Setelah membaca The Road, saya memutuskan untuk membaca novel lain karya Cormac McCarthy. Kali ini saya melanjutkannya dengan All The Pretty Horses. Kadang-kadang, jika saya menemukan penulis baru dan saya menyukainya, antusiasme saya seperti anak kecil. Saya ingin melakukan maraton membaca semua, atau paling tidak beberapa karyanya berurutan. Penulis baru? Beberapa orang mungkin akan berkata, Kemana saja kamu selama ini baru membaca Cormac McCarthy? Baiklah, saya tidak kemana-mana. Ada ratusan atau bahkan ribuan penulis di dunia ini yang karyanya layak dibaca. Saya yakin banyak di antara mereka dengan mudah terlewatkan. Itulah hal menarik dari menyukai kesusastraan. Hal terbaik dari kegemaran membaca novel dan cerita pendek, serta puisi, bahkan esai. Hal yang sama barangkali tak jauh berbeda dengan membaca buku-buku filsafat (yang sering saya lakukan, juga untuk kesenangan). Jika umur kita cukup panjang pun, katakanlah seratus tahun, karya-karya terbaik dari penulis-penulis terbaik di dunia tak akan selesai kita lahap semua. Dengan cara itulah, dari tahun ke tahun kita akan menemukan penulis-penulis dan karya-karya baru, meskipun kenyataannya sudah lama. Kembali ke Cormac McCarthy, saya mengenalnya karena menonton film No Country for Old Men. Meskipun belum membaca novel itu, saya memutuskan untuk mulai membaca novelnya. Sekilas saja kita segera tahu, karya-karyanya banyak terpengaruh oleh tradisi kesusastraan western (untuk menyebut tradisi cerita koboi). Tak hanya penuh petualangan, tapi bahkan penuh adegan kekerasan, kebrutalan, dan kehidupan yang liar dan kasar. Dalam The Road, kita memang tak dihadapkan pada petualangan para koboi. Novel ini bercerita di waktu dunia (Amerika?) selepas “kiamat”. Dua orang ayah dan anak melakukan perjalanan sepanjang jalan, berbekal satu pistol dan kemudian satu peluru untuk melindungi diri, mencari pantai untuk memulai kehidupan baru. Bukan cerita koboi dengan kuda dan topi laken memang, tapi tema itu tak jauh berbeda dengan kisah para koboi yang menyeberangi dataran Amerika untuk mencari tambang emas, bukan? Di No Country for Old Men, kita menemukan polisi tua yang harus berhadapan dengan jaringan narkoba perbatasan Amerika-Meksiko. Si polisi, tentu saja memakai topi laken bergaya koboi. Hingga akhirnya saya menemukan koboi sungguhan di All the Pretty Horses. John Grady Cole (anak remaja yang bahkan belum selesai sekolah) merasa dirinya dilahirkan sebagai koboi, dilahirkan untuk hidup di hamparan padang rumput bersama ternak dan kuda. Ketika ia merasa tercerabut dari peternakan keluarganya, ditemani seorang teman dan seorang teman lagi yang ditemuinya di perjalanan, ia memutuskan untuk naik kuda dan menyeberang perbatasan. Saya penggemar film koboi (sebagaimana saya menyukai film-film wuxia), tapi bisa dibilang tak pernah membaca novel-novel koboi (saya masih bisa membaca novel-novel wuxia, yang banyak disadur ke dalam kesusastraan Indonesia). Baiklah, dalam karya McCarthy, kita memang tak menemukan koboi sebagaimana di film-film. Bahkan ia memindahkan tempat yang biasanya berada di barat ke selatan. Maka jangan heran, di kisah-kisah koboinya, kita juga menemukan aroma selatan sebagaimana bisa kita temui dalam karya-karya Faulkner. Ia mencampur petualangan, plot yang penuh kekerasan, dengan paparan mendalam tentang psikologi. Tentang mimpi, harapan, dan bahkan ketakutan. Dalam satu tinjauan tentang novelnya yang lain, Blood Meridian, Roberto Bolaño bahkan menyebut lanskap novel McCarthy sebagai lanskap (Marquis) de Sade: satu lanskap yang haus dan tak acuh yang dikendalikan oleh hukum aneh yang meliputi rasa sakit dan anestesia. Saya sudah lama tak membaca sastra Amerika. Setelah generasi emas Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, dan kemudian Steinbeck, tak banyak lagi yang menjulang setinggi mereka. Tapi kini, satu nama saya pikir sangat perlu untuk diperhatikan: Cormac McCarthy.