Eka Kurniawan

Journal

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(1) Para pendongeng, sejatinya merupakan pengumpul kisah. Ia mendengar sebuah kisah dari orang lain, yang mungkin mengalami peristiwa di dalam kisah tersebut, atau mendengarnya dari orang lain lagi yang mengalaminya, lalu si pendongeng menyampaikan kisah tersebut dengan caranya sendiri. Kadang-kadang si pendongeng mencampurkan kisah dari satu orang dengan kisah dari orang lain, yang mungkin tak berhubungan sama sekali, sehingga menjadi satu kisah yang lain. Walter Benjamin pernah menyinggung soal ini ketika bicara mengenai penulis Rusia, Nikolai Leskov, dalam esai terkenal berjudul “The Storyteller”. Hal ini benar pula menyangkut Pu Songling, penulis Strange Tales from a Chinese Studio (1766). (2) Apa yang disebut cerita aneh adalah, kisah dimana hal-hal yang tidak wajar, hal-hal yang asing, menunggangi hal-hal yang kita anggap wajar atau kita akrabi. Misalnya dalam kisah mengenai lelaki bangsawan yang mata-ke-ranjang, “Talking Pupils”, yang karena menggoda seorang calon pengantin, disembur debu yang telah dijampi-jampi. Sejak saat itu, matanya jadi tak bisa melihat. Tapi di dalam matanya tinggal dua makhluk asing, yang ngomel-ngomel karena mereka juga tak bisa keluar melihat dunia. Akhirnya kedua mahkluk itu tinggal di satu mata dan membuat jendela, atau pintu, agar bisa jalan-jalan keluar. Si sosok bangsawan akhirnya bisa melihat kembali dan tobat. Makhluk kecil di dalam mata merupakan elemen yang tidak wajar, apalagi sampai bicara. Tapi membuat jendela atau pintu dari selaput yang menutupi merupakan elemen yang mudah dimengerti. Jika hal-hal tidak wajar melakukan tindakan-tindakan yang juga tidak wajar, itu tak akan menjadi kisah aneh, sebab kita dengan sadar menempatkan diri ke dunia yang berbeda. (3) Teori-teori cerita-rekaan modern seringkali memperumit masalah dengan menuntut banyak hal: perkembangan karakter, dramatisasi, sudut pandang, dan lain sebagainya. Pu Songling menunjukan betapa bercerita bisa sangat sederhana. Betapa cerita bisa disampaikan dalam beberapa paragraf, dengan karakter yang datar (hanya disebutkan siapa dan bagaimana tokoh tersebut). Yang terpenting adalah apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana akhirnya. Plot. Ini berlaku untuk banyak cerita Jorge Luis Borges, dan kita tak heran mengapa penulis Argentina ini merupakan salah satu penggemar garis keras Pu Songling. (4) Cerita yang baik, saya rasa merupakan peristiwa, atau beberapa peristiwa, yang bisa dilihat dengan lebih dari satu cara pandang. Dalam kisah “The Painted Wall”, Zhu terpesona oleh gambar bidadari di dinding kuil sehingga ia terperosok masuk ke kahyangan dan bercinta dengan bidadari itu. Selama kepergiannya ke kahyangan, ia menghilang dari hadapan temannya di dunia nyata, yang mencari-carinya. Setelah biksu di kuil tersebut mengetuk dinding kuil, kembalilah Zhu ke dunia nyata. Ia menceritakan pengalaman anehnya kepada biksu dan temannya, dan bertanya sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi. Sang biksu hanya berkata: “Sumber ilusi berada di dalam manusia sendiri. Siapa aku untuk menerangkan hal seperti ini?” Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa, itulah mengapa peristiwa menjadi cerita. (5) Yang aneh, seringkali sekaligus merupakan sesuatu yang lucu. Kisah “A Fatal Joke” merupakan contoh terbaik mengenai hal ini. Seorang lelaki bernama ‘X’, terbunuh oleh gerombolan bandit. Tapi ketika keluarga hendak menguburnya, lelaki itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Keluarga akhirnya menutup luka sayatan pedang di tubuhnya dan merawatnya hingga sembuh. Sepuluh tahun kemudian, seorang temannya menceritakan kisah lucu, dan ia tertawa terbahak-bahak, hingga bekas lukanya terbuka kembali. Darah menyembur deras dan ia mati. Ayahnya memutuskan untuk menuntut si pembuat lelucon atas pembunuhan itu. (6) Seringkali plot pun bahkan sama sekali tak perlu. Yang kita perlukan hanyalah menggambarkan saja apa yang terlihat. Seorang pendongeng kadangkala hanyalah seorang pelapor satu pemandangan. Misalnya ia pernah melihat seorang pengamen dengan kodok-kodoknya yang bisa memainkan bunyi layaknya orkestra, dan ia hanya menuliskan bagaimana pengamen itu membuat kodok-kodoknya berbunyi. Ini mengajarkan kita satu hal: kekuatan suatu karya sastra, pertama dan terutama, ada di elemen paling mendasar. Kata dan bagaimana kita mempergunakan kata-kata.

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

1 Comment

  1. Melalui tulisan Pak Eka ini saya dapat pelajaran baru: cerita juga bisa tak memiliki plot. Saya sering membaca cerita-cerita seperti itu di Kompas dan Koran Tempo.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑