Eka Kurniawan

Journal

A School for Fools, Sasha Sokolov

Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?

13 Comments

  1. Artikel yang menarik. salam kenal gan.

  2. Gamalama Senkai

    9 January 2017 at 10:55 pm

    tiap hari cek blog ini, akhirnya update juga :)

  3. Adakah rekomendasi novel buat saya pembaca yang masih waras, yang tidak membuat saya frustasi mengikuti alur cerita yang amburadul ??

  4. Menohok sekali baca ini. Langsung berkaca :’D

  5. mas eka , saya bingung nih.
    gini ceritanya, ketika kita baca buku tentang sadisme entah kenapa kok jadi mual atau bahkan jijik, tapi jika kita sendiri yang menulis cerita sadis tersebut, beda, rasanya seperti ada endorphin yang baru terbentuk.

    • @Edi Kurnia
      Wah saya enggak tahu soal ini. Mungkin lebih tepat jika bertanya ke orang yang ngerti psikologi? Tapi setidaknya, merasa mual karena membaca sesuatu yang sadis mungkin hal baik: di kehidupan yang sebenarnya kamu tak ingin sadisme dan kekerasan terjadi.

  6. Mas Eka mau tanya. Mungkin ini pertanyaan saya yang tidak sesuai konteks lagi dengan isi jurnal Mas Eka. Mohon dimaafkan.

    Saya baru-baru ini membaca buku The Anatomy of Melancholy – Robert Burton. Ditulis dalam buku Burton itu kalau gangguan mental salah satunya bisa disebabkan oleh begitu senangnya seseorang untuk mempelajari suatu hal (love of learning) terutama melalui medium buku. Saya sendiri cukup terusik secara pikiran dengan tulisan Burton ini, tentunya dalam artian yang positif. Apalagi kalau kita misalnya berkaca dari latar belakang kehidupan Virginia Woolf, Ernest Hemingway, Franz Kafka, Knut Hamsun dan Fyodor Dostoevsky. Bahkan penulis seperti Leo Tolstoy saja pernah ingin melakukan tindakan bunuh diri setelah saya membaca artikel di website M. Aan Mansyur.

    Pertanyaannya, bagaimana cara Mas Eka tetap menjaga kesehatan mental Mas Eka sebagai seorang penulis yang paling tidak menuntut Mas Eka untuk membaca banyak buku?

    Mudah-mudahan Mas Eka bersedia untuk menjawabnya.

    Terima kasih dan Salam,

    Leonart

    • @Leonart
      Sama seperti menjaga kesehatan fisik: tidak berlebihan mengonsumsi sesuatu. Kalau sudah hampir kenyang atau enek, berhenti. Termasuk membaca buku dan menulis.

  7. Bagian: tak dapat membedakan hari ini, kemarin, dan besok, kok nohok ya? Hahaha.

    Salam kenal Kang Eka. Saya ngefans berat sama Ajo Kawir.

    Pertanyaannya: adakah jimat alias tips-tips untuk menulis narasi panjang lebar tapi tetap asik? Saya kepingin belajar di bagian itu, Kang. Entahlah akan jadi pintar atau tetap bodoh. Tak penting. Yang jelas, ngiler sedari dalam pikiran nih, pas membaca novel-novel Kang Eka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑