Eka Kurniawan

Journal

Ahli Waris Kebudayaan Dunia?

Kadang-kadang saya berpikir, mental inferior kita dalam kesusastraan (yakni mental asyik dengan dunia sendiri, berani bertarung cuma dengan kawan-kawan sendiri, karena enggak punya nyali bertarung di kelas berat dengan lawan-lawan yang berat), telah ada sejak kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an (22 Oktober 1950) memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Halo? Ahli waris? Dilihat dari sudut pandang wirausaha, mental “ahli waris” merupakan mental pemalas dan mau gampangannya saja. Mental ahli waris adalah mental kekanak-kanakan, yang melihat generasi sebelumnya banting-tulang mendirikan kejayaan, terus kita tinggal menikmatinya. Eh, tunggu, bukankah di dalam wirausaha, juga banyak ahli waris yang bisa memajukan usaha orangtua mereka lebih tinggi dari sebelumnya? Baguslah kalau itu terjadi. Tapi di lapangan kebudayaan, mereka memperlakukan warisan ini dengan “kami teruskan dengan cara kami sendiri”. Apa maksudnya ini? Maksudnya ingin lepas tanggung jawab? Ingin memperoleh warisan, tapi kemudian warisan itu boleh dong kita perlakukan sesuka-suka kita? Persis mental anak malas yang mau enaknya makan kekayaan orang tua dan bilang ke orang, “Suka-suka gue dong mau diapain, duit-duit gue.” Tak ada tanggung jawab yang menyiratkan bahwa, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan bikin kebudayaan ini lebih menjulang lagi.” Atau, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan mewariskan hal yang lebih baik kepada dunia.” Tidak. Saya rasa mental kita tak ditempa untuk menjadi sesuperior itu. Mental kita adalah mental yang jika dituding tak mampu melakukan apa-apa, maka akan bersembunyi di balik tameng, “Kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Proklamasi kebudayaan itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun, diproklamasikan justru oleh generasi yang saya pikir bukanlah para “ahli waris”, tapi para perampok yang budiman. Mereka merampok kekayaan kebudayaan dari mana-mana, dari tempat-tempat yang mereka bisa merampoknya. Dan saya lebih menghormati para perampok ini daripada para ahli waris. Dari hasil rampok-merampok ini (apa istilahnya mengambil sesuatu milik bangsa lain – kebudayaan mereka – menjadi milik sendiri, jika bukan merampok?), mereka membangun kekayaan: puisi-puisi Chairil Anwar, cerpen-cerpen Asrul Sani, novel-novel Pramoedya, misalnya. Jika generasi ini kemudian memproklamasikan diri mereka sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” daripada “perampok kebudayaan dunia”, dan dengan tanpa tanggung jawab memilih “kebudayaan ini kamu teruskan dengan cara kami sendiri” daripada memilih berjanji, “dan kekayaan budaya ini akan kami pakai untuk mendidik anak keturunan kami agar lebih berbudaya”, saya kuatir ini merupakan kecelakaan sejarah. Hasilnya, dari generasi ke generasi, kita mewarisi mental-mental “ahli waris” ini. Pengaruhnya kemana-mana: negara dibangun dengan “warisan” utang dunia; seseorang merasa bisa jadi presiden karena bapaknya (atau ibunya, atau kakak iparnya) pernah jadi presiden, seolah-olah jabatan merupakan warisan pula; dan banyak undang-undang kita, masih merupakan warisan hukum kolonial. Jika ada yang bilang bahwa sastra, kesenian, dan kebudayaan tak memiliki fungsi praktis, saya bisa menunjukkannya: sastra, kesenian, dan kebudayaan bisa sangat praktis dalam menyumbang keruntuhan. Jadi apa saran saya setelah ngomel ke sana-kemari ini? Buat saya sudah jelas, saya akan berhenti menganggap diri saya sebagai “ahli waris”. Bahkan meskipun kebudayaan ini diciptakan oleh ayah atau kakek saya, saya tak ingin menempatkan diri sebagai “ahli waris”. Kebudayaan yang mereka ciptakan merupakan kekayaan mereka, dan kita, sudah selayaknya berjanji untuk membangun kekayaan sendiri. Kebudayaan sendiri. Saya hanya akan bangga dengan apa yang bisa saya kerjakan, bukan yang telah dikerjakan oleh nenek-moyang, apalagi oleh orang lain. Jika untuk modal membangun kekayaan sendiri itu kita harus merampoknya dari orang lain, mari kita merampoknya. Kita baca seluruh khasanah kesusastraan mereka. Jika Anda terlalu takut untuk menjadi Robin Hood, setidaknya mari kita “meminjamnya”. Dan sebagaimana peminjam yang baik, kita harus mengembalikan kebudayaan dunia yang kita pinjam, kembali ke dunia. Pastinya dengan bunga! Kalau perlu, dengan bunga kelas rentenir! Berhentilah menjadi kerdil sejak dalam kepala. Jika lapangan kesusastraan ini merupakan medan pertempuran melawan para raksasa, mari kita berkelahi dengan penuh nyali. Para raksasa itu tak lebih dari kincir angin belaka, Tuan. Dan saya akan menutup gerundelan ini dengan kutipan dari Umar Kayam (mudah-mudahan ia termasuk yang meyakini dengan teguh pernyataannya ini): “Bangsa yang bisa membangun Borobudur, mestinya bisa membangun apa pun.”

1 Comment

  1. Ahli waris kebudayaan dunia, maksudnya seperti halnya Kebudayaan Arab yang menjadi ahli waris kebudayaan Yunani Klasik, dan Kebudayaan Eropa, yang menjadi ahli waris Kebudayaan Arab, kemudian Kebudayaan Amerika (Utara dan Selatan) yang menjadi ahli waris Kebudayaan Eropa.

    Kebudayaan Indonesia, di mata Asrul Sani dll (konseptor dan inisiator utama naskah penyataan Seniman Gelanggang Merdeka) adalah ahli waris Kebudayaan Eropa.

    Namun, di abad ke-21, perjalanan Indonesia makin menunjukkan hal yang berbeda: Kebudayaan Indonesia semakin menunjukkan perkembangannya untuk menjadi ahli waris Kebudayaan Amerika (Selatan dan Utara).

    Posisi Indonesia sebagai ahli waris Kebudayaan Amerika (Selatan dan Utara) Ini tampak pada:

    Satu: Kesusasteraan, cerpennya mendapat banyak warisan langsung dari kesusasteraan Amerika Selatan (realisme magis), bahkan novelnya juga semakin dipengaruhi Hemmingway, Steinbeck, seperti halnya Pramoedya belakangan lebih kuat mendapat banyak pengaruh dari John Steinbeck (Amerika Utara) dan makin menjauhi gaya realisme sosialis Eropa Timur, sementara kesusasteraan mendapat banyak pengaruh dari Pablo Neruda hingga TS Elliot. Anda, Mas Eka, termasuk ke golongan pengaruh Amerika Latin (khususnya novel anda Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau yang tampak hendak tampil sangat realis dan magis sekaligus.)

    Dua: Perfilman, mendapat banyak warisan langsung Amerika Utara (dramaturgi horror, komedi, drama, hingga aksi laga dari Hollywood). Bahkan komedi yang dulunya bersumber dari komedi tonil campuran India, Turki (Arab-Eropa), Tiongkok dalam bentuk khasanah tradisi, mulai bersalin rupa menjadi konsep komedi kelompok dan tunggal Amerika Serikat (gaya The Three Stooges seperti Warkop DKI stand up-comedy seperti raditya Dika dkk

    Tiga: teknologi, mendapat pengaruh dari maraknya kreasi game atau situs jejaring sosial asal Amerika Serikat (Facebook, Twitter, Instagram, dll), mula-mula sebagai konsumen, kemudian beranjak menjadi kreator berbagai aplikasi dan situs.

    Empat: politik, mendapat pengaruh paling kuat dari demokrasi Amerika Serikat sejak diambilnya kata ‘presiden’ dan ‘wakil presiden’ serta dihapuskannya posisi Perdana Menteri, kemudian di era abad ke-21 makin tampak khususnya munculnya pencitraan politik, kontestasi pemilihan pejabat publik, agenda reformasi keuangan dan pembangunan instrumen politik (DPD sebagai tiruan dari Senat AS) bahkan nama partai seperti halnya Partai Demokrat yang diambil dari partai liberal AS.

    Lima: ekonomi: mendapat warisan paling kuat dari gagasan refomasi, mulai pembangunan Bank Sentral hingga deregulasi perbankan, kemudian pembagian moneter dan fiskal yang ditata menyerupai administrasi ekonomi AS, kurikulum pendidikan ekonomi juga menjiplak bulat-bulat.

    Enam, agama: mendapat warisan paling kuat dari munculnya gagasan Teologi Pembebasan di Indonesia yang diambil dari Amerika Latin, kemudian dipopulerkan bersama-sama oleh rohaniawan Katolik dan tokoh muslim moderat seperti halnya Abdurrahman Wahid, Moeslim Abdurrahaman, dll. Sekularisasi dan liberalisasi dalam pemikrian Islam di Indonesia juga diambil langsung dari tokoh lulusan pendidikan Amerika Serikat seperti halnya Nurcholish Madjid, Syafii Maarif, Amien Rais (lulusan Chicago yang liberal) dan masing-masing berpengaruh pada modernisasi HMI, Muhammadiyah, dan Partai Amanat Nasional sebagai partai modern-pragmatis berbasis muslim urban. Kristen Protestan juga makin ke sini makin mirip Kristen Protestan di AS yang banyak denominasi dan berbasis etnik (HKBP, GBKP, GKJW, GPIB, dll) serta masyarakat perkotaan (Bethani, Pentakosta, Kharismatik, dll) yang khas Kristen Protestan di Amerika Serikat.

    Tujuh, Media massa, secara terang-terangan memang mendapat warisan dari pers Amerika Serikat, baik di majalah (Intisari dari reader digest dan Tempo dari Time dan Newsweek), hingga Metro TV dan TV One masing-masing makin mirip CNN dan Fox yang partisan. Di meda cetak, Jawa Pos dan Tribun (kelompok Kompas) di berbagai kota mendapat pengaruh dari media massa khas AS yang berbasis pembaca regional (New York Times dan Washington Post).

    Kebudayaan Indonesia adalah ahli waris Kebudayaan Amerika.

Comments are closed.

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑