Eka Kurniawan

Journal

Apa yang Kamu Pelajari dari Novel?

Saya paling malas jika harus keluar pagi, menyetir menuju pusat kota Jakarta. Itu artinya saya harus terjebak dalam kemacetan yang panjang dan semrawut. Sejujurnya bukan kemacetannya yang menjengkelkan, tapi kesemrawutannya. Sepeda motor bisa naik ke trotoar, dan tiba-tiba bisa menyalip dari kanan atau kiri tanpa terlihat. Jika mereka menyenggol (atau tersenggol) dan jatuh, pengendara mobil selalu dianggap salah. Pengemudi mobil sama gilanya. Setiap hari kita bisa melihat mobil-mobil keluar dari jalur antrian, mencoba memotong di pintu masuk atau keluar tol. Di lampu merah, atau pintu kereta, mereka bisa menunggu di lajur kanan. Mereka tak hanya sopir angkutan kota, tapi bahkan kaum kerah putih. Apa yang ada di pikiran mereka? Orang bisa bilang, mereka mengejar waktu. Mereka ingin segera tiba di tempat kerja. Mereka perlu bekerja dan menghasilkan uang untuk keluarga mereka di rumah. Hah, bukankah semua orang juga begitu? Kenapa mereka tak pernah berpikir bahwa kita sama-sama ingin tiba di tempat tujuan dengan segera? Dari jalan raya Jakarta, saya melihat ilustrasi kecil mengenai ambisi. Lebih tepatnya ambisi pribadi yang menyedihkan. Kebanyakan orang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tiba di tempat kerja lebih cepat dari orang lain. Bekerja demi keluarga, dan kenapa harus peduli dengan keluarga orang lain? Saya jadi ingat satu cerita Pendek Ryūnosuke Akutagawa berjudul “The Spider Thread”. Dikisahkan Sang Buddha Shakyamuni yang sedang mengintip Neraka jauh di bawah Kolam Lotus. Di sana ia melihat seorang pendosa bernama Kandata, perampok yang bahkan membakar rumah dan membunuh orang. Tiba-tiba Sang Buddha teringat, betapa pun jahatnya Kandata, ia pernah berbuat baik sekali dalam hidupnya. Ketika itu ia sedang berjalan, ia melihat seekor laba-laba kecil dan hendak menginjaknya. Namun ia mengurungkannya, menganggapnya itu tindakan pengecut, dan membiarkan binatang itu hidup. Sang Buddha terpikir untuk memberinya kesempatan naik ke Surga. Di Neraka, Kandata tiba-tiba melihat seekor laba-laba merajut seratnya. Serat laba-laba memanjang, turun terus hingga mencapai Neraka. Kandata berpikir, jika ia menaiki serat laba-laba itu, ia bisa membebaskan diri dari Neraka dan naik ke Surga. Ia pun menaikinya, dan ketika ia sudah setengah jalan, ia baru menyadarinya semua orang di belakangnya juga berebutan naik. Ia berteriak-teriak, “Hey, siapa yang membolehkanmu naik? Ini seratku. Seratku!” Ambisi pribadi, hanya memikirkan diri sendiri, akhirnya hanya membuat mereka kembali terperosok ke Neraka setelah serat laba-laba itu putus kelebihan beban. Bukankah perilaku yang sama kita lihat sehari-hari di jalanan Jakarta? Darimana sebenarnya asal-usul semua ini? Sekali waktu, nongkrong di 7 Eleven, saya bertemu seorang teman lama yang bertanya, lebih tepatnya mengeluh, “Kenapa kesusastraan kita hari ini tak mewakili zaman?” Saya dengan santai menjawab, ada dua kemungkinan: pertama ia tak banyak membaca sastra, kedua ia salah membaca zaman. Saya bilang, “Jika saya tak salah ingat, ada banyak novel yang mereka beri label inspiratif, yang merajalela di toko buku. Mereka mengajarkan kita untuk memiliki mimpi setinggi langit. Lebih tepatnya mimpi pribadi. Ambisi pribadi. Anak kampung dengan sekolah hampir roboh? Tak masalah. Dengan kerja keras, dengan ambisi besar, kamu bisa keluar dari kemiskinan dan sekolah hingga luar negeri. Jika ada temanmu yang karena satu dan lain hal tak bisa keluar dari kemiskinan, tak bisa memperoleh beasiswa, itu salah mereka. Sekarang pergi ke jalan raya di pagi atau sore hari? Aku bisa bilang, sastra kita merupakan potret zaman.” Saya tak tahu apakah kata-kata saya mengandung kebenaran atau tidak. Pertama, saya tak banyak membaca novel-novel semacam itu. Kedua, orang mungkin akan berdebat apakah novel-novel ini dianggap sastra atau tidak. Tapi saya percaya, perilaku kita, perilaku orang-orang yang ingin menang sendiri di jalanan, sedikit banyak dipengaruhi apa yang masuk ke dalam pikiran mereka. Dari apa yang mereka baca. Jika orang-orang ini membaca lebih banyak cerita pendek Akutagawa seperti di atas, barangkali mereka akan memikirkan ulang perilaku mengemudi mereka. Siapa tahu?

2 Comments

  1. Lebih bagus jalan jauh ke luar kota Mas Eka, supaya bisa menulis novel petualangan yang enak dibaca sekelas On The Road- Jack Kerouac.

  2. Tebakan saya: Jakarta menebarkan ilusi keterburuan. Ada sihir yang misterius oleh Kota Jakarta yang membuat kita terburu-buru. Tidak hanya dalam berkendara, banyak yang kehilangan cintanya pada proses. (Eka Kurniawan, kenapa tidak menggunakan twitter lagi?)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑