Agamemnon, dalam salah satu mahakarya tragedi Yunani Agamemnon, karya Aeschylus, bagi saya merupakan gambaran kekuasaan yang cenderung pongah, seperti umumnya kekuasaan. Dan kepongahan ini entah bagaimana, seolah memperoleh pemakluman. Saya bisa menunjukkan bagaimana sosok seperti Agamemnon dengan mudah bisa kita lihat di dalam kerangka negara modern saat ini, terutama dalam satu hal yang paling menyedihkan: kekuasaan tak pernah salah. Baiklah, sebelum saya bicara mengenai sosok Agamemnon ini, saya ingin memberi kilasan ringkas latar belakang kisahnya. Bagi yang pernah membaca Iliad karya Homer, tentu akan menemukan bagian bagaimana Achilles pergi ke perang Troya. Karya Homer yang lain, Odyssey, dimulai jauh setelah Agamemnon dan kemudian isterinya mati, sepulang dari perang Troya. Bagi yang pernah menonton film Troy, tentu tahu bahwa penyebab perang itu adalah Paris yang menculik isteri Menelaus, Helen. Nah, Agamemnon merupakan kakak Manelaus, dan dialah yang sangat berang dan mengumumkan perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Troya. Naskah tragedi Aeschylus ini fokus pada bagian kecil ketika Agamemnon pulang dari perang dan dibunuh isterinya, Clytemnestra. Latar belakang pembunuhan inilah, yang saya rasa merupakan bagian penting untuk dilihat, dan sekaligus membuka watak sebenarnya dari kekuasaan, baik negara tradisional maupun negara modern. Sebelum bicara lebih lanjut, saya ingin mengingatkan satu pertanyaan penting, pertanyaan moral yang sangat rumit menyangkut hubungan warga negara dan negara: mana yang lebih penting, hak hidup warga negara atau negara? Kita tahu negara didirikan oleh warga negara untuk memenuhi harapan-harapan dan cita-cita warga negara, tapi bagaimana jika ada warga negara “dianggap” mengancam keberadaan negara? Itu akan menjadi paradoks. Bagi saya, secara moral, negara harus patuh kepada tujuan utamanya: menjamin hak hidup warga negara. Hak hidup warga negara, dengan itu berada di atas hak hidup negara. Tapi dalam kenyataannya, hal itu sering terjadi sebaliknya. Mari kita lihat ke dalam kasus Agamemnon. Kita tahu, Perang Troya yang dikobarkan Agamemnon pada dasarnya merupakan masalah pribadi antara Paris dan Menelaus, serta Helen. Dalam hal ini, saya melihat Agamemnon telah melintasi batas-batas kekuasaan, dengan mengangkat masalah pribadi adiknya menjadi masalah negara. Kasus pribadi itu, menjadi kasus antar negara. Di sini, saya rasa logika Agamemnon adalah logika kekuasaan, logika harga diri sebuah negara, dan pada akhirnya, logika mempertahankan hak hidup negara. Ia tak lagi peduli bahwa itu urusan pribadi, selama urusan itu dianggap melukai harga diri negara, maka perang harus dikobarkan. Bagi saya absurd, tentu saja. Tapi bahkan dalam politik modern, berapa banyak perang antar negara terjadi karena kekonyolan segelintir orang? Tapi bagian paling tak masuk akal dari kisah Agamemnon terjadi saat Agamemnon pergi untuk berperang bersama armada lautnya. Di perjalanan ia dihadang badai, sebagai pertanda dewa tak merestui perang itu. Hanya ada dua cara agar ia bisa terbebas dari badai tersebut: kembali dan berarti mempermalukan negara, atau memberikan kurban yakni membunuh anak kandungnya sendiri, Iphigenia. Demi harga diri dan hak hidup negara, Agamemnon memilih untuk membunuh anaknya. Ia memilih hak hidup negara di atas hak hidup manusia. Adakah yang protes soal ini? Hampir tak ada. Membaca itu, kita merasa itu pilihan sulit tapi Agamemnon melakukan hal benar. Para tetua menganggapnya hal wajar seorang manusia dikorbankan demi harga diri negara yang tercoreng. Pemakluman dan pendiaman ini bagi saya mengerikan. Dan lebih mengerikan bahwa hal seperti ini bisa terjadi juga, tak hanya di karya drama tragedi Yunani, tapi dalam negara modern. Kematian Munir. Hilangnya Wiji Thukul. Pembunuhan Marsinah. Mereka adalah Iphigenia nyata, Iphigenia hari ini, dan Agamemnon merupakan penguasa gila yang akan membunuh siapa pun untuk sebuah entitas yang mestinya menjamin mereka hidup, yang kita sebut sebagai negara. Di dunia yang sinting seperti itu, di dunia yang menganggap apa yang dilakukan Agamemnon sebagai kewajaran, hanya satu orang saja yang waras. Clytemnestra, isterinya. Ialah yang kemudian menikam Agamemnon, tiga kali. Saya percaya, orang seperti Agamemnon semestinya memang tidak berkuasa, sebab ia telah melanggar tugasnya yang paling utama, menjamin hak hidup warga negara. Tapi tentu saja masalahnya juga rumit jika kita bicara mengenai Clytemnestra. Haruskan ia membunuh untuk mengembalikan prinsip dasar negara itu? Seperti mahakarya tragedi semestinya, Agamemnon memberi banyak pertanyaan, agar kepala kita tetap waras menghadapi kehidupan sebenarnya. Tapi bagi saya jelas, manusia seperti Iphigenia tak selayaknya dibunuh untuk negara yang seharusnya menjamin ia tetap hidup, dan pembunuhnya tak layak berkuasa.