Saya sering kagum dengan penulis yang membuat judul untuk novelnya dengan satu frasa yang tampak … tidak komersil? Tidak cantik? Paling tidak untuk ukuran selera pembaca Indonesia. Michel Houellebecq salah satunya. Novelnya yang pertama kali saya baca berjudul The Map and the Territory. Bayangkan, dengan judul seperti itu, saya ragu bukunya akan diletakkan di rak novel di toko buku (mungkin akan berjejer bersama buku-buku Lonely Planet). Atau barangkali editor di penerbit akan mengernyitkan dahi? Dan tengok judul novelnya yang lain, dalam Bahasa Perancis Les Particules élémentaires. Ketika terbit dalam Bahasa Inggris di London, judulnya jadi Atomised. Diterbitkan kembali di New York lebih sesuai judul aslinya: The Elementary Particles. Di Indonesia? Jika diterbitkan di sini dengan judul (kira-kira) Partikel-partikel Dasar, tampaknya akan berakhir di rak buku pelajaran fisika di toko buku (dan saya sungguh ragu ada penerbit lokal di sini mau menerbitkan novel dengan judul seperti itu). Baiklah, meskipun saya menyebut judul novel itu tampak tidak komersil, jelas saya salah besar: novel itu sangat laku di negeri asalnya, dan merupakan salah satu novel terbaik di awal milenium ini. Bagaimanapun, mengenai judul itu, novel ini berkisah tentang seorang peneliti, yang bisa dibilang tercerabut dari masyarakat, dari hubungan-hubungan personal, demi mempelajari perilaku partikel di laboratorium. Tapi lebih jauh dari itu, seperti di novel yang saya baca sebelumnya, Houellebecq senang untuk membongkar kisahnya, partikel-partikelnya, hingga hal mendasar di balik penampakannya. Seperti Descartes (saya kira mereka berbagi tradisi Perancis), ia mengiris setiap bagian cerita, mengirisnya terus hingga sulit untuk diiris lagi. Partikel pertama yang menonjol di novel ini, tentu saja seks. Seks dalam kerangka modern, dalam konteks generasi bunga di tahun 60-70an, seks di masyarakat Eropa selepas perang besar. Dimulai dua bersaudara (tiri): Michel yang memiliki kesempatan untuk meniduri gadis cantik yang jatuh cinta kepadanya, tapi ia tak pernah punya dorongan untuk melakukan itu; sementara Bruno selalu dipenuhi bayangan meniduri cewek ini dan cewek itu, bahkan masturbasi di kereta, tapi tak juga menemukan perempuan yang mau tidur dengannya. Kisah mereka seperti kontras untuk seks di masa itu yang menjadikan erotisme melulu sebagai barang konsumsi, dengan slogan “pleasure is a right”. Dari seks, kita dibawa ke partikel kedua: spiritual. Novel ini juga berkisah tentang sebuah tempat bernama Lieu du Changement, tempat orang seperti Bruno mencari cewek yang mau diajak tidur (meskipun lebih sering cuma masturbasi di hadapan satu majalah porno). Selain itu, tempat tersebut juga merupakan titik berbagi antusias segala yang berbau timur (di tengah rasa jenuh kepada budaya barat). Maka secara konyol mereka mengadakan kursus semacam Zen and the Art of Tango, atau bahkan Tantric Accounting. Tapi sebenarnya, sebelum masalah seks dan spiritual, kita dihadapkan pada partikel lain, ketiga: keluarga. Di atas semuanya, saya rasa ini partikel yang juga muncul di The Map and the Territory, kita dihadapkan pada: kematian. Atau lebih tepatnya, hidup dan mati. Sekali waktu Gabriel García Márquez pernah bilang, bahwa seorang penulis pada dasarnya hanya menulis satu novel seumur hidupnya (ia bilang, seluruh novelnya bisa diringkas menjadi satu novel tentang kesunyian). Soal ini ada di buku wawancara Plinio Apuleyo Medoza dengan Márquez di The Fragrance of Guava. Mengatakan hal yang kurang-lebih sama, Milan Kundera juga pernah bilang, seluruh novelnya bisa diberi judul yang sama: The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah, ia mengatakan itu di salah satu edisi wawancara jurnal The Paris Review. Saya baru membaca dua novel Houellebecq, tapi saya kira kedua novel itu bisa diberi judul satu saja: Les Particules élémentaires. Untuk membuktikannya, saya akan mencoba membaca novel pertamanya, yang dalam terjemahan Bahasa Inggris berjudul Whatever, dan mungkin novelnya yang lain lagi.