Eka Kurniawan

Journal

Adakah Kebenaran dalam Fiksi?

Saya ragu. 100% meragukannya. Memang benar, saya sering mendengar bahwa di balik kebohongan-kebohongan karya fiksi, di dalamnya terdapat kebenaran. Hah? Kebenaran macam apa? Saya ragu ada kebenaran dalam karya fiksi. Paling tidak, saya ragu ada kebenaran dalam karya-karya saya. Bahkan kemudian saya merasa yakin, penulis yang merasa karyanya mengandung kebenaran, walaupun tersembunyi (atau disembunyikan) dalam bungkus kisah rekaan, kemungkinan terobsesi untuk menjadi pengkhotbah. Bukankah memang pengkhotbah yang merasa apa yang dikatakannya merupakan kebenaran? (Ayah saya ketika masih hidup seorang pengkhotbah, tiap Jumat siang mengkhotbahkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran di masjid dekat rumah kami). Penulis jenis ini hanya sedikit saja bedanya dengan pengkhotbah. Yang satu terang-terangan membawakan kebenaran, yang lain malu-malu dan menyembunyikannya, tapi tetap saja bilang, “Di sana ada kebenaran, lho!” Bahkan meskipun benar mereka menganggap ada kebenaran di dalam karya fiksi, pertanyaannya kembali, kebenaran macam apa? Kebenaran menurut kepalamu? Menurut ujung kelaminmu? Kebenaran macam apa yang bisa kita temukan dalam kisah “The Overcoat” karya Gogol, misalnya? Tak ada. Itu hanya kisah pegawai rendahan yang menghabiskan uangnya demi mantel baru, dan mantelnya dicuri. Cuma itu. Selebihnya kita bisa menafsirkan cerita itu kemana-mana, sesuka udel kita. Kalau kita cerdas, kita akan memberi tafsir yang terlihat cemerlang. Jika kita bebal, kita akan menafsirkannya dengan sedikit ketololan. Apa pun tafsir kita, saya ragu itu merupakan kebenaran. Saya tak melihat di sebelah mana kita menemukan kebenaran. Bahwa orang miskin itu menderita, dan orang kaya serta berkuasa itu bajingan sebajingannya? Masa sih, kebenaran seperti itu? Novel Under the Frangipani Mia Couto barangkali contoh yang juga menarik. Menarik karena itu cerita tentang cerita rekaan dan tentang seorang inspektur polisi yang mencari kebenaran. Saya tak tahu apakah Anda pernah membaca novel ini atau belum. Atau pernah membaca karya Mia Couto lainnya atau belum. Setelah José Saramago dan António Lobo Antunes, ia bisa disebut penulis bebahasa Portugis terbaik, meskipun ia bukan orang Protugis (ia berasal dari Mozambique). Jadi biar saya ceritakan sedikit isi novel itu. Di kamp pengungsian bagi para lansia di São Nicolau, kepala kamp pengungsian Yang Mulia Vastsome, yang kebetulan hanyalah seorang mulato, terbunuh. Inspektur polisi Izidine Naíta, datang ke tempat tersebut untuk meneliti siapa yang melakukan pembunuhan tersebut. Selama beberapa hari, ia mulai menginterogasi beberapa orang yang dicurigai sebagai pembunuh. Dan apa kata mereka? Mereka semua mengaku sebagai pembunuhnya. Mereka menceritakan versi masing-masing, bagaimana mereka membunuh, kenapa mereka membunuh. Mereka punya alibi, mereka punya motif. Sang inspektur tahu, mereka semua pembual. Mereka hanya menceritakan dongeng, sebab jelas, dengan cerita yang berbeda-beda, tak mungkin semua di antara mereka merupakan pembunuh. Tentu saja di balik cerita dan pengakuan yang berbeda-beda itu terdapat kisah lain. “Peranglah yang membunuh Vastsome, Inspektur,” begitu kira-kira pengakuan salah satu saksi bernama Marta. Tapi benarkah itu kebenaran? Benarkah sesuatu yang tidak tersurat dari dongeng para saksi itu merupakan kebenaran? Entahlah. Bagi saya, itu pun terdengar seperti salah satu kebohongan di antara kebohongan-kebohongan yang lain. Kenapa saya harus menganggapnya lebih benar dari kisah lainnya? Satu peristiwa bisa dikisahkan dengan berbagai cara, dan tak satu pun bisa dibilang lebih benar dari lainnya. Sebab, jangan-jangan peristiwa itu sendiri bukanlah kebenaran? “Aku datang ke sini untuk mencari kebenaran,” kata Inspektur polisi itu bersikukuh. Barangkali seperti polisi baik ini, kita para pembaca, hanyalah pencari kebenaran, yang sadar bahwa barangkali kita tak akan pernah menemukan apa-apa, di setiap karya fiksi yang kita hadapi. Bahkan meskipun kita tahu tak akan menemukan apa-apa, atau menemukan apa yang sebenarnya tidak dicari, kita tetap mencari, kita tetap membaca. Sebab seperti sang polisi, mungkin saja kita memang pembaca yang baik juga. Atau pembaca yang lugu?

3 Comments

  1. Ini bikin mikir lagi, kalau kata seorang penulis lainnya, “Cerita harus mengandung unsur kebenaran. Fiksi adalah keberanan. Kebenaran adalah kebenaran. Jangan dimanis-maniskah.” Apakah “kebenaran” oleh penulis tsb dgn “kebenaran” dalam jurnal ini berarti sama atau punya makna yang beda? Saya dibuat bingung oleh kedua maestro cerita andalan saya. Tapi, mungkin saya lebih setuju fiksi memang mengandung kebenaran. Toh, kita masih terus membaca, masih terus mencari. Ketemu syukur, gak ketemu gak apa-apa.

  2. hehe, ” kebenaran ” itu mirip toko pakaian yang punya ukuran S,M,L atau ekstra S/SS, MM atau LL atau XL/XXL dst dst sebab tiap pembaca punya ukuran beda tentang kebenaran, misal pada fiksi superstition yang masih subur di tanah air. kisah kuntilanak, ada yg komentar ” woo .. itu bener lo kejadiannya “, ada juga yang ” yaa .. bisa jadi memang ada … “, tapi juga ada yang ” ngawurrr , jaman gini kok masi percaya gitu gitu … ” … maka daripada pusing mencari definisi yang tepat , mending yang penulisnya terussss saja nulis sesuka udelnya, dan yang baca karyanya juga biar terusss saja beli karya karyanya sesuai S,M,L masing2, keduanya juga tidak perlu pusing sebab ” bungkus membungkus ” dalam sebuah karya itu juga hal biasa hehe, naa .. maap mas Eka, ini pendapat saya looo hehe .. omong2 novel yang lain2 kok belum ketemu ya di Malang? sukses ya terjemahan2nya, luar biasa !salam:th.

  3. Kalo kata Albert Camus: “Fiction is the lie through which we tell the truth.”

    Menurut sebuah artikel terbitan Publisher’s Weekly tentang fiksi: “Fiction connects: past and present; the great and the small; the surface with the depths. Fiction brings out the innermost, invisible springs of life that cannot be revealed in factual narratives. In fiction, public life means nothing without its private double. Fiction seeks to represent human experience as it is lived and as it reverberates in our hopes, fears, dreams, and memories. So much of our lives are internal. The art of fiction has claimed—more than anything else—this internal ground as its own.”

    Sedangkan Susan Sontag beropini seperti ini: “Literature is a form of responsibility—to literature itself and to society. By literature, I mean literature in the normative sense, the sense in which literature incarnates and defends high standards. By society, I mean society in the normative sense too, which suggests that a great writer of fiction, by writing truthfully about the society in which she or he lives, cannot help but evoke (if only by their absence) the better standards of justice and of truthfulness which we have the right (some would say the duty) to militate for in the necessarily imperfect societies in which we live.”

    Nah, perihal cerita ‘The Overcoat’ karya Gogol yang Anda rangkum menjadi “Itu hanya kisah pegawai rendahan yang menghabiskan uangnya demi mantel baru, dan mantelnya dicuri” — dan putuskan tidak mengandung unsur kebenaran. Menurut saya patut dibaca lagi rangkuman Anda.

    Bila Anda masih tidak menemukan selipan unsur kebenaran di sana … saya rasa Anda melewatkan poin cerita tersebut. Memang benar kata Anda, membaca itu hanya masalah “menafsirkan cerita sesuka udel kita”. Tidak ada tujuan. Tidak ada kebenaran. Tidak ada poin refleksi.

    Dan oleh sebab itu penulis-penulis besar dunia … hanya pembual tanpa tujuan. Dan pembacanya … lebih parah lagi. Dan esai-esai yang ditulis untuk mengkaji perbandingan antara seni dan realita … omong kosong belaka.

    Benar sekali. Saya setuju. Kenapa saya tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑