Di satu pusat perbelanjaan, saya membaca satu kutipan yang ditulis sangat besar di dinding, yang membuat saya tersenyum. Kutipan itu dari Bo Derek: “Siapa pun yang bilang uang tak bisa membeli kebahagiaan, sebenarnya sesederhana ia tak tahu kemana harus belanja.” Kutipan itu dalam Bahasa Inggris, saya menerjemahkannya di sini. Baiklah, saya kadang-kadang termasuk yang ikut sinis dengan kegemaran orang berbelanja, terutama tentu saja kecenderungan berbelanja hal-hal yang sebenarnya tak mereka butuhkan. Para pakar sosial, para pengamat ideologi, akan berkomentar, Kapitalisme membuat orang mengonsumsi apa yang mereka inginkan, bukan yang mereka butuhkan. Perusahaan dan para ahli pemasaran menciptakan keinginan ini, menjadikannya seolah-olah kebutuhan. Tapi mengingat kutipan Bo Derek tadi (saya sebenarnya tak tahu darimana kutipan itu berasal, dan terlalu malas untuk mengeceknya), saya bertanya-tanya, jangan-jangan uang yang mereka belanjakan sesederhana membeli kebahagiaan. Kebahagiaan itu bisa berupa pakaian yang bagus, sepatu dengan label tertentu, atau sesederhana tindakan menyodorkan kartu kredit atau debit ke petugas kasir (tak peduli apa yang mereka beli). Dan kebahagiaan, merupakan kebutuhan atau keinginan? Saya rasa untuk sebagian besar manusia, kebahagiaan merupakan kebutuhan. Di sini saya tidak sedang membela perilaku konsumtif. Saya tentu saja masih berkeyakinan, membelanjakan uang dengan sehat tetap merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Saya tetap seorang manusia yang berharap distribusi ekonomi di dunia dilakukan secara merata (melalui sistem ekonomi, melalui peran negara, atau apa pun). Gandhi pernah bilang, “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tapi tak akan cukup memenuhi keserakahan.” Kita kembali ke soal belanja. Saya sedang tak ingin mengkritisi apa yang dilakukan orang lain dengan uang mereka. Saya sedang ingin melihat diri saya sendiri. Meskipun kadang sinis terhadap perilaku konsumtif, saya tahu kadang saya juga menjadi “korban” perilaku ini. Oh, tentu saya bukan seorang lelaki yang gemar membuka katalog jam tangan bagus dan membelinya tanpa berpikir akan memakainya atau tidak, atau membeli majalah gadget dan membeli semua seri iPhone meskipun sehari-hari lebih banyak memakai BlackBerry. Sejujurnya, bahkan meskipun saya ingin melakukannya, saya tak punya cukup banyak uang untuk itu. Dengan sedikit uang yang saya punya, saya tahu saya juga punya sedikit keserakahan, punya sedikit dorongan konsumtif untuk dua hal: buku dan kaus oblong. Kapan-kapan saya bercerita tentang kaus oblong. Yang jelas saya berasal dari keluarga yang menggeluti bisnis kaus oblong, jadi tak mengherankan jika saya menyukainya. Mengenai buku, orang bisa bilang bahwa untuk penulis seperti saya, buku merupakan kebutuhan. Tak ada yang salah dari seorang penulis yang kelewat banyak berbelanja buku. Bahkan untuk seseorang yang bukan penulis, berbelanja banyak buku pasti dimaafkan. Mereka akan bilang, buku merupakan sumber pengetahuan. Buku merupakan sesuatu yang berguna. Tapi benarkah buku merupakan kebutuhan? Jangan-jangan, buku juga sekadar keinginan belaka? Berapa banyak buku yang kamu beli dan kamu belum membacanya selama berbulan-bulan, bahkan setelah beberapa tahun? Sejujurnya saya punya beberapa (lumayan banyak), buku yang saya punya dan belum saya baca selama beberapa tahun. Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan buku sudah merupakan sekadar keinginan untuk saya. Jika saya membeli delapan buku dalam sebulan (kadang-kadang lebih banyak dari itu jika sedang ada pemeran atau penerbit yang memberi program potongan harga), beberapa di antaranya mungkin tak akan sempat saya baca. Saya bisa membaca lebih dari delapan buku dalam sebulan, tak peduli sesibuk apa, tapi tetap saja selalu ada buku yang terlewat. Kecepatan membeli buku lebih sering melebihi kecepatan saya membaca. Maka jangan heran jika ada kejadian-kejadian seperti ini: satu hari saya membaca artikel di internet tentang seorang penulis Austria yang di tahun 20-30an, merupakan penulis yang terkenal sekali di dunia, tapi setelah kematiannya, hampir jarang sekali orang membacanya kembali. Saya jadi penasaran dan mencoba mencari apa saja bukunya, dan berpikir mau membeli satu bukunya yang tipis sebagai percobaan, berjudul Chess. Tapi sebelum benar-benar membeli, tiba-tiba saya seperti mengingat sesuatu. Tunggu, pikir saya. Saya rasa saya sering membaca nama penulis ini: Stefan Zweig. Saya berpikir keras, dimana saya melihat namanya. Akhirnya saya memutuskan lari ke perpustakaan saya dan, ah, saya menemukan bukunya di sana. Saya beberapa kali melihat namanya jika sedang mencari buku di rak. Ternyata selama beberapa tahun saya punya satu novelnya, Beware of Pity. Saya tak hanya tak pernah membacanya, saya bahkan tak ingat darimana saya memperoleh buku itu. Jadi, apakah membeli buku benar-benar kebutuhan, atau sekadar keinginan? Sekadar memenuhi nafsu untuk belanja? Untuk merasa menguasai benda-benda?