Eka Kurniawan

Journal

Ayah dan Anak

Membaca novel yang menceritakan hubungan ayah dan anak, akhir-akhir ini sering membuat saya merasa sentimentil. Saya sering melihat anak perempuan saya dan bertanya-tanya, masa depan macam apa yang bisa saya sediakan untuknya; dan apakah saya bisa menjadi ayah yang baik. Lain kali, saya teringat kepada ayah saya, yang sudah tiada, dan mengenang hal-hal baik yang pernah kami alami, dan hal-hal buruk yang beberapa di antaranya saya sesali. Si anak kecil di The Road Cormac McCarthy, beberapa kali mengingatkan ayahnya untuk menepati apa-apa yang telah dikatakannya sendiri. Saya membayangkan, seandainya saya dan ayah saya berada di posisi kedua tokoh di novel itu, saya tak terlalu yakin saya akan banyak bicara dengan ayah. Itu salah satu yang saya sesali. Saya pernah berdua saja dengannya naik kereta ke Yogya. Kami tak banyak bicara, asyik dengan pikiran sendiri-sendiri. Turun di Stasiun Tugu, menelusuri trotoar Malioboro, kami bahkan tak juga bicara satu sama lain. Hingga tiba-tiba ia melirik kaus yang saya kenakan. Saya ingat, saat itu saya memakai kaus putih bergambar Sebastian Bach (bukan komponis klasik, tapi vokalis Skid Row), yang saya lukis sendiri. Saya sangat menyukai kaus itu, hingga saya memakainya berulang-ulang. Saat itu jelas kaus itu telah sangat lusuh, mungkin sudah sedikit berlubang. Ayah memandang saya dengan tatapan prihatin, lalu menunjuk ke satu toko. “Masuk dan cari kaus, ganti kausmu yang itu.” Ia juga jarang bicara, tapi sama sekali bukan tak peduli. Seandainya waktu bisa berulang, saya ingin sekali bersikap seperti anak kecil di The Road. Saya akan bicara apa saja, bertanya ini-itu kepada ayah saya, sebab saya tahu kadang-kadang saya bisa sangat cerewet. Bertahun-tahun kemudian setelah peristiwa kaus oblong di Malioboro itu, saya lulus kuliah dan memutuskan untuk tetap tinggal di Yogya. Tanpa kiriman uang, saya mengerjakan apa saja agar bisa makan dan membayar sewa pondokan (menjadi ilustrator untuk sebuah biro iklan kecil, membuat poster untuk LSM, mendesain sampul buku, menerjemahkan artikel, hingga membuat kaus untuk pemilihan kepala desa), sambil mati-matian mencoba meniti karir menjadi penulis. Berbulan-bulan hingga setahun lewat, saya tak pulang, bahkan di Hari Lebaran. Sekali waktu ada telepon dari rumah (saya baru saja memiliki telepon genggam). Ternyata dari ayah saya. Kami ngobrol pendek saja, dan intinya ia hanya bertanya, “Apakah kamu punya uang?” Saya dalam keadaan tak punya uang, tapi saya tak ingin membuatnya cemas, maka saya bilang saya baik-baik saja dan punya uang. Setelah telepon ditutup, beberapa menit kemudian telepon kembali berdering. Kali ini dari ibu saya. Saya bisa ngobrol lama dengan ibu saya. Tapi kali itu, ibu hanya ingin memberitahu saya bahwa: “Jika tak mau pulang, tak apa-apa, tapi teleponlah ayahmu paling tidak sebulan sekali, sebab ia terus menanyakanmu.” Saat itu mata saya berkaca-kaca, meskipun yang keluar dari mulut saya adalah kata-kata anak muda tak tahu diri: “Jika tak ada kabar dariku, berarti aku baik-baik saja.” Dan ketika ayah tahu saya sedang berusaha mewujudkan mimpi masa remaja saya untuk menjadi penulis, ia tiba-tiba bilang kepada saya, bahwa ia punya kenalan seseorang di penerbitan. Ia ingin membantu saya, meskipun kemudian ia tak pernah membahasnya lagi, seolah sadar untuk hal itu saya tak akan pernah mau menerima bantuan darinya. Saya tak tahu kenapa tiba-tiba membaca Cormac McCarthy. The Road di tangan saya hanyalah buku bekas. Saya lupa kapan membelinya. Ada stempel toko buku bekas di Kuta, Bali, di balik sampulnya. Berarti telah beberapa tahun lalu. Jika ayah saya masih ada, ingin sekali saya menyodorkan buku itu kepadanya. Saya bayangkan di waktu tuanya, ia punya lebih banyak waktu membaca. Bahasa Inggrisnya saya rasa jauh lebih baik dari saya. Ia guru Bahasa Inggris di SMP, meskipun kemudian ia lebih memilih berwirausaha. Kami akan membicarakan novel itu. Membicarakan posisi McCarthy di antara raksasa-raksasa kesusastraan Amerika. Sayangnya ia sudah tiada. Kami tak sempat berbagi selera bacaan. Kini apa yang bisa saya harapkan barangkali, segala harapan yang tak bisa saya lakukan bersama ayah, mungkin bisa saya lakukan bersama anak perempuan saya. “Kamu melupakan apa yang ingin kamu ingat, dan mengingat apa yang ingin kamu lupakan,” kata si ayah di The Road. Saya selalu teringat hal-hal menyedihkan itu, sebab tentu saja karena saya selalu berusaha melupakannya.

1 Comment

  1. Kenapa hubungan ayah dan anak lelaki selalu dingin seperti itu? Hubungan saya dan Ayah saya (83 th) juga dingin dan jarang bicara. Tapi semalam saya memeluk tubuhnya yang sudah renta, sambil meminta maaf karena hari ini akan puasa. Ada kehangatan di sana :'(

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑