<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 11:17:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Cantik Itu Luka&#8221; di Mobil Pick-up</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 06:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3133</guid>
		<description><![CDATA[Foto tulisan "Cantik Itu Luka", kiriman seorang teman di Twitter, <a href="http://twitter.com/saadsangit">@saadsangit</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-pickup500.jpg"><img src="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-pickup500.jpg" alt="" title="cil-pickup500" width="500" height="487" class="aligncenter size-full wp-image-19" /></a></p>
<p>Foto tulisan &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;, kiriman seorang teman di Twitter, <a href="http://twitter.com/saadsangit">@saadsangit</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-mobil-pick-up-3133.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#CantikItuLuka</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantikituluka-3130.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantikituluka-3130.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 14:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3130</guid>
		<description><![CDATA[#CantikItuLuka: Wajahnya jelek, tapi hatinya cantik. Maka ia kirim hatinya ke tempat pelacuran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>#CantikItuLuka: Wajahnya jelek, tapi hatinya cantik. Maka ia kirim hatinya ke tempat pelacuran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantikituluka-3130.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Tesis Tentang Judul Novel</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 18:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Judul]]></category>
		<category><![CDATA[Knut Hamsun]]></category>
		<category><![CDATA[Milan Kundera]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[William Faulkner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3111</guid>
		<description><![CDATA[Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Buku" height="338" src="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-08/hnCrzlufivdBjtBonfHkFJksrcfHJaGxybkhfDphzxzcECxJwzpqErkCavwa/buku.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis &#8220;brand&#8221;, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa &#8220;Warung Ice&#8221; tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.</p>
<p>Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: <em>The Unbearable Lightness of Being</em>. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.</p>
<p><span id="more-3111"></span></p>
<p>Dari karya ke karya, para penulis biasanya bergerak di tema-tema yang saling berkaitan. Bisa dikatakan, ada tema besar yang menjadi minat penulis, dan nyaris selalu terulang di karya-karyanya. Pola ini juga bisa terlihat dari cara mereka memilih judul. Judul-judul karya Milan Kundera, dekat dengan tema &#8220;lelucon&#8221;: <em>The Joke</em>, <em>The Book of Laughter and Forgetting</em>, <em>Laughable Loves</em>; Gunter Grass dekat dengan judul-judul berbau fabel: <em>Dog Years</em>, <em>Cat and Mouse</em>, <em>From the Diary of a Snail</em>, <em>The Flounder</em>; Haruki Murakamid dekat dengan judul-judul berbau kebudayaan barat: <em>Norwegian Wood</em>&nbsp;(dari lagu The Beatless), <em>Kafka on the Shore</em>&nbsp;(dari nama penulis Ceko berbahasa Jerman, Franz Kafka), <em>1Q84</em>&nbsp;(dari judul novel George Orwell, <em>1984</em>), <em>Sputnik Sweetheart</em>&nbsp;(dari nama pesawat luar angkasa Rusia).</p>
<p>Ada judul-judul yang diambil dari nama/julukan tokohnya: <em>Anna Karenina</em>&nbsp;(Tolstoy), <em>The Idiot&nbsp;</em>(Dostoyevski), <em>Madame Bovary</em>&nbsp;(Gustave Flaubert), <em>Gadis Pantai</em>&nbsp;(Pramoedya Ananta Toer). Saya pikir, untuk menjadikannya judul, tokoh-tokoh itu mesti berkarakter kuat, dan tentu saja demikian menonjol di novel tersebut, dan barangkali novel itu memang tentang si tokoh. Perkecualian, tentu harus merupakan hasil pemikiran yang matang. Misalnya, saya pikir, novel <em>Bumi Manusia</em>&nbsp;akan menjadi aneh jika diberi judul &#8220;Minke&#8221; atau &#8220;Nyai Ontosoroh&#8221;. Meskipun karakter mereka kuat di sana, tapi novel itu tidak spesifik tentang salah satu di antara mereka.</p>
<p>Judul juga bisa tidak berhubungan langsung dengan karya yang diberi judul. Ia bisa merupakan upaya mengaitkannya dengan karya atau referensi lain. Knut Hamsun menulis novel <em>Pan</em>, tidak bercerita tentang Pan &#8212; dewi cinta dalam mitologi Skandinavia, tapi memang bercerita tentang cinta. William Faulkner menulis novel <em>Absalom, Absalom</em>, tentu dengan maksud untuk mereferensi ke kisah Al-Kitab mengenai Absalom. James Joyce menulis <em>Ulysses</em>, mau tak mau kita juga mereferensikannya ke kisah Ulysses dalam mitologi Yunani.</p>
<p>Tesis-tesis tentang judul novel ini, saya pikir bisa juga diterapkan untuk judul jenis-jenis karya lainnya.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/beberapa-tesis-tentang-judul-novel-3111.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 15:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku-e]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3101</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terjadi dengan buku yang terbuat dari kertas, dengan kedatangan era buku digital?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Ebook" height="368" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-06/ibEdzjGJzBovftnCfDBfddgcjbJzaxszhoBmCjrCyneDtvqbaqkACswjcggC/ebook.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e &#8212; terjemahan suka-suka saya dari <em>e-book</em>, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).</p>
<p>Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):</p>
<p><span id="more-3101"></span></p>
<ol>
<li>Buku dalam format kertas dan dijilid akan tetap ada, tapi jumlahnya akan menurun sangat drastis. Barangkali hanya buku-buku tertentu diterbitkan dalam format seperti ini: buku dengan asumsi penjualan tinggi, kitab suci, buku manual. Atau sebaliknya: buku yang tak banyak dibaca, diterbitkan terbatas hanya untuk segelintir peminat. Intinya, menerbitkan buku konvensional akan merupakan kegiatan yang mahal. Hanya buku yang diminati orang, atau buku yang bisa dijual mahal (meskipun sedikit), menjadi masuk akal secara bisnis untuk diterbitkan.</li>
<li>Bisnis buku bekas akan lebih mengasyikan. Bahkan mulai terasa sejak sekarang. Buku-buku lama (kecuali yang domain publik, karena dianggap murah) sudah jarang dicetak ulang, sehingga perlu ke toko buku bekas untuk mencarinya. Saya sendiri penggemar toko online abebooks.com, yang menyediakan begitu banyak buku bekas, untuk memburu buku-buku lama yang tak lagi diterbitkan.</li>
<li>POD (print-on-demand) akan menjadi pilihan menarik bagi para pembaca yang tetap menginginkan buku konvensional di era digital. Sementara buku-buku telah beralih ke format digital, kita masih bisa memperoleh buku konvensional dengan mencetaknya secara satuan. Harganya akan lebih mahal daripada umumnya buku sekarang. Toko buku barangkali akan menurun drastis. Mereka barangkali akan berubah menjadi kios-kios pencetak buku POD.</li>
</ol>
<p>Dan ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang e-book:</p>
<ol>
<li>Para penyedia buku-e harus mulai memikirkan standar format. Bayangan saya seperti .mp3 (atau .m4a) untuk musik. Bahkan meskipun ada banyak format musik, masih jauh lebih mudah memutar file musik yang sama di beberapa perangkat yang berbeda. Dalam perkara buku-e, tampaknya masih ada pertarungan sengit antara para penyedia. Penerbit harus membuat beberapa format yang berbeda agar buku bisa dibaca di Apple iPad dan Amazon Kindle, misalnya. Buku yang dibuat untuk format perangkat tertentu, dibuat susah dibaca di format lain. Ini bisa bikin frustasi pembeli buku-e. Tapi mari kita lihat, cepat atau lambat barangkali akan menuju ke sana.</li>
<li>Selain soal daya tampung dan bobot (bisa membawa ribuan buku dalam satu perangkat tipis), buat saya hal paling menarik dari buku-e adalah &#8220;bisa diakses mesin pencari&#8221;. Saya membaca buku tak sekadar untuk &#8220;membaca&#8221;, tapi kadang melakukan penelitian. Buku-e memungkinkan saya mencari bagian-bagian tertentu yang saya inginkan dengan cepat. Saya bisa langsung masuk ke entri tertentu di kamus atau ensiklopedia. Jika saya lupa di bagian mana penulis tertentu menulis hal tertentu, saya tinggal mencari dengan kata kunci tertentu.</li>
<li>Di zaman buku konvensioanal, menerbitkan buku sendiri tentu saja bisa dilakukan. Tapi di zaman digital, hal ini akan semakin menjadi-jadi karena faktor ini: murah. Penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri dalam format buku-e, tak perlu mengeluarkan ongkos cetak. Dan akan lebih banyak hal bisa diterabas juga. Selain menerbitkan bukunya sendiri, penulis bisa menjualnya sendiri juga. Fenomenanya kurang lebih akan seperti blog: menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan menjualnya sendiri.</li>
</ol>
<p>Tentu saja bahasan mengenai pertarungan buku konvensional dan buku-e jauh lebih rumit dari itu, tapi sementara itulah hal-hal yang menarik perhatian saya. Dan apa yang akan saya lakukan jika era buku-e ini benar-benar telah datang (di negara yang lebih maju, era ini telah datang, tapi di Indonesia barangkali kita perlu beberapa tahun ke depan lagi):</p>
<p>Saya akan membaca buku-buku dalam format digital, terutama saya ingin menyimpan buku-buku referensi (kamus, ensiklopedia, buku-buku klasik, buku-buku pengetahuan, katalog, kronik) dalam bentuk digital. Untuk buku-buku yang saya suka, terutama novel, barangkali saya akan mencetaknya dalam bentuk POD. Dan sebagai penulis, saya mestinya tak perlu kuatir dengan perubahan format apa pun. Tugas penulis adalam menulis. Tulisannya bisa hadir dalam format apa pun. Bukankah begitu?</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tentang-buku-dan-buku-e-3101.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desain Kaos dan Wallpaper &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 14:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Kaos Oblong]]></category>
		<category><![CDATA[T-Shirt]]></category>
		<category><![CDATA[Wallpaper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3085</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka cetak ulang novel "Cantik itu Luka", saya dan penerbit memutuskan membuat promo kecil membuat kaos oblong.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile2.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-04/vnhwoFjyfdDgDGqfJanJzJBfCDfrqsngfjeljnHgFvAhCIddGeiIgDjiCbli/cil-preview.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil-preview" height="313" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-02-04/vnhwoFjyfdDgDGqfJanJzJBfCDfrqsngfjeljnHgFvAhCIddGeiIgDjiCbli/cil-preview.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Dalam rangka cetak ulang novel &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, saya dan penerbit memutuskan membuat promo kecil membuat kaos oblong. Tapi saya ingin ketika orang memakai kaos ini, mereka tak merasa sedang memakai kaos promosi. Maka selama 3 hari, saya berkutat membuat desain, dan inilah hasilnya. Idenya berasal dari desain tato. Tato? Ya, bukankah tato metafor paling mendekati untuk judul &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;?</p>
<h3>Update: Unduh <em>Wallpaper</em></h3>
<p>Desain di atas, juga tersedia sebagai <em>wallpaper</em>. Tersedia dalam beberapa ukuran:</p>
<p><span id="more-3085"></span>
<p><a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-320x480.jpg" target="_blank">320x480px</a>, <a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-1024x768.jpg" target="_blank">1024x768px</a>, <a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-1280x800.jpg" target="_blank">1280x800px</a>, <a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-1440x900.jpg" target="_blank">1440x900px</a>, <a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-1680x1200.jpg" target="_blank">1680x1200px</a>, <a href="http://caronang.files.wordpress.com/2012/02/cil-2540x1440.jpg" target="_blank">2540x1440px</a>.</p>
<p>Sila mengunduhnya (klik kiri, lalu <em>save as</em> ke komputer Anda).</p>
<p>Dan ini merupakan desain yang lebih &#8220;bersih&#8221; untuk kaos oblong:</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/FlU7C8Wz1NTtjKuF3yg9SpkpmpbqLDh66AZINOtdX3wpgL51vq9W5om3OIPB/cil-tattoo-square.jpg"><img alt="Cil-tattoo-square" height="500" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/1CTSUVtBe9epdWRyvLiYkoJRYouGTd1ZdmzAAlIF9xQjrFw1K49n2af78JmO/cil-tattoo-square.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanskap &#8220;Lelaki Harimau&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 10:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pangandaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel "Lelaki Harimau", dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/KwiJZSWSkM0MB5T9tNl77fhHWFJgTRpb77KIgdtcVXFkEpwpbtIA0RgL2TjW/lh-lanskap.jpg"><img alt="Lh-lanskap" height="375" src="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/9tbLInQ5RsTtQwnayA2cdkbmUMg06zTpMWuGARQvuzcG9jTK0sy2jzTLwelg/lh-lanskap.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;, dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini: <br /><span id="more-3081"></span> </p>
<blockquote><p>Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih muzair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.</p></blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki dan Rumah</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 03:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Ford Coppola]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Homer]]></category>
		<category><![CDATA[Julio Cortazar]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Puzo]]></category>
		<category><![CDATA[Oedipus Complex]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Sangkuriang]]></category>
		<category><![CDATA[Sigmund Freud]]></category>
		<category><![CDATA[The Alchemist]]></category>
		<category><![CDATA[The Godfather]]></category>
		<category><![CDATA[Ulysses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3013</guid>
		<description><![CDATA[Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-01-08/cIjcHEagzkJlBskazEGeazAnlrbwzaCAGfBjulgmIbkAyuCdcDzylzhoixHx/home-sweet-home.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Home-sweet-home" height="375" src="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-01-08/cIjcHEagzkJlBskazEGeazAnlrbwzaCAGfBjulgmIbkAyuCdcDzylzhoixHx/home-sweet-home.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?</p>
<p>Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.</p>
<p><span id="more-3013"></span></p>
<p>Tengok juga kisah Pandawa dalam Mahabharata. Mereka baru bisa dibilang layak berkuasa, layak menang, setelah memperoleh ujian: diusir dari rumah. Bahkan meskipun pada akhirnya mereka membangun rumah baru di dalam hutan, setelah terlunta-lunta, ujung-ujungnya mereka tetap menguasai rumah yang lama, negeri Astina.</p>
<p>Bahkan fenomena pergi dari rumah untuk menguasai kembali rumah, tidak melulu terdapat dalam kisah kolosal semacam itu. Di cerita rakyat semacam Sangkuriang kita bisa menemukan pola yang sama: Sangkuriang diusir dari rumah karena melanggar sejenis &ldquo;kode etik&rdquo; rumah (yakni membunuh ayahnya), pergi merantau untuk kembali ke rumah itu dengan hasrat menguasainya. Tak hanya menguasai rumah tersebut, tapi juga penghuninya (yakni ibunya sendiri).</p>
<p>Tunggu dulu. Bagaimana dengan para pengeran? Para putera mahkota? Mereka jelas tinggal di keraton bersama keluarga mereka, dan bahkan kemudian mewarisi &ldquo;rumah&rdquo; tersebut untuk terus ditinggali. Tetap saja pola itu terus berlaku, pada satu titik para pangeran dan putera mahkota ini perlu diusir dari istana. Kita bisa membayangkan itu juga berlaku bagi para &ldquo;pangeran&rdquo; di kerajaan bisnis. Seringkali kita mendengar mereka sekali waktu disuruh pergi (dititipkan di kerajaan sahabat, dibuang ke sungai seperti Musa), tapi tentu dengan harapan akan kembali untuk menguasai &ldquo;rumah&rdquo;.</p>
<p>Juga di kelompok berandalan. Masih ingat kisah <em>The Godfather</em> karya Mario Puzo, yang adaptasi filmnya oleh Francis Ford Coppola juga sama memukau? Don Vito Carleone pun bahkan merasa perlu mengusir Michael anak bungsunya ke Sisilia, untuk kelak kembali ke rumah dan menjadi kepala keluarga mereka. Seolah tanpa pergi ke Sisilia, Michael tak akan pernah menjadi apa-apa. Tanpa dibuang ke hutan, lima bersaudara Pandawa tak akan memenangkan perang Bharatayudha. Demikian pula, setelah kemenangan yang gilang-gemilang dan menjadikannya pahlawan di perang Troya, kisah terbesar Homer tentang Ulysses justru adalah mengenai kepulangan sang pahlawan ke rumah, ke Ithaca. Seolah-olah perjalanan terberat manusia pada akhirnya adalah perjalanan dari rantau menuju rumah. Sebab bukankah perjalanan umat manusia untuk kembali ke surga, juga merupakan perjalanan yang berat?</p>
<p>Dengan kata lain, rumah sejenis surga tempat lelaki dilahirkan, dan kelak ia berharap itu menjadi tempat ia bisa kembali. Tanpa keluar dari surga, manusia bukanlah manusia. Dan tanpa kemampuan untuk kembali ke surga, berkumpul dengan keluarga, manusia itu bisa dianggap tersesat. Ia akan terlunta-lunta di sebuah tempat bernama neraka.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada sebuah cerita pendek karya penulis Argentina, Julio Cortazar tentang lelaki yang tak pernah pergi dari rumah berjudul &ldquo;House Taken Over&rdquo;. Dikisahkan si lelaki (dan adik perempuannya) mewarisi sebuah rumah besar dari orang tua mereka. Begitu besarnya rumah tersebut, sehingga dari hari ke hari mereka hanya disibukkan oleh mengurus rumah tersebut. Kesibukan tersebut membuat mereka tak hanya menjadi tidak bergaul dengan dunia luar, tapi juga menjadikan mereka tak pernah menikah.</p>
<p>Meskipun demikian, si lelaki bersetia menjaga rumah dan adik perempuannya. Hingga suatu malam serangan tersebut berawal: perlahan-lahan ada sesuatu yang menginvasi rumah tersebut, yang hanya ditandai bunyi-bunyi ribut. Invasi itu semakin merajalela dari malam ke malam, sehingga untuk mereka hanya tersisa sebagian kecil dari rumah itu. Tapi tak apa, toh mereka memang tak memerlukan ruangan yang sangat besar. Si lelaki hanya butuh tempat untuk menaruh buku-buku, sementara adik perempuannya hanya butuh tempat untuk merajut. Hingga satu malam, sesuatu yang menginvasi itu berhasil mencapai ruangan terakhir yang mereka tempati. Kakak-beradik ini pun terlempar ke luar rumah, dan hidup menggelandang di jalanan.</p>
<p>Cerita pendek tersebut memang sangat alegoris, dengan beragam tafsir bisa diajukan kepadanya. Tapi kesimpulan ringan bolehlah diambil: untuk lelaki yang tak pernah keluar rumah, sesuatu akan memaksanya keluar rumah dan akan membuatnya terlempar ke jalanan.</p>
<p>Franz Kafka di &ldquo;Metamorphosis&rdquo; juga bisa dibilang menceritakan seorang lelaki yang tak meninggalkan rumah, alias tetap tinggal bersama kedua orang tuanya. Dengan kedua orang tua yang tak memiliki pekerjaan, serta seorang adik perempuan yang tumbuh remaja, Gregor Samsa tak punya pilihan lain kecuali tetap tinggal di rumah untuk menjadi tulang punggung keluarga.</p>
<p>Gregor dikisahkan harus menghidupi keluarganya dengan cara menjadi penjual (pakaian) keliling. Setiap pagi ia berangkat untuk berjualan, dan menjelang malam ia baru pulang ke rumah, hanya menemukan dirinya lelah dan penat. Hingga satu hari ia terbangun dari tidurnya yang berhias mimpi buruk, dan menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kecoa besar. Gregor Samsa tak hanya susah payah untuk bangun, lebih dari itu, ia tak pernah kembali menjadi manusia, dan tak lagi mampu melakukan apa pun yang bisa dilakukan oleh manusia. Merasa aib memiliki seorang anak yang berubah menjadi kecoa, keluarganya (yang selama ini menggantungkan hidup kepadanya) memutuskan untuk mengurung Gregor di dalam kamar.</p>
<p>Kisah ini juga pada dasarnya alegoris, tapi bolehlah juga kita meraba-raba pesan kecilnya yang tersirat: dipaksa oleh keadaan untuk tetap tinggal bersama orang tua di satu rumah, Gregor Samsa harus melata dan membusuk selamanya di dalam rumah tersebut. Bahkan menjadi kecoa besar seolah tak cukup sebagai kutukannya, ia mati tertimbun buah-buahan yang membusuk, dan kadang-kadang dilemparkan begitu saja ke arahnya.</p>
<p>Jika di cerita pendek pertama kita melihat lelaki yang tak keluar rumah pada akhirnya akan dipaksa menggelandang di jalanan, di cerita pendek kedua, kita melihat lelaki semacam itu harus menerima nasibnya untuk mati menjadi bangkai binatang melata yang menjijikkan.</p>
<p>Gambaran-gambaran semacam inilah, dari kebudayaan kuno hingga kebudayaan modern, dari Barat hingga ke Timur, yang membentuk stereotif bahwa lelaki memang harus pergi dari rumah jika waktunya sudah tiba. Ia boleh kembali ke rumah, jika misi perantauannya telah berhasil. Seolah-olah, rumah bukanlah tempat lelaki seharusnya berada. Ia baru layak masuk ke rumah, setelah mengalami apa yang disebut &ldquo;terusir&rdquo;.</p>
<p>Bahkan penyanyi balada kita, Iwan Fals di lagu &ldquo;Rindu Tebal&rdquo;, setelah diusir ayahnya dari rumah karena memberi &ldquo;coreng hitam di muka bapak&rdquo;, baru kemudian ia merindukan rumah dan berhasrat memperoleh ampunan agar bisa kembali.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada sebutan yang agak mengejek untuk lelaki yang tak pernah pergi dari rumah beserta sifat-sifat turunannya: &ldquo;Anak mami&rdquo;.</p>
<p>Meskipun bernada negatif, julukan ini ada benarnya. Rumah sebagai surga, sebagai tempat manusia dilahirkan, bisa juga dianalogikan sebagai rahim. Dan anak yang tak pernah meninggalkan rumah, ibarat bayi yang terlena untuk tetap terus berada dalam buaian rahim ibunya. Anak mami.</p>
<p>Dan analogi rahim ini pula, yang membuat perempuan tak memiliki stereotif untuk meninggalkan rumah. Bahkan sebaliknya, seorang perempuan seolah-olah tempatnya memang di rumah. Sebagai pemilik, pengatur dan penjaga rahim. Perempuan membuka pintu rahim dan rumah ketika lelaki hendak masuk, dan mengeluarkan anak-anak mereka dari rahim dan rumah pula.</p>
<p>Rumah, sebagaimana rahim, merupakan tempat berlindung yang alami. Tempat seorang anak memperoleh jaminan pasokan makanan. Tapi bahkan janin bayi di dalam rahim pun, setelah berumur sembilan bulan, harus dikeluarkan dari tempat yang aman-nyaman tersebut, untuk menghadapi dunia yang kejam dan bisa membunuhnya. Sebab segala sesuatu di dalam rahim tak lagi memadai untuknya terus tumbuh dan berkembang. Jadi adakah alasan untuk seorang lelaki menjadi anak mami? Tinggal terus dalam kenyamanan rahim ibu yang bernama rumah keluarga?</p>
<p>Dalam realitas sehari-hari, tentu kita bisa dihadapkan pada anomali-anomali atau terpaksa melawan tuntutan-tuntutan semacam itu. Seorang anak lelaki tunggal dengan orang tua tinggal, barangkali lebih memilih melawan norma &ldquo;lelaki-pergi-dari rumah&rdquo; untuk membela norma &ldquo;lelaki-yang-mengurus-orang-tua&rdquo;. Kita tahu, norma-norma di masyakat betapa pun buruknya, serta stereotif-stereotif, juga memiliki jenjang dan strata. Ada aturan-aturan main yang boleh dilanggar demi aturan main yang lain.</p>
<p>Di kebudayaan yang lebih modern, dengan pilihan-pilihan yang lebih luas dan longgar, kita bahkan lebih sering melihat seorang lelaki yang memang memilih untuk tinggal di rumah bersama keluarga, tanpa keterpaksaan apa pun. Artinya, bisa jadi ia memiliki pekerjaan, memiliki kemampuan untuk tinggal di tempat lain, dan tak ada apa pun di rumah yang perlu diurusinya. Tapi barangkali ia bukan &ldquo;anak mami&rdquo;, yang hidup dalam kenyamanan rahim ibu.</p>
<p>Trend ini bisa dilihat secara positif sebagai benturan dari trend emansipasi. Di luar fakta kita semakin sering melihat lelaki tinggal di dalam rumah, kita juga semakin sering melihat perempuan pergi dari rumah. Tentu saja ini bukan semata-semata pertukaran peran, tapi juga bisa dilihat sebagai rubuhnya infrastruktur-infrastruktur yang membentuk stereotif awal dimana lelaki harus pergi dari rumah dan perempuan harus menetap.</p>
<p>Jika rumah, di sisi lain, kita anggap sebagai wilayah politik yang mungil, dengan penguasa dan segala perangkatnya, menyiapkan seorang pewaris pada akhirnya tak lagi melulu dengan melemparkannya ke jalanan. Tradisi modern bisa menawarkan hal sebaliknya: membawa segala sesuatu yang di luar ke dalam rumah, sehingga lelaki tak perlu pergi merantau. Dan kita sudah menyaksikannya hari ini: televisi, media massa, internet. Dunia bahkan ada di dalam kamar tidur.</p>
<p>Dengan kata lain, lima bersaudara Pandawa pada dasarnya bisa mempersiapkan dirinya untuk melawan Kurawa tanpa pergi kemana-mana. Sangkuriang bisa membunuh ayahnya dan kemudian menguasai rumah dan ibunya, tanpa perlu mengelilingi dunia.</p>
<p>Kita memiliki kisah pengembaraan yang bagus mengenai hal ini. Dalam kisah sufistik <em>Musyawarah Burung-burung</em> karya Fariddudin Attar, kita mengenal tiga puluh ekor burung yang berusaha mencari ketua mereka, bernama Simorgh. Setelah perjalanan panjang, melewati tujuh lembah, mereka akhirnya sampai di satu puncak dimana diyakini Simorgh berada. Di sanalah mereka menyadari fakta perjalanan tersebut hanya untuk menemukan bahwa Simorgh adalah ketiga belas burung tersebut.</p>
<p>Perjalanan, dengan kata lain, tak lebih untuk menemukan diri sendiri.</p>
<p>Dan kita juga bisa membandingkannya dengan alegori Paulo Coelho, <em>The Alchemist</em>. Santiago harus melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Mesir, hanya untuk menemukan kenyataan harta karun yang dicarinya, terdapat di tempat awal perjalanannya. Kesimpulan sederhananya, apa pun yang dicari seseorang, pada dasarnya ada di dalam dirinya, di rumahnya. Maka, pertanyaan pragmatisnya, untuk apa pergi dari rumah hanya untuk mencari rumah yang sama?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kita kutip sedikit Sigmund Freud dalam <em>The Interpretation of Dreams</em>: &ldquo;Barangkali inilah nasib kita, untuk mengarahkan impuls seksual pertama kita kepada ibu dan kebencian serta keinginan membunuh kepada ayah.&rdquo;</p>
<p>Jika kita singgungkan hal ini kepada bahasan di atas, bisa dikatakan kepergian seorang lelaki dari rumah hampir selalu karena ayah, dan kembali ke rumah karena kerinduan kepada &ldquo;rahim&rdquo;. Sangkuriang terusir dari rumah setelah membunuh Si Tumang, anjing yang tak lain ayahnya, dan ia kembali untuk ibunya. Jika rumah benar adanya merupakan simbol dari rahim ibu, maka kepada rumahlah kerinduan kita pertama-tama ditempatkan. Kita ingin berada di rumah, dan ketika pergi, kita ingin kembali ke rumah.</p>
<p>Masalahnya, seringkali rumah tersebut ada pemiliknya: ayah. Dan pemilik rumah diasumsikan sebagai pemilik tunggal. Ada sejenis kontrak politik, jika ingin menguasai rumah, maka harus menggeser pemilik sebelumnya. Di sinilah Oedipus Complex terjadi: untuk memiliki ibu, seseorang harus membunuh ayah.</p>
<p>Pengusiran dari rumah dengan janji kemungkinan kembali di satu masa, bisa dipandang sebagai kompromi untuk mengatasi impuls ini. Rumah sebagai sebuah sistem politik kecil, harus mempersiapkan suksesi penguasa rumah secara damai, tanpa melibatkan apa yang ditakutkan: membunuh ayah. Dalam skenario semacam ini, si anak diusir dari rumah pada dasarnya tak semata-mata untuk melakoni sejenis perjalanan, tapi lebih penting lagi memang untuk jauh dari rumah. Dari ayah dan ibu. Si anak hanya diizinkan pulang ketika waktu suksesi itu memang telah tiba waktunya.</p>
<p>Maka, soal pergi dan tidak pergi dari rumah pada akhirnya merupakan pilihan politik kecil juga. Di luar situasi-situasi di mana seorang lelaki &ldquo;terpaksa&rdquo; keluar dari rumah karena melanggar sejenis &ldquo;kode etik&rdquo; rumah (seperti Sangkuriang yang membunuh Si Tumang, atau Michael yang melanggar kesepakatan keluarga Carleone), pergi dari rumah pada dasarnya merupakan pilihan politis, demikian pula sebaliknya. Dengan asumsi semacam ini, pertanyaan kenapa seorang lelaki tidak pergi dari rumah, bukanlah perkara apakah itu aib atau tidak, tapi apa latar di belakang pilihan-pilihan tersebut?</p>
<p>Di sinilah kita bisa sedikit menyimpulkan: jika perjalanan jauh mengarungi dunia pada akhirnya hanya untuk menemukan kembali rumah, siapa tahu tetap tinggal di rumah bisa menemukan dunia? Di alam besar terdapat alam kecil, dan di alam kecil terdapat alam besar.</p>
<div class="footnote">Diterbitkan di Majalah <em>Bung!</em> edisi Oktober-November 2011</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampul Baru &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, 2012</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 13:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3004</guid>
		<description><![CDATA[Jika tak ada halangan, "Cantik itu Luka" dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil_new1000" height="342" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a></div>
</p>
<p>Jika tak ada halangan, &#8220;Cantik itu Luka&#8221; dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 16 Februari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Karakter</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 13:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Kazuo Koike]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana menciptakan karakter yang tak hanya "memorable", tapi juga terasa nyata?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Crowd" height="353" src="http://getfile2.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga <em>Lone Wolf and Cub</em> mengenai keberhasilannya menulis komik: &ldquo;Character that stands out.&rdquo; Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam <em>Bumi Manusia</em> (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam <em>The Idiot</em> (Dostoyevski), Kakek dalam &ldquo;Robohnya Surau Kami&rdquo; (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam &ldquo;The Metaporphosis&rdquo; (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.</p>
<p>Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya &ldquo;memorable&rdquo;, tapi juga terasa nyata?</p>
<p><span id="more-3002"></span></p>
<p>Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan segera melihat bunga itu. Demikian pula di keluasan langit yang biru cerah, tiba-tiba seekor elang terbang sendirian, perlahan-lahan. Hitam kelam. Dengan mudah elang tersebut menjadi fokus perhatian.</p>
<p>Itu merupakan teknik paling mudah untuk membuat sesuatu menjadi fokus perhatian. Kita bisa melakukan teknik yang sama untuk karakter rekaan kita dalam sebuah cerita: buat karakter yang demikian berbeda di tengah karakter-karakter lain yang relatif sama. Bahkan meskipun kita memiliki bunga lantana kuning, bunga mawar merah, bunga melati putih, jika mereka semua diletakkan dengan jarak tertentu di hamparan hijau, lantana, mawar dan melati akan tampak secara bersama-sama.</p>
<p>Demikianlah, di tengah masyarakat yang takut pada kekuasaan kolonial dan berpasrah diri pada tradisi adat, Pramoedya memunculkan tokoh Minke dan Ontosoroh. Di tengah keluarga yang menjalani hidup biasa-biasa, cenderung parasit, Kafka menciptakan tokoh Samsa yang bekerja keras, depresi, hingga berubah menjadi kecoa. Di tengah masyarakat yang hipokrit dan para penjilat, tokoh Mishkin ciptaan Dostoyevski yang lurus, lugu, apa adanya, menjadi begitu menonjol.</p>
<p>Sekarang bayangkan jika Mishkin dalam <em>The Idiot</em> itu hidup di antara tokoh-tokoh yang juga lurus, apa adanya, jujur, tanpa pamrih? Percayalah, tokoh Mishkin itu tak hanya tak akan nampak, tetapi juga di tengah tokoh-tokoh yang seragam semacam itu, kemungkinan akan muncul konflik sangatlah kecil. Dan jika tak ada konflik, maka tak akan ada cerita, bukan?</p>
<p>Tapi bukankah pada dasarnya setiap karakter itu unik? Berbeda antara satu dan yang lainnya? Di kehidupan nyata itu benar. Tapi benar juga bahwa kadang-kadang perbedaan pribadi satu dan yang lainnya, begitu tipis jika dilihat sepintas lalu. Bukankah dalam novel atau cerita pendek, tak mungkin kita menyelam dalam ke pribadi semua tokoh. Sebagian besar tokoh barangkali hanya figuran, yang dilihat sepintas lalu. Coba perhatikan di dalam kehidupan sehari-hari. Siang hari, sepulang sekolah, perhatikan anak-anak sekolah keluar dari kelas. Dengan seragam yang sama, tingkah yang sama, tertawa yang sama, mereka tampak memiliki kepribadian yang sama satu sama lain. Hanya jika kita mengenal mereka satu per satu, akan tampak perbedaannya. Dan semakin kita mengenal, semakin nyata perbedaan-perbedaan itu.</p>
<p>Di sinilah sebagai penulis, kita harus memilih siapa-siapa di antara karakter kita yang harus menonjol dan siapa-siapa yang hanya akan berlalu sepintas saja.</p>
<p>Tapi menonjol saja tentu saja tidak cukup. Menonjol, jika tak menimbulkan kesan yang mendalam, barangkali akan segera dilupakan juga. Tugas selanjutnya, tentu saja menciptakan tokoh yang masuk akal bagi pembaca, sebab tanpa itu, semenonjol apa pun, hanya akan lewat sepintas saja di mata pembaca. Seperti apakah tokoh yang masuk akal? Bagi saya jawabannya sederhana: yakni tokoh yang memang layak berada di setting cerita yang tengah dibuat. Ibaratnya, jangan pergi ke pesta dengan salah kostum. Orang dengan salah kostum, barangkali akan menonjol di pesta. Tapi jikapun ia dikenang, pasti dikenang karena kekonyolannya. Jangan sampai karaktermu terasa salah berada di ceritamu.</p>
<p>Hal paling mudah bagi pembaca untuk mengenali karakter rekaanmu, adalah melalui namanya. Dan melalui nama ini pula, sebenarnya kamu mulai menciptakan karakter dari tokohmu. Meskipun novel dan cerpen pada dasarnya cerita rekaan, tapi pembaca selalu memiliki referensi ke kehidupan nyata. Maka mau tidak mau, memberikan nama-nama kepada tokohmu, seringkali harus mengikuti konvensi di kehidupan yang sesungguhnya, jika tak ingin terlihat aneh.</p>
<p>Apakah ada nama yang akan terasa aneh diletakkan begitu saja? Banyak. Misalnya, jika kamu menciptakan tokoh pendeta Kristen atau rabi Yahudi, tapi bernama Muhammad. Itu pasti aneh, jika kamu tak membangun logika yang benar di ceritamu. Orang Batak bernama Sutejo, bagi orang asing mungkin tidak aneh, tapi bagi orang Jawa dan Batak, pasti butuh penjelasan. Pada nama, pada dasarnya sering terdapat latar-belakang banyak hal. Melalui nama kita sering bisa menebak latar belakangnya, baik agama maupun kultur. Sebab nama seringkali memang bersifat sosial.</p>
<p>Dengan teknik penamaan yang benar, kita seringkali tak perlu memberi penjelasan yang bertele-tele. Kita tak perlu mengatakan bahwa salah sati karakter kita adalah seorang dari suku Tonghoa. Cukup beri saja ia nama &ldquo;Tan Liong&rdquo;, dengan sendirinya pembaca membuat asumsi, tokoh itu orang Tionghoa. Selain untuk identitas sosial, penamaan juga bisa membangun dan memperkuat karakter pribadi. Ingat sejarah penamaan nama &ldquo;Minke&rdquo; di novel <em>Bumi Manusia</em>? Dari nama itu saja, pada dasarnya kita sudah menangkap tema besar dari novel tersebut.</p>
<p>Penulis seringkali mencopot nama begitu saja dari buku telepon, atau meminjam dari nama teman, atau bahkan mencari dari buku &ldquo;Nama-nama untuk Bayi Anda&rdquo;. Itu hal yang lumrah. Saya sendiri sering melakukannya, dan saya yakin penulis-penulis mapan juga sering melakukannya. Tapi di luar praktek lumrah itu, sering-seringlah bertanya, &ldquo;kenapa saya pilih nama ini untuk karakter ini&rdquo;? Apakah pemberian nama ini efektif untuk memperkuat karakternya? Jangan sampai pemilihan nama hanya sekadar enak didengar dan bagus untuk ditulis, tapi tak memberi nilai tambah bagi pembangunan karakter tokohmu.</p>
<p>Gabriel Garcia Marquez pernah mengatakan, pemilihan nama tokoh baginya merupakan salah satu cara menyalurkan &ldquo;obsesi puitis&rdquo;. Puitis bukan semata-mata enak didengar, bukan? Tapi juga mestinya mengandung makna yang dalam. Coba baca novel <em>Beloved</em>&nbsp;Toni Morrison, dan bertanya kenapa dan apa makna nama &ldquo;Beloved&rdquo; di novel itu? Tentu saja tak semua nama harus berurat-akar mendalam, tapi setidaknya ia harus tepat dilekatkan ke satu karakter.</p>
<p>Tugas terakhir, dan tampaknya inilah yang paling sulit: mengawal perkembangan karakter hingga ia tetap masuk akal dalam bangunan logika cerita.</p>
<p>Kita tahu cerita dibangun oleh konflik/permasalahan. Konflik atau permasalahan inilah yang menjalankan satu peristiwa digiring ke peristiwa lainnya, sehingga membentuk satu alur cerita. Tanpa permasalahan, tulisan kita hanya akan menjadi laporan peristiwa demi peristiwa saja.</p>
<p>Bagaimana permasalahan ini bisa mendorong satu peristiwa ke peristiwa lainnya? Jawabannya sederhana: karena ada reaksi dari tokoh-tokoh yang terlibat (langsung maupun tidak langsung) atas permasalahan tersebut. Reaksi tokoh-tokoh inilah yang pada akhirnya menghasilkan tindakan-tindakan dari mereka, dan tindakan-tindakan ini kemudian membangun peristiwa baru.</p>
<p>Nah, bagaimana setiap tokoh bereaksi terhadap permasalahan, ini akan sangat tergantung kepada karekter yang kita ciptakan kepada setiap tokoh. Jika permasalahan di ceritamu adalah perceraian rumah tangga, tentu reaksi sederhana saja akan terlihat berbeda antara: ayah, ibu, anak pertama, anak kedua, pembantu rumah tangga, kakek, nenek. Itu baru kategori-kategori sederhana. Reaksi tentu akan lebih beragam jika ayah yang bercerai itu antara lelaki saleh dan lelaki jahat, misalnya. Ibu yang berkarir dan ibu rumah tangga, tentu juga akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Anak dengan keterbelakangan mental dengan anak pecandu narkoba, pasti reaksi atas perceraian orang tua juga beda.</p>
<p>Di tingkat semacam inilah, banyak novel menjadi terasa kering dan tak berkesan, karena kegagalan penulis menciptakan karakter yang masuk akal ketika memberikan respon kepada permasalahan. Padahal ini merupakan reaksi pertama.</p>
<p>Seperti dalam kehidupan, jika ada aksi maka akan ada reaksi. Setiap reaksi tokoh, akan memperoleh balasan reaksi tokoh lain. Sikap aksi-reaksi ini di satu sisi bisa menciptakan konflik baru (yang akan membaca cerita ke tingkat permasalahan lebih tinggi), tapi bisa juga menghasilkan resolusi-resolusi, dan negosiasi-negosiasi. Di titik ini, sangat mungkin satu atau beberapa atau semua karakter berubah. Bolehkah karakter tidak berubah? Tentu saja boleh dengan risiko: jika semua tak berubah, kemungkinan besar konflik tak terselesaikan. Itu mirip di kebanyakan film kartun. Tom dan Jerry selamanya bermusuhan dan karakter mereka nyaris tak berubah. Maka perkelahian mereka memang tak pernah menghasilkan resolusi apa pun. Tapi karakter mereka memang jelas bukan: keras kepala.</p>
<p>Tapi tak semua karakter keras kepala seperti itu bukan?</p>
<p>Nah untuk karakter-karakter yang berubah, di sini juga harus hati-hati. Apa yang membuat karakter berubah? Bagaimana caranya ia berubah? Ke arah mana ia berubah dan kenapa begitu? Kenapa orang pelit dan rakus itu tiba-tiba baik? Harus jelas, apakah ia baik karena memang insyaf atau tak lebih sedang melakukan tipuan baru? Dan bagaimana reaksinya ketika menghadapi masalah baru?</p>
<p>Tampaknya memang tugas yang sulit. Tapi dengan sering belajar kepada novel-novel yang berhasil, dan bagi saya terutama belajar dari kehidupan yang nyata, ini tahapan yang akhirnya akan terjadi tanpa hambatan. Keterampilan menulis pada akhirnya sama saja dengan keterampilan yang lain: semakin sering melakukannya, kemungkinan bekerja lebih baik juga semakin tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Cantik itu Luka&#8221; di Badan Truk</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Truk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: "Cantik itu Luka".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile0.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cantikituluka-truk" height="500" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: &#8220;Cantik itu Luka&#8221;. Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

