Eka Kurniawan

Journal

1Q84

Hanya karena ditulis dengan baik oleh penulis yang baik, saya berhasil membaca novel nyaris seribu halaman ini. Selebihnya saya hanya terkesan dengan sosok Aomame. Jatuh cinta kepadanya, seperti Tengo. Terutama hanya terkesan pada satu bagian yang bercerita tentang kota kucing. Jika itu dipenggal dan menjadi cerita pendek (jika saya tak salah ingat, bagian itu memang diterbitkan di The New Yorker sebagai cerita pendek), itu akan menjadi salah satu cerita pendek terbaik Haruki Murakami. Sisanya, saya merasa 1Q84 seperti mie rebus yang kelewat lama dimasak. Percintaan yang kelewat lama, keburu lelah sebelum orgasme. Mungkin ia sedang bermaksud menulis opera sabun, yang sayangnya juga miskin melodrama.Tapi menarik juga caranya merayakan epik 1984, meskipun apa yang dilakukannya barangkali akan membuat George Orwell gelisah di dalam kuburannya. Tak ada Big Brother, tapi ada Little People. Little People sama mengerikannya dengan Big Brother, atau bahkan lebih mengerikan. Mereka tak hanya mengatur hidupmu, mereka juga mengatur kapan hujan turun dan kapan kilat menyambar. Mungkin mereka juga yang menciptakan dunia. Tak ada mata yang mengintai, tapi ada burung gagak. George Orwell sedang mimpi buruk di dalam kuburannya, seperti Franz Kafka ngompol di peti mati ketika Murakami mengeluarkan Kafka on the Shore. Baiklah, Kafka on the Shore jauh lebih baik daripada 1Q84, dan Kafka barangkali tidak ngompol. Tak hanya jauh lebih baik, itu novel yang sangat bagus. Salah satu novel Murakami yang bagus, meskipun saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. Kafka tersenyum lebar (setelah selama hidupnya ia tampaknya jarang tersenyum) dan ia bahagia melihat Kafka kecil jatuh cinta kepada perempuan yang semestinya menjadi ibunya. Kita jarang membaca perkara Kafka dan ibunya, tapi ia banyak bercerita tentang bapaknya, dengan cara Fruedian: ia tampak ingin membunuh bapaknya. Saya rasa ini agak melantur. Apa yang saya bicarakan tadi? Oh ya, 1Q84. Sebuah novel berisi tiga buku tebal. Seperti mie rebus yang dimasak selama satu setengah jam, hingga mienya tak lagi berbentuk mie, tapi menyerupai bubur kertas. Apa boleh buat, sekali lagi, saya lebih menyukai novel-novel pendeknya. South of the Border, West of the Sun, salah satu favorit saya. Juga Sputnik Sweetheart. Padat, lucu, dan segar. Katakan selera saya agak aneh. Tapi saya merasa, dalam novel-novel pendeknya, semakin terlihat dalam cerita-cerita pendeknya, keringkasannya menjadi sesuatu yang menggema panjang. Seperti lagu pendek yang melodinya terus terdengar. Seperti jajanan pasar yang kita cicipi dan rasanya tertanam lama di ujung lidah. Seperti ciuman pacar pertama. 1Q84 sebaliknya. Sebagai karya yang sangat panjang, itu seperti menonton pertunjukan orkestra selama beberapa jam. Di beberapa bagian, saya lebih senang jika bisa tidur. Tak ada gema panjang, kecuali momen-momen pendek di sana-sini. Di luar kisah mengenai kota kucing, bagian yang berkesan adalah kisah mengenai juru tagih NHK (ayah Tengo), serta bagian Aomame di dalam apartemen yang harus menghadapi ketukan pintu, juga dari juru tagih NHK. Juga kisah mengenai Fuka-Eri, gadis cantik berumur 17 tahun yang memenangi kontes penulisan novel. Usia muda dan kecantikannya membuat saya membayangkan novelis Hitomi Kanehara (novelnya, Snakes and Earrings boleh dibaca). Bagian ketika ia “memerkosa” Tengo, merupakan momen yang paling erotis di sepanjang novel ini. Saya pikir momen ini sama mengesankannya dengan berbagai momen erotis di novel-novel Murakami lainnya, termasuk di beberapa bagian Norwegian Wood. Bagian-bagian ini berdering luar biasa, seperti karya yang berdiri sendiri. Barangkali memang begitulah cara terbaik menikmati novel ini. Kisah mengenai Aomame dan Tengo yang saling mencari, anggaplah sebagai bingkai yang menyedihkan, untuk ruang begitu banyak kisah yang berkelap-kelip di dalamnya. Bingkainya menjadi tidak penting, bahkan pagi para pembaca penggemar Rhett Butler dan Scarlett O’Hara sekalipun (maaf jika perbandingan ini berlebihan).

2 Comments

  1. Setuju dengan pandangan saudara. 1Q84 memang kelihatan seperti sebuah drama panjang. Tetapi bahagian yang bagi saya mengasyikkan bila ada ketukan pintu oleh bapa Tengo yang merupakan seorang juru tagih NHK. Sedangkan kita tahu, itu hanya projeksi keinginan dari kesedarannya sahaja.

    Bagaimana dengan Wind-Up Bird Chronicle? Itu juga seronok selain Sputnik Sweetheart.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑