Eka Kurniawan

Journal

Apa yang (Asyiknya) Dibicarakan Penulis?

Tak ada yang melarang seorang penulis bicara tentang politik, etika, moral, sebagaimana petani dan sopir taksi juga boleh membicarakannya. Tapi bagi saya, kapasitas seorang penulis terutama diukur oleh kualitasnya ketika bicara tentang dunianya: penulisan atau kesusastraan secara khusus. Sama seperti kita menghormati tukang kayu yang mengerti perbedaan satu kayu dengan lainnya, karakter dan fungsinya, bahkan harganya, juga mengerti kenapa kayu tertentu lebih baik untuk pintu dan yang lain lebih baik untuk bingkai foto. Sama seperti petani yang mengetahui rahasia musim dan bau tanah. Belum lama ini saya menonton video wawancara Javier Marías, dan bagi saya ia salah satu contoh penulis dengan karya-karya hebat dan kapasitas intelektual yang juga hebat ketika bicara tentang dunianya, dari mulai soal penerjemahan, bahasa, penyimpangan di novel-novelnya yang ia hubungkan dengan konsep waktu, serta lainnya (video tersebut bisa dilihat di YouTube). Saya memang senang mendengar wawancara para penulis. Awalnya cuma sekadar untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris. Biasanya saya belajar melalui lagu atau film, tapi dengan begitu banyak video wawancara penulis di internet, kenapa tidak sekali jalan dua pulau terlalui? Belajar mendengarkan bahasa Inggris (sambil belajar mengucapkannya), sekaligus menambah wawasan mengenai kesusastraan. Javier Marías bukan penulis dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, jadi bolehlah untuk tidak merasa terintimidasi (hehehe, ia bahkan salah menyebut “english” dengan “england”, meksipun segera meralatnya). Kembali ke topik awal, saya menganggap bahwa sastra merupakan pertemuan ideal antara seni dan pengetahuan. Perjumpaan menyenangkan antara kreativitas dan keterampilan teknis. Pertemuan itu sendiri merupakan topik yang selalu menarik dan tak habis-habisnya, dan kita bisa menemukan begitu beragam pendapat dan gagasan para penulis mengenai hal ini. Tapi satu hal jelas, disiplin ilmu pengetahuan senantiasa memberi panduan bagi para penulis ini bahwa seluruh pendapat mereka mesti bisa dipertanggungjawabkan, diuji kesalahannya, ditelusuri sumbernya; sekaligus sebagai kerja seni, penulis juga tahu bahwa selalu ada sudut pandang yang berbeda untuk satu hal, dan terutama tentu saja sentuhan yang berbeda. Kembali ke Javier Marías: “Anda menikmati membaca obituari?” “Tidak. Maksud saya, tergantung sebagus apa ditulis.” “Tapi Anda membacanya?” “Kadang-kadang. Tergantung siapa yang mati.” Satu hal lain yang saya pelajari dari wawancara dengan penulis, seringkali kualitas wawancara sangat tergantung kepada kualitas penanya. Seringkali saya membaca wawancara yang menyedihkan, karena penanya (wartawan?) tak mengetahui benar kepenulisan, atau setidaknya tak mengetahui benar penulis yang dihadapinya, sehingga yang keluar hanyalah pertanyaan basa-basi, dan jawaban yang juga akhirnya basa-basi. Bayangkan, di wawancara Javier Marías ini, penanya bisa tiba-tiba bertanya tentang obituari sebagai salah satu genre penulisan. Benar, tak semua orang harus mengerti atau mengetahui hal-ihwal kesusastraan dan penulisan, tapi satu hal jelas: menyenangkan bila bertemu dengan orang yang memiliki tak hanya hasrat meluap-luap tapi juga wawasan dan gagasan yang luas mengenai hal ini, sebagaimana selalu menyenangkan bertemu petani yang mencintai tanah dan tanaman sebagaimana ia memiliki pengetahuan melimpah tentang yang dicintainya.



6 Comments

  1. Bahasa Inggris saya parahhhh sekaliiii…. hampir hanya setingkat kelas 1 SD. Gimana kalau Mas Eka yg baik hati, berkenan meluangkan waktu untuk menerjemahkan wawancara2 tsbt ke blog ini? Dengan demikian dua pulau juga terlampaui. Petama: melatih kemampuan terjemahan Mas Eka.Kedua: Pembaca yang tidak bisa berbahasa inggris tapi memiliki hasrat yang meluap untuk mengetahui ‘kehidupan’ di dunia penulisan dapat terpuaskan dahaganya :) *Siapa tahu juga mas eka bisa mendapat job sebagai penerjemah dengan upaya ini*

    • @hume
      Sejujurnya saya pengin melakukannya, termasuk pengin nerjemahin buku-buku yang saya suka. Masalahnya seringkali waktu saya terbatas, padahal saya juga masih pengin (ehm) menulis novel juga. Kenapa kamu tidak belajar saja? Saya juga masih belajar, kok. Bahasa Inggris saya enggak hebat, biasa-biasa saja, apalagi bahasa asing lainnya. Di usia tua, Borges masih mau mulai belajar bahasa Arab lho (sayang keburu buta), dan di usia tua Tolstoy belajar naik sepeda (dan berhasil).

  2. Saya lagi mbaca Cantik Itu Luka, Mas. Maaf, baru melek. Belum terlambat kan? Ceritanya, ini sehabis melahap Cinta tak Ada Mati (ada ramuan Gabonya ya?). Tapi, lama ya, rasanya mbaca yang ini. Kendati mulai asyik. Lama saya nggak bisa menyelesaikan satu buku secara tuntas. Semoga ini bisa tuntas… Membaca tulisan-tulisan Mas Eka di sini, membuat saya semakin yakin bahwa saya harus tuntas, seiring dengan keyakinan yang bertambah bahwa Mas Eka memang pakar (kalau diukur bagaimana Mas Eka bicara mengenai ‘penulisan atau kesusastraan secara khusus’). Habis ini rencana yang Seperti Dendam. Semoga sehat dan keturutan kepinginan Mas Eka bikin novel tiap tahun. Salam!

  3. Tiap tahun, novel baru. Saya dukung!

  4. Mas kurniawan, kalau mau mendapatkan novel-novel edisi sebelumnya bisa didapat dimana yah? saya mau membeli tapi info yang saya cari masih minim. mohon informasinya mas :D

    • @Ahmad Budiarjo,
      Selain Corat-coret di Toilet, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka (akan terbit kembali Januari, 2015), buku saya yang lain out-of-print. Tunggu cetak ulang saja :-)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑