Sekali waktu Raymond Carver mengatakan, “Tulislah apa yang kamu ketahui, dan apa yang kamu tahu lebih baik daripada rahasia-rahasiamu sendiri?” Tentu saja problemnya, rahasia yang diungkapkan, bukan lagi rahasia. Di sinilah saya pikir penulis menghadapi tantangan kreatifnya: di satu sisi ia membocorkan rahasia (hal yang paling diketahuinya), di sisi lain, ia tetap menyembunyikannya dengan cara tertentu. Baiklah, saya mengutip dan membicarakan soal itu hanya sebagai pembuka saja. Saya ingin membicarakan sebuah novel, novel lama yang sialnya baru saya baca, berjudul A Heart So White karya Javier Marías. Apa hubungan novel ini dengan rahasia? Sangat erat. Ini novel tentang bagaimana sebuah rahasia semestinya tetap menjadi rahasia, apa pun yang terjadi. Dalam sebuah wawancara, ada bagian di mana Javier Marías menceritakan asal-usul judul tersebut. Judul itu merupakan kutipan dari satu dialog di Macbeth, William Shakespeare. Tapi sebagaimana ia mengakuinya, judul itu muncul belakangan, di tengah proses menulis novel (ia sudah menulis delapan puluh halaman, katanya), dan dengan cara itu juga memperlihatkan salah satu cara kerja menulis novel yang misterius, karena novel yang sedang ditulis tersebut, justru memperoleh fokus ceritanya setelah jalan hampir sepertiganya. Jadi di tengah proses menulis novel tersebut, sang penulis tiba-tiba memutuskan untuk menonton televisi (yang sebenarnya jarang ia lakukan). Di TV ada tayangan Macbeth, dan ia terpaku untuk menontonnya. Ada satu adegan yang membuatnya penasaran, adegan ketika Macbeth baru saja membunuh King Duncan dan mengatakan “rahasia” itu kepada Lady Macbeth. Apa yang dikatakan oleh Lady Macbeth kemudian membentuk apa yang kelak menjadi novel ini: “My hands are of your color; but I shame/To wear a heart so white.” Pikirnya, apa maksud kalimat itu? Ia membuka edisi kritis Shakespeare, mencari bagian itu, dan tak menemukan penjelasan apa pun. Saya pikir, Marías kemudian mempergunakan otoritasnya sebagai pembaca untuk menafsir kalimat tersebut, dan tafsir lengkapnya, ya jadilah novel tersebut. Bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui “rahasia” Macbeth yang membunuh King Duncan, Lady Macbeth sebenarnya seperti ikut menanggung dosa. Ikut berdosa karena “rahasia” yang terbuka, karena mengetahui peristiwa itu, yang membuatnya “to wear a heart so white”. Seperti kebanyakan orang, saya kadang-kadang bertanya, untuk apa kita menyimpan rahasia? Tentu saja seperti kebanyakan orang, kita selalu memiliki rahasia. Yang kecil maupun besar. Rahasia-rahasia, yang karena namanya juga rahasia, tak ingin kita bagi kepada siapa pun. Saya ingin membawanya dikubur jika saya mati. Tapi dalam banyak hal, sering kita melihat apa yang semestinya menjadi rahasia, menjadi bukan lagi rahasia. Seperti kesedihan yang kadang tak sanggup ditanggung oleh tubuh yang menanggungnya, kadang ada rahasia-rahasia yang begitu besar sehingga tak tertampung oleh tubuh yang memilikinya. Ia akan tumpah. Atau ada pikiran-pikiran di mana satu hubungan (suami-isteri? pacar? persahabatan?), mengharuskan ketiadaan rahasia. Atau kita merasa harus membuka rahasia karena suatu hubungan. A Heart So White, mengingatkan saya kembali bahwa rahasia semestinya tetap rahasia. Membocorkan sebuah rahasia, tak hanya membuatnya bukan lagi sebuah rahasia, tapi pertama-tama, akan membuat hilang satu kepercayaan dan keyakinan. Kedua, sesuatu menjadi rahasia karena kita yakin hal baik jika itu tersembunyi, maka hal buruk akan datang jika itu tak tersembunyi. Katakanlah dalam kasus Lady Macbeth, ia menjadi ikut merasa berdosa mengetahui pembunuhan yang dilakukan suaminya. Dalam kasus novel A Heart So White, mengetahui rahasia suaminya, membuat keadaan menjadi fatal: sang isteri tak hanya merasa jijik kepada suaminya, tapi jijik kepada dirinya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Kadang-kadang kita berpikir, berbagi rahasia merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya mengurangi beban tubuh yang menanggungnya. Satu hal yang sering dilupakan: itu juga berarti memberi beban kepada orang yang mendengar rahasia tersebut. Membagi rahasia bisa dilihat (setidaknya dari Macbeth dan A Heart So White) sebagai tindakan egois mengurangi beban diri sendiri, untuk memberi beban kepada orang lain. Jadi seperti energi dalam relativitas Einstein, barangkali beban rahasia memang tak bisa dihancurkan atau dikurangi, ia hanya bisa dialihkan. Ngomong-ngomong, jika omongan ini terkesan serius, maafkan saya. Novelnya sendiri, terus-terang lucu dan sering bikin saya senyum sendiri, meskipun di banyak bagian juga bikin sedih dan seandainya saya masih bujangan ketika membaca novel ini, mungkin bikin saya takut kawin. Novel ini memperoleh Dublin Impac Award, dan seperti beberapa novel lain peraih penghargaan yang sama yang sudah saya baca (Atomised Michel Houellebecq dan My Name is Red Orhan Pamuk), novelnya memang bagus.