“Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Barat adalah penemuan Timur,” kata Jorge Luis Borges. Saya merinding membaca kalimat itu. Borges, saya rasa termasuk yang mengekalkan sikap orientalis yang membayangkan Timur “ditemukan”. Apa boleh buat, ia lahir dan dibesarkan dalam tradisi Eropa. Tentu saja kita tahu ia membaca literatur Timur, dari dongeng-dongeng Cina, Jepang, India, Timur Tengah, dan kita juga tahu salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla (Hikayat Seribu Satu Malam). Tapi bagi dia, seluruh literatur Timur itu barangkali juga “penemuan”, seolah-olah sebelum karya-karya itu dibaca oleh para intelektual Eropa, mereka sesederhana tidak ada. Jangan dilupakan bahwa perjumpaan Borges dengan The Arabian Nights (nama lain dari Hikayat Seribu Satu Malam, yang menurut Borges kurang indah tapi sama misteriusnya) datang melalui terjemahan Richard Burton, yang “mengobrak-abrik” karya tersebut sehingga mendekati bayangan Barat mengenai Timur. Edward Said dalam Orientalism bahkan menuding penerjemahan karya tersebut merupakan agen imperialisme Eropa atas Timur Tengah. Perdebatan soal ini saya kira merupakan isu lama dan panjang, dan saya tak perlu menaburkan garam ke tengah lautan. Saya memikirkan ini sambil membuka-buka halaman The Arabian Nights: An Anthology yang baru saya beli (sekaligus mengikuti berita penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis yang menewaskan 12 orang, yang diduga dilakukan kaum Islamis). Buku itu merupakan kompilasi cerita-cerita Hikayat Seribu Satu Malam dari berbagai penerjemah ke Bahasa Inggris (beberapa penerjemah bisa disebut: Richard Burton, Edward Lane, John Payne), diedit dan dikompilasi oleh Wen-Chin Quyang. Saya sudah memiliki beberapa versi terjemahan kitab ini, termasuk terjemahan klasik Burton yang lengkap dan terjemahan Husain Haddawy yang lebih modern dan lebih saya sukai, tapi saya selalu tak berdaya untuk memilikinya lagi. Selalu tak berdaya untuk membacanya kembali, meskipun hanya melompat dari satu cerita ke cerita lainnya. Meskipun begitu, barangkali benar “penemuan” The Arabian Nights merupakan salah satu peristiwa besar dalam kesusastraan Eropa, mungkin sama pentingnya dengan momen ketika Eropa “menemukan” terjemahan-terjemahan filsafat Yunani dari tangan para penerjemah Muslim. Meskipun latar-belakang penemuan itu tidak enak (stereotif tentang Timur dan dalam kasus sempit tentang Arab dan Islam), dan efeknya juga tidak enak (kolonialisme, imperialisme), bahkan meskipun istilah penemuan itu problematik, saya masih bisa melihat sisi indahnya: sisi kekanak-kanakan Eropa ketika bertemu dengan sesuatu yang mereka anggap misterius sekaligus seksi. Dunia yang dipenuhi jin, karpet terbang, taman penuh selir, bahkan budak yang lebih pintar daripada para alim ulama. Apa yang dipikirkan Barat tentang dunia Seribu Satu Malam di abad ke-21? Saya tak yakin mereka masih berpikir tentang jin, karpet terbang, taman penuh selir dan sejenisnya. Bayangan itu barangkali telah berganti dengan gambaran tentang bom bunuh diri, orang-orang bodoh, fanatik, pembunuh, bahkan tukang-kawin (dan lain sebagainya). Pada hakekatnya itu masih sama seperti bayangan mereka ketika membaca terjemahan Burton pertama kali: pokoknya sesuatu yang “bukan Barat”. Tentu saja orang-orang Islam (bahkan Timur secara umum) juga memiliki stereotif-stereotif mereka sendiri tentang Barat, yang tak hanya buruk, tapi juga mungkin berbahaya. Tiba-tiba saya terpikirkan kembali berita penembakan di Paris itu. Islam dan Prancis. Barangkali bukan kebetulan, Hikayat Seribu Satu Malam pertama kali diperkenalkan ke Barat melalui terjemahan ke bahasa Prancis oleh Antoine Galland (Le mille et une nuits). Jika benar asumsi para pemikir orientalisme bahwa penerjemahan kitab itu tak semata-mata penerjemahan, tapi gambaran mengenai “penaklukan” yang membawa dunia ke salah satu momen sejarah yang kelam bernama kolonialisme dan imperialisme, peristiwa di kantor Charlie Hebdo juga membuktikan bahwa kekerasan demi kekerasan tidak lahir dari ruang kosong (apa pun alasannya, kita harus mengutuk kekerasan ini), bahwa pikiran kita belum sepenuhnya menerima yang liyan, bahwa dunia kita belum pernah berhasil membereskan masalah laten berabad-abad ini. Problem laten perjumpaan. Dan problem itu ada di dalam kepala kita. Di Barat maupun di Timur.