Eka Kurniawan

Journal

A Cup of Rage, Raduan Nassar

Sial, saya lagi susah tidur malam. Biasanya itu pertanda baik, dalam arti kepala saya bekerja lebih semangat daripada biasanya. Masalahnya saya sedang tak ingin ngapa-ngapain. Memaksakan diri, saya akhirnya membaca A Cup of Rage, novel tipis karya Raduan Nassar. Ini kisah hubungan seorang lelaki setengah baya dengan seorang perempuan muda. Di dapur, di ranjang, di kamar mandi, di meja sarapan. Si lelaki sok pura-pura enggak butuh, jual mahal. Si perempuan muda kelaparan oleh sentuhan, memandang penuh permohonan. Buat yang tahu banyak hal mengenai hubungan intim antar manusia, juga yang sering nonton bokep, pasti segera tahu, ini tentang hubungan antara yang dominan dan yang didominasi (submisif). Lalu mereka bertengkar, ini di bagian bab yang paling panjang, yang diawali hal yang sepele: si lelaki memarahi pembantunya karena suami si pembantu tak ada di tempat. Si perempuan menganggap si lelaki keterlaluan, sebagai fasis. Mereka bertengkar, hingga si lelaki menggampar pipi si perempuan. Si perempuan kesakitan, tapi pada saat yang sama hasratnya meninggi. Digampar lagi, ia semakin kepengen. Semakin digampar, semakin sakit, semakin nafsu. Akhir cerita … enggak usah, deh. Novelnya terlalu pendek, masa dibocorin semua. Kalau mau jujur, nyaris enggak ada ceritanya. Setidaknya tidak ada cerita dalam makna tradisional yang sering saya terima dengan naifnya: ada masalah, ada konflik, ada penyelesaian. Saya rasa novel ini simbolis, karena itu, saya jadi pengin coba-coba menafsirnya, gaya-gayaan kritikus. 1) Bolehlah ini dianggap sebagai metafora tentang hubungan kekuasaan. Tentang penguasa yang sewenang-wenang dan tentang masyarakat yang tak memiliki banyak pilihan dalam ketertindasan. Hmm, tafsir ini terlihat keren, kan? Segala simbol dan tafsir yang rada politis biasanya sih keren. Dan hubungan kekuasaan memang paling gampang digambarkan dalam hubungan seksual. 2) Keren karena novel ini tampak mengolok-olok kaum intelek. Si perempuan digambarkan sebagai seorang jurnalis dan intelek, tapi tak berdaya menghadapi si lelaki yang seorang peternak. Memang sih tak sekadar peternak, tapi peternak kaya. Kita sudah punya begitu banyak novel yang mengolok-olok diktator, mengolok-olok orang miskin kelaparan, mengolok-olok setan, juga orang saleh. Barangkali memang perlu lebih banyak novel untuk mengolok-olok orang-orang intelek. 3) Meletakkan perempuan dalam hubungan seksual sebagai pihak submisif merupakan sebuah klise. Setidaknya bagi kaum feminis, ini bisa menjadi contoh wacana mereka, meskipun tentu perlu dibelejeti lebih dalam lagi, apakah ini contoh yang baik atau contoh yang buruk. Setidaknya novel ini bisa memberi rangsangan perdebatan, bukan? 4) Cerita ini mungkin sebenarnya sederhana saja, ingin menggambarkan atmosfir peternakan. Hidup di peternakan (pemilik maupun ternak) bisa disederhanakan sebagai berikut: bangun, bercinta, makan, bertengkar, dan tidur. Bagian bertengkarnya paling panjang, tapi urusan selesai setelah bercinta. Terutama mungkin menggambarkan bagaimana susahnya mengembang-biakkan ternak, seberapa sering pun percintaan terjadi. 5) Novel ini hanya mau mengatakan, pekerjaan jurnalis itu membosankan, dan menjadi pemilik peternakan juga membosankan. 6) Bercinta setelah bertengkar itu baik, bertengkar setelah bercinta itu pahit. Mungkin saya bisa membuat lebih banyak tafsir atas novel ini, terutama jika ada yang dengan sukarela membayar saya mahal. Tapi untuk sementara cukup sekian dulu. Saya mencoba melihat kembali apa yang saya tulis. Lumayan juga, rupanya saya cukup berbakat menjadi juru tafsir, setidaknya menurut tafsiran saya sendiri.

9 Comments

  1. (((dibelejeti)))

    Ya, pekerjaan jurnalis itu sangat membosankan, apalagi di Indonesia :)

  2. Sudah dua artikel terakhir ini, 60% ngawur dalam artian sesungguhnya. Kayak orang keren nulis hanya untuk nulis. Mungkin Mas Eka lelah. Jangan dipaksakan nulis, Mas Eka. Istirahat, liburan. Love you full, Mas Eka. Saya biggest fan.

  3. Bercinta setelah bertengkar itu baik, bertengkar setelah bercinta itu pahit.
    Apakah Mas Eka mendapati ini dalam novel?

  4. tapi bang, untuk ini rasanya yang nulis harus orang yang lebih genius lagi dari orang pintarnya,
    “Barangkali memang perlu lebih banyak novel untuk mengolok-olok orang-orang intelek” .

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑