah Gramscian, dihegemoni dengan dilucuti kesadarannya (kesadaran sejarah kehidupan mereka), binatang-binatang lain ditaklukkan, tak hanya dijinakkan, tapi ditindas seperti budak. Hidup hanya untuk melayani kehidupan manusia: domba, sapi, babi, ayam … mereka hidup, bereproduksi, hanya untuk memenuhi kehidupan manusia. Baiklah, lupakan isu mengenai binatang dan penaklukan manusia ini. Saya yakin bahasan ini bisa berleret-leret menjadi buku sepanjang ratusan halaman. Saya hanya ingin bertanya, di antara binatang-binatang ini, binatang apa yang paling berhasil dijinakkan? Dijadikan warga domestik? Saya yakin jawaban yang paling tepat hanya satu: manusia. Baragam perangkat menjadikan manusia jinak dan domestik: pranata sosial, lembaga-lembaga, bahkan pengetahuan. Mau tidak mau, kita akan memikirkan hal-hal seperti ini jika membaca novel bagus semacam The Year of the Hare, karya penulis Finlandia, Arto Paasilinna. Para filsuf, dari generasi ke generasi, terus bicara mengenai kebebasan manusia. Saya rasa mereka membicarakan itu dalam satu nostalgia, juga dalam satu kesadaran, keadaan telah sedemikian rupa sehingga manusia menjadi tak berdaya untuk menjadi bebas. Seperti hewan peliharaan, mereka telah dicerabut dari segala keliaran, kehilangan daya tahan hidup tanpa jejaring yang telah membuat mereka jinak: negara, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, perkawinan, ideologi, agama, bahkan cinta. Meskipun begitu, saya yakin keliaran itu selalu ada di dalam peta genetik mereka, dan itu harus disalurkan sekali-kali agar tidak meledak menjadi pembangkangan. Seperti anjing yang harus diajak jalan-jalan dan dibiarkan berburu bola, sebab jika tidak satu hari mungkin ia akan memburu anak pemiliknya. Seperti gunung berapi yang sering batuk-batuk selalu dianggap lebih aman daripada yang tidur puluhan tahun, hasrat kebebasan, keliaran manusia harus diberi ruang: berburu, berkelahi, memperebutkan kekuasaan, atau sesederhana liburan. Jika tidak, kita mungkin akan menjadi seperti Vatanen di novel The Year of the Hare ini: ia meninggalkan pekerjaannya yang mapan, istrinya, harta-bendanya, dan memilih berkelana di hutan-hutan Finlandia berteman seekor kelinci liar. Kurang lebih sama seperti sosok Knut Pedersen di novel The Wanderer karya Knut Hamsun yang memilih berkelana di hutan-hutan dan pedesaan Norwegia. Sebab, seperti binatang-binatang yang lain, manusia tak lain merupakan produk penjinakkan, menyederhanakannya menjadi warga domestik. Beberapa mungkin memang berhasil dibikin tak berdaya, tapi beberapa barangkali terus mencari celah untuk melarikan diri dari kungkungan. Sebab, “Aku ini binatang jalang,” kata Chairil Anwar, yang hari ini kematiannya kita peringati.