Eka Kurniawan

Journal

Aristoteles, Novel Sebagai Kehidupan Potensial

Apakah novel yang baik merupakan novel yang membuat pembacanya percaya pada isinya? Apakah kualitas Don Quixote terletak pada kemampuannya meyakinkan kita bahwa sang tokoh memang gila karena membaca kisah-kisah para ksatria? Apakah kualitas Alf Layla wa Layla ditentukan oleh kemampuannya meyakinkan kita bahwa melalui dongeng-dongengnya, Syahrazad bisa mengulur hasrat suaminya untuk membunuh dirinya? Beberapa tahun lalu, saya akan mengatakan iya; tapi lama-kelamaan saya menjadi ragu. Berkali-kali membaca kedua karya tersebut justru membuat saya tak perlu memercayai apa pun yang ada di sana untuk membuat karya-karya tersebut bagus (atau menghibur saya). Bagaimanapun, kisah seorang perempuan yang terbebas dari pancung hanya melalui dongeng yang diulur bermalam-malam, sebenarnya terdengar konyol dan tak meyakinkan. Tak masuk akal. Beberapa bagian dari pemikiran Aristoteles di Poetic barangkali memberi dasar bagi keragu-raguan saya. Tentu saja Aristoteles tak pernah bicara tentang novel. Di masanya, novel belum juga dilahirkan. Meskipun begitu, seni bercerita melalui seni pertunjukan di atas panggung, yang kemudian kita kenal sebagai drama atau teater, tengah mencapai puncaknya dalam kehidupan orang Yunani, terutama di Athena. Apa yang kita kenal sebagai Tragedi Yunani dilahirkan di masa-masa itu, dan Aristoteles merupakan salah satu komentatornya yang paling cemerlang. Tak hanya tragedi, tentu saja, mereka juga melahirkan komedi. Intinya, mereka melahirkan suatu seni bercerita dan Aristoteles merupakan salah seorang pemikir yang mencoba merumuskan apa itu seni bercerita. Mundur sedikit ke belakang, Plato menganggap bahwa seni pada dasarnya merupakan tiruan (mimesis) kehidupan. Pandangannya ini berasal dari gagasan idealismenya: kehidupan ini sendiri merupakan tiruan dari dunia ide. Ada akibat yang sangat jelas dari gagasan Plato ini: seperti tas Louis Vuitton tiruan, kehidupan ini selalu bersifat tidak sempurna, rapuh, buruk dan segala hal negatif lainnya. Demikian pula seni berarti barang yang lebih tidak sempurna, rapuh dan buruk. Aristoteles, sebagai murid Plato, mengaimini pandangan tersebut tapi dengan perubahan yang sangat mendasar dan bisa dibilang mendekati gagasan modern mengenai “fiksi”. Ia sepakat bahwa seni merupakan tiruan dari kehidupan, tapi ia menjabarkannya lebih lanjut bahwa ada tiga pembeda karya seni yang satu dengan yang lainnya dilihat dari peniruannya. Pertama, medium peniruan. Itu bisa lukisan, musik, kesusastraan. Kedua, obyek tiruan. Itu bisa berarti kita meniru melodi di musik, meniru perilaku orang di pertunjukan drama, meniru gerakan dalam tari, dan lain sebagainya. Ketiga, bagaimana cara kita meniru. Saya kira bagian ketiga ini merupakan bagian yang sangat menantang dalam pemikiran Aristoteles. Ia tak banyak menjelaskannya (hanya menyebut misalkan dengan cara dramatik, naratif atau lirik), barangkali karena sederhananya bentuk-bentuk ekspresi kesenian di masanya. Dalam novel modern, kita tahu ada begitu banyak (bisa dibilang setiap novel memiliki caranya sendiri, atau setidaknya setiap novelis) bentuk dan cara. Bayangkan, setiap penulis bisa memilih media yang sama (novel), tentang hal yang sama (misal tentang Perang Troya), tapi akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara itulah, seni (secara khusus novel) merupakan tiruan kehidupan, tapi sekaligus bukan tiruan sebab dengan sadar ada aspek-aspek pembeda yang disisipkan ke dalam dirinya. Inilah saya kira inti pemikiran Aristoteles. Artinya? Cervantes tidak semata-mata meniru kehidupan manusia gila pembaca novel-novel ksatria, tapi juga sebuah dunia yang secara potensial ada karena berbeda. Kembali ke permasalahan awal, apakah novel yang baik harus mampu meyakinkan kita bahwa dunia potensial ini bisa dipercaya? Saya meragukannya. Kehidupan potensial ini bagi saya selalu merupakan hipotesis. Hal yang mengasyikan dari kesusastraan bukanlah karena ia menciptakan dunia alternatif yang kokoh di mana kita bisa melarikan diri dari dunia nyata, tapi karena ia menciptakan dunia potensial yang bisa kita (pembaca) bawa ke mana pun sesuka kita. Lagipula, mungkinkah seorang penulis meyakinkan seluruh pembaca? Omong kosong. Tak ada penulis di dunia ini mampu melakukannya.

1 Comment

  1. Penulis tak perlu pusing meyakinkan para pembaca mahakaryanya. Saya bisa bilang percuma, karna tiap pembaca memiliki imajinasi yang berbeda dan fantastis. Makasi Kak Eka Kurniawan

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑