Eka Kurniawan

Journal

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara Sastra Indonesia?

Sudah sering saya mendengar seseorang bertanya, kenapa sastra Indonesia belum dikenal di dunia? Belum lama, saya membaca tulisan pendek Linda Christanty di Facebook, kurang lebih mengatakan, untuk apa memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia, jika kualitasnya masih memalukan? Kurang lebih saya akan sepakat dengannya. Tapi mari kita lihat sudut pandang lain. Sekali waktu saya pernah ditanya mengenai hal itu (jika dicari di internet, saya rasa akan ditemukan arsipnya), dan jawaban saya kurang lebih: apa yang disebut dunia itu dalam kasus kesusastraan hampir bisa dibilang berarti terjemahan dalam Bahasa Inggris diterbitkan di negara berbahasa Inggris (terutama Amerika dan UK). Dan perkara ini, Anda boleh merisetnya, hanya 3% dari penerbitan di dunia berbahasa Inggris (Amerika, UK, Australia), yang merupakan terjemahan. Dan kurang dari 1% berupa karya fiksi. Entah berapa nol koma persen yang merupakan fiksi sastra. Untuk menjadi bagian dari yang sangat sedikit itu, Anda harus menjadi salah satu penulis terbaik di antara terbaik (atau mungkin: sangat beruntung). Sastra Indonesia? Saya rasa belum menjadi hitungan. Oh, tentu saja jika Anda bertemu dengan kaum romantik (dan nasionalis buta), mereka akan mengatakan, “Kualitas kesusastraan kita sudah bagus, kok. Kita punya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dll (saya sebut yang sudah meninggal saja, biar penulis yang masih hidup tak terlalu berang, atau terlalu senang).” Saya juga menyukai mereka, dan akan mengatakan mereka beberapa di antara penulis terbaik yang kita miliki. Tapi mari kita sedikit lupakan bias nasionalisme ini. Mari kita lihat dengan cara berbeda. Saya bisa menyebut beberapa penulis sastra Norwegia. Saya bisa bikin daftar 10 penulis terbaik (menurut saya) Jepang. Jika ada yang meminta saya menyebut nama penulis Israel, paling tidak saya bisa menyebut dua nama. Sekarang mari kita balik: tanyakan kepada seorang penduduk Norwegia, yang doyan sastra: apa yang ia ketahui tentang sastra Indonesia? Oh, sebenarnya tak perlu sejauh itu. Anda cukup membuka jurnal-jurnal sastra, esai-esai sastra yang ditulis para penulis asing, dan lihat, apakah mereka pernah menyinggung tentang sastra atau nama penulis Indonesia? Saya belum pernah membacanya. Karya dan nama penulis Indonesia melulu muncul di artikel tentang Indonesia, ditulis oleh pengamat Indonesia. Itu fakta. Saya pribadi tak terlalu suka membungkus fakta itu dengan apa pun yang akan membuatnya lebih menarik. Terus, bagaimana cara kita menembus 1% kesusastraan itu? Beberapa akan mengatakan: kita butuh pemasaran yang baik, kita butuh penerjemahan karya-karya terbaik kita dan mendistribusikannya dengan baik. Itu benar. Tapi saya ingin melihatnya dengan cara yang sederhana: banyak yang sudah dilakukan mengenai hal itu, bahkan bisa dibilang setua umur kesusastraan modern kita, tapi hasilnya jauh dari menggembirakan. Seperti dalam berbagai bidang, mata rantai kesusastraan bisa disederhanakan dalam rangkaian produksi-distribusi-konsumsi. Selama ini saya melihat usaha kita untuk memperkenalkan karya kesusastraan Indonesia selalu dititik-beratkan di bagian distribusi-konsumsi. Saya yakin telah ratusan karya sastra Indonesia diterjemahkan, tak hanya ke Bahasa Inggris, tapi bahkan bahasa asing lainnya. Lebih dari 25 tahun, ada lembaga semacam Lontar yang “memperkenalkan kesusastraan Indonesia ke dunia” melalui upaya penerjemahan ini. Setiap tahun, banyak penerbit, atau ikatan penerbit, mengikuti pameran-pameran buku internasional (termasuk yang bakal bikin heboh: Frankfurt Bookfair 2015, di mana Indonesia konon akan jadi tamu, dan membuat penerbit kalang-kabut dan membabi-buta menerjemahkan produk-produk mereka). Hasilnya? Saya tak terlalu terkesan. Bagi saya, permasalahan besar kesusastraan Indonesia bukan karena kita kurang rajin menerjemahkan dan kurang rajin mempromosikannya. Bagi saya, permasalahan terbesar ada di hulu: produksi. Untuk menembus 1% elit kesusastraan di muka bumi ini, untuk memperbaiki keadaan kesusastraan Indonesia hari ini, saya hanya percaya satu hal terpenting: perbaiki kualitas penulis. Kirim anak-anak kita, remaja kita, anak-anak sekolah, ke kamp konsentrasi yang bernama perpustakaan, suruh mereka membaca, membaca dan membaca, 365 buku setahun jika perlu, kesusastraan dari penjuru planet, dari masa klasik hingga kontemporer, kalau perlu mereka bisa membaca dalam tiga atau empat bahasa, sebab memperbaiki kualitas manusia dewasa (penulis setua kita), percayalah akan sesulit mengajak setan berbuat kebaikan. Cara lain (untuk penggemar analisis hegemoni Dunia Pertama), dan ini jauh lebih susah lagi: ubah pola pikir masyarakat dunia (terutama Dunia Pertama!) sehingga mereka menganggap kesusastraan terbaik di dunia adalah apa yang dihasilkan para penulis Indonesia. Cara lain yang lebih gampang, dan ini sering saya lakukan karena memang gampang: bersikap tak peduli (anggap saja kesusastraan kita hidup di dunia tersendiri). Cara pandang saya atas kesusastraan Indonesia mungkin agak sedikit kelabu. Tapi jangan kuatir. Saya seorang Sagitarian, yang konon “bisa melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan.” Dengan semua masalahnya, saya tetap mencintai kesusastraan Indonesia, dan menikmatinya. Tentu saja termasuk menikmati karya-karya lugu dan bodoh kita.

3 Comments

  1. Betul Mas, saya sepakat soal pendidikan bagi anak-anak Indonesia sebaiknya membiasakan membaca dalam tiga atau empat bahasa. Ini bukan usulan yang mengada-ada, karena contohnya telah inheren dengan perjalanan sejarah bangsa dan negara sendiri, lihatlah seperti yang dialami oleh kalangan awal generasi pendiri bangsa dan negara Indonesia. Tokoh seperti Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Soekarno, dll juga bisa membaca dan menulis dalam berbagai bahasa, sehingga mampu bergaul dengan berbagai kalangan pemimpin pergerakan kemerdekaan dunia.

    Lagipula pengaruh penguasaan banyak bahasa akan berpengaruh positif bagi perkembangan bahasa Indonesia juga. Dalam periode kehidupannya, tokoh-tokoh pembaharu sastra yang memberikan fondasi atas penggunaan bahasa Indonesia dalam sastra, seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, dididik untuk membaca dalam berbagai bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, Jerman. Bahasa Arab diajarkan bagi mereka yang mengaji di surau atau pesantren. Hasilnya ialah generasi sastrawan yang mampu membaca dan menerjemahkan karya-karya dari bahasa asal penulisnya, sehingga mempengaruhi kualitas karya dalam bahasa Indonesia. Paling tidak, menurut saya, sebaiknya pendidikan sekolah umum mengajarkan bahasa Inggris, Perancis, Jerman. Kalau Belanda tidak perlu,karena karya sastranya kurang bagus mutunya.

    Dalam bahasa sederhana, penguasaan banyak bahasa asing akan meningkatkan pandangan (visi), apapun profesinya. Pendidikan bahasa asing ini hendaknya menjadi inheren dalam tradisi kebudaayn Indonesia, sebab sejarah telah mencatat bahwa bangsa ini dipimpin oleh para presiden yang menguasai banyak bahasa, mulai dari Soekarno, Habibie, hingga Gus Dur.

    Tulisan Mas Eka di atas bagus sekali gagasannya, sederhana tetapi menjangkau aspek paling hakiki dalam pendidikan manusia. Salut.

  2. Mas Eka,
    Mohon izin menyebarluaskan tulisan ini di mailing-list Ikatan Guru Indonesia yah. Saya akan sertakan alamat websitenya juga. Terima kasih

  3. Tulisan ini membuat saya malu sendiri. Ternyata dari sekian buku yang saya baca, rasanya saya belum membaca banyak karya asing. Bahkan saya merasa segan membaca karya sastra dalam bahasa aslinya. “Harus kerja tiga kali : menerjemahkan lalu memahami kemudian mempelajari gaya menulisnya. ”

    Anyway, tulisan ini menginspirasi saya untuk belajar membaca dan menulis lebih banyak lagi. Yah, meskipun saya sudah bukan golongan anak-anak atau remaja :) Semoga ide Anda bisa saya terapkan pada gadis kecil saya. Salam.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑