Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya? Tentu saja untuk sebagian besar orang, bacaan kita pastinya tumbuh. Apa yang kita baca ketika sekolah dasar akan berbeda dengan apa yang kita baca ketika berumah tangga. Tapi pertanyaan pentingnya, apakah ia tumbuh dengan semestinya? Apakah bacaan kita selaras dengan usia kita? Jujur, tak jarang saya melihat anak-anak kuliahan, berarti berumur sektar 20an awal, masih membaca novel-novel remaja. Saya tak bermaksud mengecilkan arti novel remaja. Novel-novel yang baik, termasuk bahkan novel anak-anak atau remaja, masih bisa dinikmati oleh semua kelompok umur. Tapi bagaimanapun, novel remaja adalah novel remaja. Industri (terutama penulis dan penerbitnya) mempersiapkan novel-novel tersebut untuk dibaca remaja (dengan memperhitungkan pengalaman hidup, biologis maupun intelektual). Jika kita telah berumur 20an, atau bahkan 30an, atau bahkan lebih tua dari itu, hanya mampu menelan atau bahkan hanya mampu dihibur oleh bacaan untuk anak belasan tahun, berarti ada masalah dengan bacaan kita. Ada yang tak tumbuh. Ada yang terlambat tumbuh. Ada yang sengaja atau tidak sengaja, telah menjadi bonsai. Terlambat tumbuh barangkali masih bisa diterima. Keadaan sosial dan sistem pendidikan kita memungkinkan kita menjadi pembaca-pembaca yang terlambat tumbuh. Saya tak akan heran bertemu dengan anak yang lulus sekolah menengah dan tak pernah membaca satu novel pun. Bahkan bisa bertemu dengan anak sekolahan di kota, yang tak bisa membedakan antara “buku” dan “novel”. Serius, saya bertemu dengan anak semacam itu beberapa kali. Bahkan bisa bertemu dengan orang dewasa, yang pada dasarnya memiliki kapasitas intelektual yang lumayan, masih melihat novel semata-mata sebagai bacaan hiburan belaka. Baiklah, bahkan apa yang disebut sebagai bacaan dewasa pun memiliki jebakannya sendiri. Barangkali ada pembaca tertentu yang merasa telah tumbuh, telah meninggalkan masa-masa membaca kesusastraan anak-anak dan remaja, dan masuk ke kesusastraan yang dewasa, tapi sebenarnya mungkin berhenti pula di satu titik. Itu seperti pernah mimpi basah dan merasa dewasa, padahal tak banyak berubah daripada sebelum mimpi basah. Problemnya, bacaan dewasa merupakan alam liar. Saya rasa tak ada orang yang mampu menyusun grafis pertumbuhan mana yang perlu dibaca oleh orang berumur 21 dan mana yang perlu dibaca oleh pembaca 50an tahun. Saya rasa setiap orang bisa menyusun untuk dirinya sendiri, tapi bahwa ia harus tumbuh saya rasa merupakan keniscayaan. Itu jika kita tak sayang pada kapasitas biologis dan intelektual kita. Sekali waktu saya membaca wawancara Javier Marías dan si pewawancara bertanya, apa yang ia baca di hari-hari ini? Ia menjawab, ia sudah lama tak membaca karya-karya kontemporer. Ia lebih banyak membaca karya-karya klasik, membaca mereka berulang-ulang. Bagi Marías, saya yakin itu merupakan pertumbuhan bacaannya, dengan ukuran-ukurannya sendiri. Sekali lagi, ukuran-ukuran itu barangkali personal. Tak ada yang bisa membuat penyamarataan, mana yang harus kita baca lebih dulu: Tolstoy atau Dostoyevsky? Membaca Flaubuert lebuh dulu atau Albert Camus dulu? Menjadi dewasa, saya rasa tak hanya ditentukan oleh bacaan apa yang kita pegang, tapi juga terutama berarti kemampuan untuk menentukan, ke arah mana kita ingin berkembang. Dan jika kita tahu ke arah mana kita ingin berkembang, kita juga mestinya tahu bagaimana kita menyusun tahapan-tahapan perkembangan itu. Yang artinya, begitu kita menginjak masa dewasa, kita tahu apa yang mestinya kita baca, dan ke mana kita ingin mengembangkan bacaan kita secara sadar. Dengan cara seperti itulah, kita bisa terus menjadi anak-anak dan remaja tanpa harus berhenti di bacaan milik mereka: terus-menerus menemukan hal-hal baru dan terkejut-kejut menguak rahasia dunia. Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu.