<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 14:50:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Desain Kaos &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 14:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Kaos Oblong]]></category>
		<category><![CDATA[T-Shirt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3085</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka cetak ulang novel "Cantik itu Luka", saya dan penerbit memutuskan membuat promo kecil membuat kaos oblong. Tapi saya ingin ketika orang memakai kaos ini, mereka tak merasa sedang memakai kaos promosi. Maka selama 3 hari, saya berkutat membuat desain, dan inilah hasilnya. Idenya berasal dari desain tato. Tato? Ya, bukankah tato metafor paling mendekati untuk judul "Cantik Itu Luka"?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/FlU7C8Wz1NTtjKuF3yg9SpkpmpbqLDh66AZINOtdX3wpgL51vq9W5om3OIPB/cil-tattoo-square.jpg"><img alt="Cil-tattoo-square" height="500" src="http://getfile7.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/1CTSUVtBe9epdWRyvLiYkoJRYouGTd1ZdmzAAlIF9xQjrFw1K49n2af78JmO/cil-tattoo-square.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Dalam rangka cetak ulang novel &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, saya dan penerbit memutuskan membuat promo kecil membuat kaos oblong. Tapi saya ingin ketika orang memakai kaos ini, mereka tak merasa sedang memakai kaos promosi. Maka selama 3 hari, saya berkutat membuat desain, dan inilah hasilnya. Idenya berasal dari desain tato. Tato? Ya, bukankah tato metafor paling mendekati untuk judul &#8220;Cantik Itu Luka&#8221;?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/desain-kaos-cantik-itu-luka-3085.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanskap &#8220;Lelaki Harimau&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 10:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>
		<category><![CDATA[Pangandaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel "Lelaki Harimau", dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/KwiJZSWSkM0MB5T9tNl77fhHWFJgTRpb77KIgdtcVXFkEpwpbtIA0RgL2TjW/lh-lanskap.jpg"><img alt="Lh-lanskap" height="375" src="http://getfile6.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/9tbLInQ5RsTtQwnayA2cdkbmUMg06zTpMWuGARQvuzcG9jTK0sy2jzTLwelg/lh-lanskap.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Foto di atas saya ambil belum lama ketika saya ke Pangandaran. Sepuluhan tahun lalu, lanskap itulah yang menginspirasi saya menulis paragraf pembuka novel &#8220;Lelaki Harimau&#8221;, dan ternyata belum banyak berubah sampai sekarang. </p>
<p>Berminat membandingkan foto di atas dengan pembukaan novel tersebut? Sila baca paragraf pertama ini: <br /><span id="more-3081"></span> </p>
<blockquote><p>Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih muzair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.</p></blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lanskap-lelaki-harimau-3081.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki dan Rumah</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 03:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Ford Coppola]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Homer]]></category>
		<category><![CDATA[Julio Cortazar]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[Mario Puzo]]></category>
		<category><![CDATA[Oedipus Complex]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Sangkuriang]]></category>
		<category><![CDATA[Sigmund Freud]]></category>
		<category><![CDATA[The Alchemist]]></category>
		<category><![CDATA[The Godfather]]></category>
		<category><![CDATA[Ulysses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3013</guid>
		<description><![CDATA[<p>Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?</p>  <p>Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-01-08/cIjcHEagzkJlBskazEGeazAnlrbwzaCAGfBjulgmIbkAyuCdcDzylzhoixHx/home-sweet-home.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Home-sweet-home" height="375" src="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-01-08/cIjcHEagzkJlBskazEGeazAnlrbwzaCAGfBjulgmIbkAyuCdcDzylzhoixHx/home-sweet-home.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?</p>
<p>Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.</p>
<p><span id="more-3013"></span></p>
<p>Tengok juga kisah Pandawa dalam Mahabharata. Mereka baru bisa dibilang layak berkuasa, layak menang, setelah memperoleh ujian: diusir dari rumah. Bahkan meskipun pada akhirnya mereka membangun rumah baru di dalam hutan, setelah terlunta-lunta, ujung-ujungnya mereka tetap menguasai rumah yang lama, negeri Astina.</p>
<p>Bahkan fenomena pergi dari rumah untuk menguasai kembali rumah, tidak melulu terdapat dalam kisah kolosal semacam itu. Di cerita rakyat semacam Sangkuriang kita bisa menemukan pola yang sama: Sangkuriang diusir dari rumah karena melanggar sejenis &ldquo;kode etik&rdquo; rumah (yakni membunuh ayahnya), pergi merantau untuk kembali ke rumah itu dengan hasrat menguasainya. Tak hanya menguasai rumah tersebut, tapi juga penghuninya (yakni ibunya sendiri).</p>
<p>Tunggu dulu. Bagaimana dengan para pengeran? Para putera mahkota? Mereka jelas tinggal di keraton bersama keluarga mereka, dan bahkan kemudian mewarisi &ldquo;rumah&rdquo; tersebut untuk terus ditinggali. Tetap saja pola itu terus berlaku, pada satu titik para pangeran dan putera mahkota ini perlu diusir dari istana. Kita bisa membayangkan itu juga berlaku bagi para &ldquo;pangeran&rdquo; di kerajaan bisnis. Seringkali kita mendengar mereka sekali waktu disuruh pergi (dititipkan di kerajaan sahabat, dibuang ke sungai seperti Musa), tapi tentu dengan harapan akan kembali untuk menguasai &ldquo;rumah&rdquo;.</p>
<p>Juga di kelompok berandalan. Masih ingat kisah <em>The Godfather</em> karya Mario Puzo, yang adaptasi filmnya oleh Francis Ford Coppola juga sama memukau? Don Vito Carleone pun bahkan merasa perlu mengusir Michael anak bungsunya ke Sisilia, untuk kelak kembali ke rumah dan menjadi kepala keluarga mereka. Seolah tanpa pergi ke Sisilia, Michael tak akan pernah menjadi apa-apa. Tanpa dibuang ke hutan, lima bersaudara Pandawa tak akan memenangkan perang Bharatayudha. Demikian pula, setelah kemenangan yang gilang-gemilang dan menjadikannya pahlawan di perang Troya, kisah terbesar Homer tentang Ulysses justru adalah mengenai kepulangan sang pahlawan ke rumah, ke Ithaca. Seolah-olah perjalanan terberat manusia pada akhirnya adalah perjalanan dari rantau menuju rumah. Sebab bukankah perjalanan umat manusia untuk kembali ke surga, juga merupakan perjalanan yang berat?</p>
<p>Dengan kata lain, rumah sejenis surga tempat lelaki dilahirkan, dan kelak ia berharap itu menjadi tempat ia bisa kembali. Tanpa keluar dari surga, manusia bukanlah manusia. Dan tanpa kemampuan untuk kembali ke surga, berkumpul dengan keluarga, manusia itu bisa dianggap tersesat. Ia akan terlunta-lunta di sebuah tempat bernama neraka.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada sebuah cerita pendek karya penulis Argentina, Julio Cortazar tentang lelaki yang tak pernah pergi dari rumah berjudul &ldquo;House Taken Over&rdquo;. Dikisahkan si lelaki (dan adik perempuannya) mewarisi sebuah rumah besar dari orang tua mereka. Begitu besarnya rumah tersebut, sehingga dari hari ke hari mereka hanya disibukkan oleh mengurus rumah tersebut. Kesibukan tersebut membuat mereka tak hanya menjadi tidak bergaul dengan dunia luar, tapi juga menjadikan mereka tak pernah menikah.</p>
<p>Meskipun demikian, si lelaki bersetia menjaga rumah dan adik perempuannya. Hingga suatu malam serangan tersebut berawal: perlahan-lahan ada sesuatu yang menginvasi rumah tersebut, yang hanya ditandai bunyi-bunyi ribut. Invasi itu semakin merajalela dari malam ke malam, sehingga untuk mereka hanya tersisa sebagian kecil dari rumah itu. Tapi tak apa, toh mereka memang tak memerlukan ruangan yang sangat besar. Si lelaki hanya butuh tempat untuk menaruh buku-buku, sementara adik perempuannya hanya butuh tempat untuk merajut. Hingga satu malam, sesuatu yang menginvasi itu berhasil mencapai ruangan terakhir yang mereka tempati. Kakak-beradik ini pun terlempar ke luar rumah, dan hidup menggelandang di jalanan.</p>
<p>Cerita pendek tersebut memang sangat alegoris, dengan beragam tafsir bisa diajukan kepadanya. Tapi kesimpulan ringan bolehlah diambil: untuk lelaki yang tak pernah keluar rumah, sesuatu akan memaksanya keluar rumah dan akan membuatnya terlempar ke jalanan.</p>
<p>Franz Kafka di &ldquo;Metamorphosis&rdquo; juga bisa dibilang menceritakan seorang lelaki yang tak meninggalkan rumah, alias tetap tinggal bersama kedua orang tuanya. Dengan kedua orang tua yang tak memiliki pekerjaan, serta seorang adik perempuan yang tumbuh remaja, Gregor Samsa tak punya pilihan lain kecuali tetap tinggal di rumah untuk menjadi tulang punggung keluarga.</p>
<p>Gregor dikisahkan harus menghidupi keluarganya dengan cara menjadi penjual (pakaian) keliling. Setiap pagi ia berangkat untuk berjualan, dan menjelang malam ia baru pulang ke rumah, hanya menemukan dirinya lelah dan penat. Hingga satu hari ia terbangun dari tidurnya yang berhias mimpi buruk, dan menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kecoa besar. Gregor Samsa tak hanya susah payah untuk bangun, lebih dari itu, ia tak pernah kembali menjadi manusia, dan tak lagi mampu melakukan apa pun yang bisa dilakukan oleh manusia. Merasa aib memiliki seorang anak yang berubah menjadi kecoa, keluarganya (yang selama ini menggantungkan hidup kepadanya) memutuskan untuk mengurung Gregor di dalam kamar.</p>
<p>Kisah ini juga pada dasarnya alegoris, tapi bolehlah juga kita meraba-raba pesan kecilnya yang tersirat: dipaksa oleh keadaan untuk tetap tinggal bersama orang tua di satu rumah, Gregor Samsa harus melata dan membusuk selamanya di dalam rumah tersebut. Bahkan menjadi kecoa besar seolah tak cukup sebagai kutukannya, ia mati tertimbun buah-buahan yang membusuk, dan kadang-kadang dilemparkan begitu saja ke arahnya.</p>
<p>Jika di cerita pendek pertama kita melihat lelaki yang tak keluar rumah pada akhirnya akan dipaksa menggelandang di jalanan, di cerita pendek kedua, kita melihat lelaki semacam itu harus menerima nasibnya untuk mati menjadi bangkai binatang melata yang menjijikkan.</p>
<p>Gambaran-gambaran semacam inilah, dari kebudayaan kuno hingga kebudayaan modern, dari Barat hingga ke Timur, yang membentuk stereotif bahwa lelaki memang harus pergi dari rumah jika waktunya sudah tiba. Ia boleh kembali ke rumah, jika misi perantauannya telah berhasil. Seolah-olah, rumah bukanlah tempat lelaki seharusnya berada. Ia baru layak masuk ke rumah, setelah mengalami apa yang disebut &ldquo;terusir&rdquo;.</p>
<p>Bahkan penyanyi balada kita, Iwan Fals di lagu &ldquo;Rindu Tebal&rdquo;, setelah diusir ayahnya dari rumah karena memberi &ldquo;coreng hitam di muka bapak&rdquo;, baru kemudian ia merindukan rumah dan berhasrat memperoleh ampunan agar bisa kembali.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Ada sebutan yang agak mengejek untuk lelaki yang tak pernah pergi dari rumah beserta sifat-sifat turunannya: &ldquo;Anak mami&rdquo;.</p>
<p>Meskipun bernada negatif, julukan ini ada benarnya. Rumah sebagai surga, sebagai tempat manusia dilahirkan, bisa juga dianalogikan sebagai rahim. Dan anak yang tak pernah meninggalkan rumah, ibarat bayi yang terlena untuk tetap terus berada dalam buaian rahim ibunya. Anak mami.</p>
<p>Dan analogi rahim ini pula, yang membuat perempuan tak memiliki stereotif untuk meninggalkan rumah. Bahkan sebaliknya, seorang perempuan seolah-olah tempatnya memang di rumah. Sebagai pemilik, pengatur dan penjaga rahim. Perempuan membuka pintu rahim dan rumah ketika lelaki hendak masuk, dan mengeluarkan anak-anak mereka dari rahim dan rumah pula.</p>
<p>Rumah, sebagaimana rahim, merupakan tempat berlindung yang alami. Tempat seorang anak memperoleh jaminan pasokan makanan. Tapi bahkan janin bayi di dalam rahim pun, setelah berumur sembilan bulan, harus dikeluarkan dari tempat yang aman-nyaman tersebut, untuk menghadapi dunia yang kejam dan bisa membunuhnya. Sebab segala sesuatu di dalam rahim tak lagi memadai untuknya terus tumbuh dan berkembang. Jadi adakah alasan untuk seorang lelaki menjadi anak mami? Tinggal terus dalam kenyamanan rahim ibu yang bernama rumah keluarga?</p>
<p>Dalam realitas sehari-hari, tentu kita bisa dihadapkan pada anomali-anomali atau terpaksa melawan tuntutan-tuntutan semacam itu. Seorang anak lelaki tunggal dengan orang tua tinggal, barangkali lebih memilih melawan norma &ldquo;lelaki-pergi-dari rumah&rdquo; untuk membela norma &ldquo;lelaki-yang-mengurus-orang-tua&rdquo;. Kita tahu, norma-norma di masyakat betapa pun buruknya, serta stereotif-stereotif, juga memiliki jenjang dan strata. Ada aturan-aturan main yang boleh dilanggar demi aturan main yang lain.</p>
<p>Di kebudayaan yang lebih modern, dengan pilihan-pilihan yang lebih luas dan longgar, kita bahkan lebih sering melihat seorang lelaki yang memang memilih untuk tinggal di rumah bersama keluarga, tanpa keterpaksaan apa pun. Artinya, bisa jadi ia memiliki pekerjaan, memiliki kemampuan untuk tinggal di tempat lain, dan tak ada apa pun di rumah yang perlu diurusinya. Tapi barangkali ia bukan &ldquo;anak mami&rdquo;, yang hidup dalam kenyamanan rahim ibu.</p>
<p>Trend ini bisa dilihat secara positif sebagai benturan dari trend emansipasi. Di luar fakta kita semakin sering melihat lelaki tinggal di dalam rumah, kita juga semakin sering melihat perempuan pergi dari rumah. Tentu saja ini bukan semata-semata pertukaran peran, tapi juga bisa dilihat sebagai rubuhnya infrastruktur-infrastruktur yang membentuk stereotif awal dimana lelaki harus pergi dari rumah dan perempuan harus menetap.</p>
<p>Jika rumah, di sisi lain, kita anggap sebagai wilayah politik yang mungil, dengan penguasa dan segala perangkatnya, menyiapkan seorang pewaris pada akhirnya tak lagi melulu dengan melemparkannya ke jalanan. Tradisi modern bisa menawarkan hal sebaliknya: membawa segala sesuatu yang di luar ke dalam rumah, sehingga lelaki tak perlu pergi merantau. Dan kita sudah menyaksikannya hari ini: televisi, media massa, internet. Dunia bahkan ada di dalam kamar tidur.</p>
<p>Dengan kata lain, lima bersaudara Pandawa pada dasarnya bisa mempersiapkan dirinya untuk melawan Kurawa tanpa pergi kemana-mana. Sangkuriang bisa membunuh ayahnya dan kemudian menguasai rumah dan ibunya, tanpa perlu mengelilingi dunia.</p>
<p>Kita memiliki kisah pengembaraan yang bagus mengenai hal ini. Dalam kisah sufistik <em>Musyawarah Burung-burung</em> karya Fariddudin Attar, kita mengenal tiga puluh ekor burung yang berusaha mencari ketua mereka, bernama Simorgh. Setelah perjalanan panjang, melewati tujuh lembah, mereka akhirnya sampai di satu puncak dimana diyakini Simorgh berada. Di sanalah mereka menyadari fakta perjalanan tersebut hanya untuk menemukan bahwa Simorgh adalah ketiga belas burung tersebut.</p>
<p>Perjalanan, dengan kata lain, tak lebih untuk menemukan diri sendiri.</p>
<p>Dan kita juga bisa membandingkannya dengan alegori Paulo Coelho, <em>The Alchemist</em>. Santiago harus melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Mesir, hanya untuk menemukan kenyataan harta karun yang dicarinya, terdapat di tempat awal perjalanannya. Kesimpulan sederhananya, apa pun yang dicari seseorang, pada dasarnya ada di dalam dirinya, di rumahnya. Maka, pertanyaan pragmatisnya, untuk apa pergi dari rumah hanya untuk mencari rumah yang sama?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Kita kutip sedikit Sigmund Freud dalam <em>The Interpretation of Dreams</em>: &ldquo;Barangkali inilah nasib kita, untuk mengarahkan impuls seksual pertama kita kepada ibu dan kebencian serta keinginan membunuh kepada ayah.&rdquo;</p>
<p>Jika kita singgungkan hal ini kepada bahasan di atas, bisa dikatakan kepergian seorang lelaki dari rumah hampir selalu karena ayah, dan kembali ke rumah karena kerinduan kepada &ldquo;rahim&rdquo;. Sangkuriang terusir dari rumah setelah membunuh Si Tumang, anjing yang tak lain ayahnya, dan ia kembali untuk ibunya. Jika rumah benar adanya merupakan simbol dari rahim ibu, maka kepada rumahlah kerinduan kita pertama-tama ditempatkan. Kita ingin berada di rumah, dan ketika pergi, kita ingin kembali ke rumah.</p>
<p>Masalahnya, seringkali rumah tersebut ada pemiliknya: ayah. Dan pemilik rumah diasumsikan sebagai pemilik tunggal. Ada sejenis kontrak politik, jika ingin menguasai rumah, maka harus menggeser pemilik sebelumnya. Di sinilah Oedipus Complex terjadi: untuk memiliki ibu, seseorang harus membunuh ayah.</p>
<p>Pengusiran dari rumah dengan janji kemungkinan kembali di satu masa, bisa dipandang sebagai kompromi untuk mengatasi impuls ini. Rumah sebagai sebuah sistem politik kecil, harus mempersiapkan suksesi penguasa rumah secara damai, tanpa melibatkan apa yang ditakutkan: membunuh ayah. Dalam skenario semacam ini, si anak diusir dari rumah pada dasarnya tak semata-mata untuk melakoni sejenis perjalanan, tapi lebih penting lagi memang untuk jauh dari rumah. Dari ayah dan ibu. Si anak hanya diizinkan pulang ketika waktu suksesi itu memang telah tiba waktunya.</p>
<p>Maka, soal pergi dan tidak pergi dari rumah pada akhirnya merupakan pilihan politik kecil juga. Di luar situasi-situasi di mana seorang lelaki &ldquo;terpaksa&rdquo; keluar dari rumah karena melanggar sejenis &ldquo;kode etik&rdquo; rumah (seperti Sangkuriang yang membunuh Si Tumang, atau Michael yang melanggar kesepakatan keluarga Carleone), pergi dari rumah pada dasarnya merupakan pilihan politis, demikian pula sebaliknya. Dengan asumsi semacam ini, pertanyaan kenapa seorang lelaki tidak pergi dari rumah, bukanlah perkara apakah itu aib atau tidak, tapi apa latar di belakang pilihan-pilihan tersebut?</p>
<p>Di sinilah kita bisa sedikit menyimpulkan: jika perjalanan jauh mengarungi dunia pada akhirnya hanya untuk menemukan kembali rumah, siapa tahu tetap tinggal di rumah bisa menemukan dunia? Di alam besar terdapat alam kecil, dan di alam kecil terdapat alam besar.</p>
<div class="footnote">Diterbitkan di Majalah <em>Bung!</em> edisi Oktober-November 2011</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/lelaki-dan-rumah-3013.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampul Baru &#8220;Cantik itu Luka&#8221;, 2012</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 13:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gambar dan Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3004</guid>
		<description><![CDATA[<div class='posterous_autopost'><p><div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil_new1000" height="342" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a></div></p>
<p>Jika tak ada halangan, "Cantik itu Luka" dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 31 Januari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cil_new1000" height="342" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-23/imGhIzrGIJCalznzEhAGoDnalByhosnzrycAqGmalusdHfaDrwdJfjqrcoII/CIL_new1000.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a></div>
</p>
<p>Jika tak ada halangan, &#8220;Cantik itu Luka&#8221; dengan sampul versi ketiga ini akan beredar <del>5 Januari 2012</del> 31 Januari 2012. Lebih lengkap mengenai buku ini, sila <a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka" title="Cantik itu Luka">baca di sini</a>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/sampul-baru-cantik-itu-luka-2012-3004.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Karakter</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 13:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Dostoyevski]]></category>
		<category><![CDATA[Franz Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Kazuo Koike]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga Lone Wolf and Cub mengenai keberhasilannya menulis komik: &#8220;Character that stands out.&#8221; Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam Bumi Manusia (Pramoedya Ananta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Crowd" height="353" src="http://getfile2.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-12-17/GxJubrwHpgCrkCjaqxjhFlexkxzExmnAeJHdyadqxjuCzbDhJhElAmokbyqo/crowd.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya selalu mengingat resep dari Kazuo Koike, komikus Jepang yang terkenal dengan manga <em>Lone Wolf and Cub</em> mengenai keberhasilannya menulis komik: &ldquo;Character that stands out.&rdquo; Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Minke dalam <em>Bumi Manusia</em> (Pramoedya Ananta Toer), Mishkin dalam <em>The Idiot</em> (Dostoyevski), Kakek dalam &ldquo;Robohnya Surau Kami&rdquo; (A.A. Navis), atau Gregor Samsa dalam &ldquo;The Metaporphosis&rdquo; (Franz Kafka), seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali.</p>
<p>Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya &ldquo;memorable&rdquo;, tapi juga terasa nyata?</p>
<p><span id="more-3002"></span></p>
<p>Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan segera melihat bunga itu. Demikian pula di keluasan langit yang biru cerah, tiba-tiba seekor elang terbang sendirian, perlahan-lahan. Hitam kelam. Dengan mudah elang tersebut menjadi fokus perhatian.</p>
<p>Itu merupakan teknik paling mudah untuk membuat sesuatu menjadi fokus perhatian. Kita bisa melakukan teknik yang sama untuk karakter rekaan kita dalam sebuah cerita: buat karakter yang demikian berbeda di tengah karakter-karakter lain yang relatif sama. Bahkan meskipun kita memiliki bunga lantana kuning, bunga mawar merah, bunga melati putih, jika mereka semua diletakkan dengan jarak tertentu di hamparan hijau, lantana, mawar dan melati akan tampak secara bersama-sama.</p>
<p>Demikianlah, di tengah masyarakat yang takut pada kekuasaan kolonial dan berpasrah diri pada tradisi adat, Pramoedya memunculkan tokoh Minke dan Ontosoroh. Di tengah keluarga yang menjalani hidup biasa-biasa, cenderung parasit, Kafka menciptakan tokoh Samsa yang bekerja keras, depresi, hingga berubah menjadi kecoa. Di tengah masyarakat yang hipokrit dan para penjilat, tokoh Mishkin ciptaan Dostoyevski yang lurus, lugu, apa adanya, menjadi begitu menonjol.</p>
<p>Sekarang bayangkan jika Mishkin dalam <em>The Idiot</em> itu hidup di antara tokoh-tokoh yang juga lurus, apa adanya, jujur, tanpa pamrih? Percayalah, tokoh Mishkin itu tak hanya tak akan nampak, tetapi juga di tengah tokoh-tokoh yang seragam semacam itu, kemungkinan akan muncul konflik sangatlah kecil. Dan jika tak ada konflik, maka tak akan ada cerita, bukan?</p>
<p>Tapi bukankah pada dasarnya setiap karakter itu unik? Berbeda antara satu dan yang lainnya? Di kehidupan nyata itu benar. Tapi benar juga bahwa kadang-kadang perbedaan pribadi satu dan yang lainnya, begitu tipis jika dilihat sepintas lalu. Bukankah dalam novel atau cerita pendek, tak mungkin kita menyelam dalam ke pribadi semua tokoh. Sebagian besar tokoh barangkali hanya figuran, yang dilihat sepintas lalu. Coba perhatikan di dalam kehidupan sehari-hari. Siang hari, sepulang sekolah, perhatikan anak-anak sekolah keluar dari kelas. Dengan seragam yang sama, tingkah yang sama, tertawa yang sama, mereka tampak memiliki kepribadian yang sama satu sama lain. Hanya jika kita mengenal mereka satu per satu, akan tampak perbedaannya. Dan semakin kita mengenal, semakin nyata perbedaan-perbedaan itu.</p>
<p>Di sinilah sebagai penulis, kita harus memilih siapa-siapa di antara karakter kita yang harus menonjol dan siapa-siapa yang hanya akan berlalu sepintas saja.</p>
<p>Tapi menonjol saja tentu saja tidak cukup. Menonjol, jika tak menimbulkan kesan yang mendalam, barangkali akan segera dilupakan juga. Tugas selanjutnya, tentu saja menciptakan tokoh yang masuk akal bagi pembaca, sebab tanpa itu, semenonjol apa pun, hanya akan lewat sepintas saja di mata pembaca. Seperti apakah tokoh yang masuk akal? Bagi saya jawabannya sederhana: yakni tokoh yang memang layak berada di setting cerita yang tengah dibuat. Ibaratnya, jangan pergi ke pesta dengan salah kostum. Orang dengan salah kostum, barangkali akan menonjol di pesta. Tapi jikapun ia dikenang, pasti dikenang karena kekonyolannya. Jangan sampai karaktermu terasa salah berada di ceritamu.</p>
<p>Hal paling mudah bagi pembaca untuk mengenali karakter rekaanmu, adalah melalui namanya. Dan melalui nama ini pula, sebenarnya kamu mulai menciptakan karakter dari tokohmu. Meskipun novel dan cerpen pada dasarnya cerita rekaan, tapi pembaca selalu memiliki referensi ke kehidupan nyata. Maka mau tidak mau, memberikan nama-nama kepada tokohmu, seringkali harus mengikuti konvensi di kehidupan yang sesungguhnya, jika tak ingin terlihat aneh.</p>
<p>Apakah ada nama yang akan terasa aneh diletakkan begitu saja? Banyak. Misalnya, jika kamu menciptakan tokoh pendeta Kristen atau rabi Yahudi, tapi bernama Muhammad. Itu pasti aneh, jika kamu tak membangun logika yang benar di ceritamu. Orang Batak bernama Sutejo, bagi orang asing mungkin tidak aneh, tapi bagi orang Jawa dan Batak, pasti butuh penjelasan. Pada nama, pada dasarnya sering terdapat latar-belakang banyak hal. Melalui nama kita sering bisa menebak latar belakangnya, baik agama maupun kultur. Sebab nama seringkali memang bersifat sosial.</p>
<p>Dengan teknik penamaan yang benar, kita seringkali tak perlu memberi penjelasan yang bertele-tele. Kita tak perlu mengatakan bahwa salah sati karakter kita adalah seorang dari suku Tonghoa. Cukup beri saja ia nama &ldquo;Tan Liong&rdquo;, dengan sendirinya pembaca membuat asumsi, tokoh itu orang Tionghoa. Selain untuk identitas sosial, penamaan juga bisa membangun dan memperkuat karakter pribadi. Ingat sejarah penamaan nama &ldquo;Minke&rdquo; di novel <em>Bumi Manusia</em>? Dari nama itu saja, pada dasarnya kita sudah menangkap tema besar dari novel tersebut.</p>
<p>Penulis seringkali mencopot nama begitu saja dari buku telepon, atau meminjam dari nama teman, atau bahkan mencari dari buku &ldquo;Nama-nama untuk Bayi Anda&rdquo;. Itu hal yang lumrah. Saya sendiri sering melakukannya, dan saya yakin penulis-penulis mapan juga sering melakukannya. Tapi di luar praktek lumrah itu, sering-seringlah bertanya, &ldquo;kenapa saya pilih nama ini untuk karakter ini&rdquo;? Apakah pemberian nama ini efektif untuk memperkuat karakternya? Jangan sampai pemilihan nama hanya sekadar enak didengar dan bagus untuk ditulis, tapi tak memberi nilai tambah bagi pembangunan karakter tokohmu.</p>
<p>Gabriel Garcia Marquez pernah mengatakan, pemilihan nama tokoh baginya merupakan salah satu cara menyalurkan &ldquo;obsesi puitis&rdquo;. Puitis bukan semata-mata enak didengar, bukan? Tapi juga mestinya mengandung makna yang dalam. Coba baca novel <em>Beloved</em>&nbsp;Toni Morrison, dan bertanya kenapa dan apa makna nama &ldquo;Beloved&rdquo; di novel itu? Tentu saja tak semua nama harus berurat-akar mendalam, tapi setidaknya ia harus tepat dilekatkan ke satu karakter.</p>
<p>Tugas terakhir, dan tampaknya inilah yang paling sulit: mengawal perkembangan karakter hingga ia tetap masuk akal dalam bangunan logika cerita.</p>
<p>Kita tahu cerita dibangun oleh konflik/permasalahan. Konflik atau permasalahan inilah yang menjalankan satu peristiwa digiring ke peristiwa lainnya, sehingga membentuk satu alur cerita. Tanpa permasalahan, tulisan kita hanya akan menjadi laporan peristiwa demi peristiwa saja.</p>
<p>Bagaimana permasalahan ini bisa mendorong satu peristiwa ke peristiwa lainnya? Jawabannya sederhana: karena ada reaksi dari tokoh-tokoh yang terlibat (langsung maupun tidak langsung) atas permasalahan tersebut. Reaksi tokoh-tokoh inilah yang pada akhirnya menghasilkan tindakan-tindakan dari mereka, dan tindakan-tindakan ini kemudian membangun peristiwa baru.</p>
<p>Nah, bagaimana setiap tokoh bereaksi terhadap permasalahan, ini akan sangat tergantung kepada karekter yang kita ciptakan kepada setiap tokoh. Jika permasalahan di ceritamu adalah perceraian rumah tangga, tentu reaksi sederhana saja akan terlihat berbeda antara: ayah, ibu, anak pertama, anak kedua, pembantu rumah tangga, kakek, nenek. Itu baru kategori-kategori sederhana. Reaksi tentu akan lebih beragam jika ayah yang bercerai itu antara lelaki saleh dan lelaki jahat, misalnya. Ibu yang berkarir dan ibu rumah tangga, tentu juga akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Anak dengan keterbelakangan mental dengan anak pecandu narkoba, pasti reaksi atas perceraian orang tua juga beda.</p>
<p>Di tingkat semacam inilah, banyak novel menjadi terasa kering dan tak berkesan, karena kegagalan penulis menciptakan karakter yang masuk akal ketika memberikan respon kepada permasalahan. Padahal ini merupakan reaksi pertama.</p>
<p>Seperti dalam kehidupan, jika ada aksi maka akan ada reaksi. Setiap reaksi tokoh, akan memperoleh balasan reaksi tokoh lain. Sikap aksi-reaksi ini di satu sisi bisa menciptakan konflik baru (yang akan membaca cerita ke tingkat permasalahan lebih tinggi), tapi bisa juga menghasilkan resolusi-resolusi, dan negosiasi-negosiasi. Di titik ini, sangat mungkin satu atau beberapa atau semua karakter berubah. Bolehkah karakter tidak berubah? Tentu saja boleh dengan risiko: jika semua tak berubah, kemungkinan besar konflik tak terselesaikan. Itu mirip di kebanyakan film kartun. Tom dan Jerry selamanya bermusuhan dan karakter mereka nyaris tak berubah. Maka perkelahian mereka memang tak pernah menghasilkan resolusi apa pun. Tapi karakter mereka memang jelas bukan: keras kepala.</p>
<p>Tapi tak semua karakter keras kepala seperti itu bukan?</p>
<p>Nah untuk karakter-karakter yang berubah, di sini juga harus hati-hati. Apa yang membuat karakter berubah? Bagaimana caranya ia berubah? Ke arah mana ia berubah dan kenapa begitu? Kenapa orang pelit dan rakus itu tiba-tiba baik? Harus jelas, apakah ia baik karena memang insyaf atau tak lebih sedang melakukan tipuan baru? Dan bagaimana reaksinya ketika menghadapi masalah baru?</p>
<p>Tampaknya memang tugas yang sulit. Tapi dengan sering belajar kepada novel-novel yang berhasil, dan bagi saya terutama belajar dari kehidupan yang nyata, ini tahapan yang akhirnya akan terjadi tanpa hambatan. Keterampilan menulis pada akhirnya sama saja dengan keterampilan yang lain: semakin sering melakukannya, kemungkinan bekerja lebih baik juga semakin tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/menciptakan-karakter-3002.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Cantik itu Luka&#8221; di Badan Truk</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 04:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Truk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php</guid>
		<description><![CDATA[<div class='posterous_autopost'><p><div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile0.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cantikituluka-truk" height="500" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div></p>
<p>Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: "Cantik itu Luka". Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?</p></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile0.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Cantikituluka-truk" height="500" src="http://getfile4.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-11-16/gflBClEzjIjpvgfolyxgpFchdBFFpjazosADroFAEtyhrpwhttzwckwqyIyp/cantikituluka-truk.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Sangat umum di Indonesia, badan truk dihiasi gambar dan tulisan. Umumnya lucu dan erotis. Barangkali merupakan ungkapan perasaan sopir truk yang harus berhari-hari berada di jalanan. Biasanya berupa ungkapan rasa rindu kepada kekasih, istri, atau harapan doa keselamatan dari ibu. Seorang teman di Twitter (<a href="http://twitter.com/alvin_depresi" title="alvin_depresi">@alvin_depresi</a>) menemukan hiasan di truk bertuliskan seperti judul novel saya: &#8220;Cantik itu Luka&#8221;. Senang juga melihatnya. Saya tak tahu siapa perempuan yang dilukiskan di sana. Siapa tahu itu Dewi Ayu atau Alamanda?</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/cantik-itu-luka-di-badan-truk-2994.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidore: Melipir ke Desa Topo</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php</guid>
		<description><![CDATA[Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/sWpa6t3MtVO0ZFDe7Vu6D6KQPHHL6yM4JVczFGREcL1yWkpvlBJyRco9HAaU/topo.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Topo" height="375" src="http://getfile8.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/xNqTS9x5nOhYvEhrqgUPoVwbaT4MT4yvyTn5KOe4xdDUhR3gK03lVAE3yhI4/topo.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.
<p /> Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate. <br /><span id="more-2985"></span>
<p /> Setelah tersesat naik angkutan kota (sekali lagi, kota ini kecil saja, angkutan kota tak memiliki trayek tertulis di bagian depannya, jadi harus rajin bertanya ke sopir), kami berhasil kembali ke hotel dari tempat seminar. Dari hotel kami naik ojek (bayar 5000 rupiah) ke Bastiong. Itu pelabuhan penyeberangan ke Ternate. Karena sudah tanya-tanya dulu, ada dua pilihan harga untung menyeberang. Pertama, kapal fery kecil reguler kapasitas 16 penumpang dengan tarif 8000 rupiah (nunggu penumpang penuh, tapi biasanya tak lama); atau memakai speed boat dengan sewa 40 ribuan rupiah (di lokasi kami ditawari tarif 50 ribu rupiah). Tentu saja kami memilih yang murah saja.
<p /> Ada hal yang menarik tentang orang-orang Ternate. Saya menganggap mereka tipe yang tak malu-malu mengungkapkan pendapat atau protes jika ada sesuatu yang salah. Dua kejadian memperlihatkan itu. Pertama di angkutan kota. Seorang ibu marah-marah karena minta berhenti tapi mobil jalan terus. Sopir berdalih ia tidak mendengar. Si ibu mendebat, &#8220;Itu karena kamu putar musik kencang sekali.&#8221; Dalam hal ini si ibu benar, dan si sopir menyadari kesalahan ada padanya, tertawa kecut. Kejadian kedua terjadi di ferry yang menyeberangkan kami ke Tidore. Ada indikasi si pengemudi kapal akan melebihi muatan. Seorang bapak marah kepada pengemudi, bahwa itu tidak benar. Tapi alasannya lucu juga. Ia tidak bicara soal keselamatan pelayaran, tapi, &#8220;Lihat kita sedang ada tamu (maksudnya aku dan Hilmar), jangan mempermalukan diri sendiri!&#8221;
<p /> Sejujurnya kami belum tahu mau kemana atau berbuat apa di Tidore. Kami tak punya peta dan niatnya memang cuma melipir-melipir sekadar orientasi ruang. Maka ketika tukang ojek merekomendasikan untuk naik ke Desa Topo (awalnya saya salah dengar sehingga harus bertanya-tanya lagi), ya desa itulah kemudian jadi sekadar tujuan kami. Maka ketika kami sampai di Brum (mudah-mudahan saya tidak salah tulis), pelabuhan di bagian Tidore, kami langsung bertanya bagaimana caranya ke Desa Topo.
<p /> Seorang polisi dan dua orang ibu membantu kami. Kami naik angkutan umum ke Swasio. Perjalanan darat ini semacam menelusuri satu sisi pulau, dengan Pulai Mestara jadi pemandangan di laut dan Ternate di bagian belakangnya. Seorang pemuda yang duduk di samping saya, dengan semangat membanggakan Pulau Mestara, sebagai pulai yang dicetak di uang seribu. Betapa menyenangkannya ngobrol-ngobrol dengan orang setempat yang ramah ini. Kami belum sampai ke Swasio ketika si ibu yang duduk di depan memberitahu untuk ke Desa Topo, lebih baik turun di situ dan ganti angkutan.
<p /> Desa Topo memang bisa dibilang berada di puncak bukit. Perjalanan ke sana melalui jalan terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Saya sih tampaknya tak memiliki keberanian sekiranya harus menyetir di tanjakan seperti itu. Tapi sopir angkutan kami santai sekali, itu makanan sehari-harinya. Setelah sekitar seperempat jam, kamis ampai di ujung desa. Kalau mau lanjut, harus jalan kaki.
<p /> Desanya unik. Rumah-rumah bertumpuk hampir vertikal. Saya bayangkan, anak-anak di sini pasti sehat, karena untuk main ke tetangga saja mereka harus jalan kaki naik dan turun. Desanya juga sepi, tipikal desa umumnya. Hanya ada beberapa orang sedang mengerjakan satu bangunan, dan warung kecil yang tampaknya hanya menjual jajanan anak-anak. Yang bisa kamu lakukan cuma hal yang memang hendak kami lakukan ketika naik ke desa itu: melihat laut dari ketinggian.
<p /> Dari Desa Topo ini kita memang bisa melihat laut, juga pulau-pulau kecil, dan tentu saja melihat Pulau Halmahera. Saya sempat mengambil foto. Tapi selebihnya tak ada yang bisa dilakukan. Akhirnya dengan angkutan yang sama (sopirnya mau menunggui kami), kami memutuskan jalan ke Swasio saja. Siapa tahu ada yang bisa dilihat. Paling tidak mencari segelas kopi.
<p /> Swasio kota kecil yang tenang, jauh lebih tenang dari Ternate. Angkutan kota berseliweran dengan musik yang keluar dari sound system mereka. Bising, tapi karena tidak banyak, tak terlalu mengganggu. Malah relatif unik. Angkutan dalam kota lainnya yang beroperasi adalah becak yang didorong oleh sepeda motor. Seperti kota-kota lainnya di Jawa, saya sempat melihat ada distro, sejenis toko pakaian yang menjual t-shirt semacam Quiksilver, Monster, Billabong dan sejenisnya. Saya tak tahu apakah produk asli atau bajakan, tapi siapa yang peduli?
<p /> Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan warung soto. Tapi kami tak bisa memesan soto karena kata si penjual: &#8220;Belum belanja daging ke Ternate.&#8221; Jadi banyak kebutuhan sehari-hari kota ini, diimpor dari Ternate (dan Ternate sendiri mendatangkannya dari tempat lain, biasanya Makassar atau bahkan dari Jawa). Akhirnya kami makan ayam goreng dan minum kopi. Pemilik warung bukan orang setempat, tapi pendatang dari Jawa Timur (suami) dan Jawa Barat (istri). Hebat juga mereka datang ke &#8220;ujung dunia&#8221; begini untuk mencari penghasilan.
<p /> Tiba-tiba waktu sudah pukul 6. Berbeda dengan Jakarta, di sini pada jam seperti itu langit masih terang. Kami memutuskan untuk kembali ke Ternate.
<p /> Sebelum tidur, kami sempat mampir ke sebuah desa bernama Tubo bersama rombongan sastrawan. Itu merupakan desa tempat Sultan Ternate beristirahat. Ada sebuah mata air alami di sana (karena tengah malam, saya tak sempat memeriksanya). Masyarakat sekitar secara swadaya membangun semacam pendopo sederhana untuk sultan beristirahat. Di sana, seperti umumnya acara yang melibatkan pejabat daerah, kami disuguhi tari-tarian daerah. Saya tak terlalu menikmati tarian itu. Perjalanan melipir ke Tidore membuat saya lelah dan &#8230; ngantuk. Sudah saatnya kembali ke Amara, hotel tempat kami menginap. </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tidore-melipir-ke-desa-topo-2985.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternate: Ujung Dunia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 11:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Ternate]]></category>
		<category><![CDATA[Tidore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php</guid>
		<description><![CDATA[Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://getfile3.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/f9vZYKN9pwPRQz52t3ITmqbwzIbi1kdzAl8u3m7Sar7l9D1MvOTlJxcNo6SQ/afototidore.jpg.scaled.1000.jpg"><img alt="Afototidore" height="375" src="http://getfile1.posterous.com/getfile/files.posterous.com/ekakurniawan/Gzkz9ABvl9ntxmZXKRfKXOca2IuIqp9tSy9VKkq86TJAD704hkCcmv4I2Nms/afototidore.jpg.scaled.500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.
<p /> Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Haruki Murakami dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi. <br /><span id="more-2984"></span>
<p /> Saya pergi ke Ternate atas undangan Temu Sastra Indonesia keempat. Begitu tahu tempatnya di Ternate, saya langsung mengiyakan. Secara berseloroh saya bilang, “Portugis saja sudah datang ke pulau itu ratusan tahun lalu (mereka datang untuk mencari rempah-rempah), masa saya tak berkesempatan mengunjunginya.” Saya lumayan banyak membaca tentang Ternate dan Tidore, dan sekali ada kesempatan datang ke sini dengan akomodasi gratis, pantang untuk dilewatkan tentu saja.
<p /> Jika pernah melihat uang kertas seribu rupiah bergambar dua gunung, itulah Ternate dan Tidore. Kenyataannya, seperti akan kamu lihat dari jendela pesawat, ada lebih dari dua gunung seperti itu, besar dan kecil, mencuat dari permukaan laut di sekitar Ternate dan Tidore. Pemandangannya (bagi saya yang “anak darat”), benar-benar membuat bengong. Hamparan permukaan laut dengan hiasan gunung-gunung itu serasa kolam hiasan depan rumah saja. Barangkali Tuhan sedang membuat taman bermain ketika kepulauan Ternate-Tidore diciptakan. Siapa tahu?
<p /> Dan begitu mendarat di bandara Sultan Baabullah (saya pikir di sini bukan tempatnya untuk mengulas sejarah kesultanan Ternate dan Tidore yang termasyhur tersebut, tapi baiklah sedikit memperkenalkan: ia salah satu sultan Ternate yang sangat terkenal), rasa bengong saya atas “ujung dunia” ini semakin bertambah-tambah. Pulau ini tak lebih dari puncak gunung besar. Gunung Gamalama. Bandara Baabullah persis berada di kakinya. Dan keluar dari bandara, kami langsung menemui kota Ternate yang tak lebih merupakan permukiman di setengah lingkaran kaki Gunung Gamalama.
<p /> Jadi pergi kemana pun di kota itu, di satu sisi kamu melihat gunung menjulang, di sisi lain kamu melihat laut terhampar dengan gunung-gunung lain menghiasinya. Percayalah, tak ada yang seperti ini di sekitar tempat saya lahir dan tinggal. Dan kota Ternate kecil saja, rasanya bisa dijelajahi hanya dalam satu-dua jam saja. Ada angkutan kota yang mengelilingi kota, dan menurut teman yang pernah mencoba, angkutan kota bisa disuruh mengantar ke tempat yang dituju layaknya taksi. Tapi jangan kuatir, saya kira segala kebutuhan sebuah kota ada di sini. Saya melihat ada konter California Fred Chicken. Meskipun belum lihat, saya diberitahu juga ada toko buku Gramedia (penting untuk penulis). Ada ATM. Ada mal (saya tak berminat mengunjunginya). Ada juga yang membuat saya takjub tak percaya: beberapa mobil bagus memiliki plat nomor B (Jakarta). Saya yakin itu bukan mobil pelancong (gila kan membawa mobil sejauh itu), tapi orang lokal yang sengaja membeli mobil di Jakarta dan mempertahankan plat nomornya entah dengan maksud apa.
<p /> Baiklah, lupakan dulu soal itu. Malam ini kami menghabiskan waktu di alun-alun kota, di sebuah taman bernama Taman Dodoku Kapita Lau Ali. Di sana kami mendengarkan pentas grup akustik dan pembacaan puisi. Seorang gadis mencoba tampil ke panggung, dan petugas polisi pamong praja menangkapnya. Sepanjang acara, terjadi kucing-kucingan antara si gadis dan polisi pamong praja. Saya membayangkan, di kota kecil ini barangkali pertentangan antara si gadis dan polisi pamong praja sudah menjadi legenda serupa Tom dan Jerry.
<p /> Acara kami hari itu selesai tengah malam, setelah tiga sesi seminar sepanjang siang dan sore (saya membawakan makalah “Komitmen Sosial dalam Kesusastraan Indonesia Hari Ini”). Bahkan kota ini terus hidup selewat jam 12. Ketika pulang dari alun-alun ke hotel, dari jendela bis antaran, saya masih melihat penjual sayur di pasar, pedagang martabak berderet di pinggir jalan, dan bahkan ada satu pertunjukan musik lain di pinggir jalan yang lain. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan seluruh kota ini saling mengenal satu sama lain (barangkali saya perlu tanya Nukila Amal, penulis yang berasal dari Ternate, dan bertanya apakah ia mengenal seluruh penduduk kota?). Apa boleh buat, dengan kehidupan dikelilingi lautan membentang dan daratan dihabiskan oleh gunung gemuk menjulang (berapi dan masih aktif), bukankah pilihan terbaik adalah beirnteraksi satu sama lain dan menghidupkan kota kecil ini, siang dan malam? Setidaknya itulah yang saya pikirkan.
<p /> Saya baru satu hari di sini. Lelah dan belum tidur. Belum melihat banyak tempat ini (ada rencana menyeberang ke Tidore). Meskipun begitu, sudah terpikir oleh saya, kelak ingin kembali ke sini. Dan sungguh, saya menganjurkan siapa pun, jika berkesempatan, tengoklah “ujung dunia” ini. Rasakan denyut kota kecil di mana kamu merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi, kecuali berputar-putar di kaki Gunung Gamalama, dan coba pula merasakan hidup layaknya di sebuah kota dalam sebuah novel.
<p /></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/ternate-ujung-dunia-2984.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twilight of the American Idols</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 15:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Friedrich Nietzsche]]></category>
		<category><![CDATA[Parodi]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight of the Idols]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php</guid>
		<description><![CDATA[Simon Cowell benar, kita harus memiliki mulut sekeras dan sekuat palu. Kita harus mengeliminasi mulut-mulut yang hanya bisa mengerang. Dunia ini memang tidak baik. Semua orang bijak dari berbagai zaman mengatakan begitu. Bahkan Socrates sebelum mati sempat berkata, &#8220;Hidup berarti sakit untuk waktu yang lama.&#8221; Mereka harus dibikin sakit. Dihantam palu. Banyak yang bilang, betapa itu keterlaluan. Tak berperasaan. Sesungguhnya siapa yang tidak berperasaan? Mereka memperoleh kesempatan bernyanyi di depan kamera. Disiarkan langsung ke rumah-rumah. Tidak hanya di ruang tamu keluarga Amerika, tapi dimana-mana. Dan apa yang mereka lakukan? Hanya mengumbar teror. Mulut mereka mengerang. Kita bisa menjadi sedikit bijak di sini: kita bisa menikmati nyanyian yang merdu, disebabkan terlalu sering kita mendengar suara rombeng.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<h3>BEBERAPA MAKSIM</h3>
<p style="text-align: center;">1</p>
<p>&ldquo;Amerika merupakan negara demokrasi.&rdquo; Tidakkah itu merupakan kebohongan ganda?</p>
<p style="text-align: center;">2</p>
<p>&ldquo;Impian Amerika&rdquo;, selamanya merupakan impian.</p>
<p style="text-align: center;">3</p>
<p><em>Pepatah militer Amerika</em>. Apa yang tidak membuat Osama bin Laden hancur, hanya akan membuat dia semakin kuat.</p>
<p style="text-align: center;">4</p>
<p>Di Amerika, Anda minum Coca Cola atau Pepsi. Pilihan lain sangatlah kecil, yakni: Anda tidak minum sama sekali &#8211; <em>menjadi orang miskin</em>.</p>
<p><span id="more-2980"></span></p>
<p style="text-align: center;">5</p>
<p>Superman diturunkan di Amerika, tentu saja karena negara itu merupakan yang paling perlu ditolong. Seperti Musa dikirim ke Mesir.</p>
<p style="text-align: center;">6</p>
<p>Orang-orang jahat tak bisa menyanyi. Itulah kenapa mereka menciptakan kontes menyanyi &ldquo;American Idol&rdquo;, dan seluruh dunia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: center;">7</p>
<p>Amerika tak punya uang. Mereka cuma punya Freeport dan Exxon Mobil.</p>
<p style="text-align: center;">8</p>
<p>Amerika menancapkan bendera di bulan, sebab semua tempat di bumi sudah mereka kencingi.</p>
<p style="text-align: center;">9</p>
<p>Columbus tidak menemukan Amerika. Amerika yang menemukan Columbus.</p>
<p style="text-align: center;">10</p>
<p>Dunia tak akan baik-baik saja. Apa yang tidak diveto oleh China, akan diveto oleh Amerika.</p>
<p style="text-align: center;">11</p>
<p>Disney tidak menciptakan Minnie dari tulang rusuk Mickey. Mickey lah yang menciptakan Disney dari tulang rusuk Minnie.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<h3>KONTES MENYANYI</h3>
<p style="text-align: center;">1</p>
<p>Simon Cowell benar, kita harus memiliki mulut sekeras dan sekuat palu. Kita harus mengeliminasi mulut-mulut yang hanya bisa mengerang. Dunia ini memang tidak baik. Semua orang bijak dari berbagai zaman mengatakan begitu. Bahkan Socrates sebelum mati sempat berkata, &ldquo;Hidup berarti sakit untuk waktu yang lama.&rdquo; Mereka harus dibikin sakit. Dihantam palu. Banyak yang bilang, betapa itu keterlaluan. Tak berperasaan. Sesungguhnya siapa yang tidak berperasaan? Mereka memperoleh kesempatan bernyanyi di depan kamera. Disiarkan langsung ke rumah-rumah. Tidak hanya di ruang tamu keluarga Amerika, tapi dimana-mana. Dan apa yang mereka lakukan? Hanya mengumbar teror. Mulut mereka mengerang. Kita bisa menjadi sedikit bijak di sini: kita bisa menikmati nyanyian yang merdu, disebabkan terlalu sering kita mendengar suara rombeng.</p>
<p style="text-align: center;">2</p>
<p>Jika setiap kontes menyanyi Amerika memilih satu penyanyi terbaik, ditemani sebelas penyanyi hampir terbaik, apakah berarti mereka tengah menjual dua belas penyanyi terbaik ke seluruh dunia? Benar. Tapi ini lebih benar: Di kontes semacam itu, ada lebih banyak orang bersuara buruk, dan Amerika menjual ratusan penyanyi bersuara buruk ini kemana-mana. Dan dunia tertawa. Wagner tertawa di kuburannya. Itulah tragedi televisi.</p>
<p style="text-align: center;">3</p>
<p>Di antara para filsuf, mari kita kembali ke nama ini, Socrates termasuk salah satu yang perlu dieliminasi. Mari kita bayangkan ia hadir di kontes menyanyi. Ia tak layak berada di atas panggung. Ia tak semestinya hadir di layar televisi Anda. Inilah yang saya akan bilang sebagai &#8220;Masalah Socrates&#8221;. Kita semua tahu, Socrates dilahirkan dari masyarakat kelas rendah. Ia seorang Plebeian. Semua orang juga tahu, betapa buruknya orang ini. Anda bisa melihat patungnya. Saya kira ia bahkan lebih buruk dari itu. Dan apa kesimpulan dari semua ini? Saya beritahu, sebagaimana kita sudah mendengarnya dari para pakar kriminal antropologis bahwa: tipikal orang-orang kriminal adalah buruk rupa. Dan di sinilah tempat Socrates berada. Ia buruk muka, ia seorang kriminal. Bahkan orang bijak ini sendiri mengakuinya! Maka jangan biarkan orang semacam ini, kriminal dan buruk rupa, menjadi berhala baru Anda. Jika ia naik ke atas panggung kontes menyanyi, ia orang pertama yang harus dieliminasi. Tak ada teriakan &#8220;Selamat datang ke Hollywood!&#8221; untuknya.</p>
<div class="footnote"><strong>Catatan:</strong> ini keisengan saya beberapa bulan lalu membuat coretan setelah membaca &#8220;Twilight of the Idols&#8221; Friedrich Nietzsche.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/twilight-of-the-american-idols-2980.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tariq Ali, Pertemuan dan Beberapa Hal Lucu</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 15:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[Benedict Anderson]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[New Left Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Verso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader's Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>  <p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal "Indonesia". Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='posterous_autopost'>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ekakurniawan1" height="393" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/uEcCemGzxbbkyJrIIxEazAAvtHHDmdmgqzfHFaAmwkJbwJesDzGfFrkialpv/TariqAli_EkaKurniawan1.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Saya merasa tersanjung sekali, dalam lawatannya ke Indonesia (utamanya ia menghadiri Ubud Writer and Reader&#8217;s Festival dan satu ceramah di Salihara, Jakarta), penulis dan aktivis Tariq Ali berkesempatan bertemu dengan saya. Baiklah, barangkali ada yang bingung bagaimana kami bisa berjumpa, saya jelaskan bagaimana hal ini terjadi.</p>
<p>Beberapa waktu lalu, beberapa cerita pendek saya menarik minat Benedict Anderson, seorang pengamat Indonesia dari Cornell University. Bahkan ia menerjemahkan dua cerpen saya di jurnal &#8220;Indonesia&#8221;. Selain itu, rupanya ia menyebut-nyebut nama saya dan novel saya di obituari mengenai Soeharto, yang diterbitkan di jurnal New Left Review. Tariq Ali mengenal baik Ben Anderson (keduanya sangat aktif menulis di New Left Review), dan melalui tulisan dan terjemahan Ben, Tariq Ali mengetahui nama saya.</p>
<p><span id="more-2977"></span>  </p>
<p>Tadi malam akhirnya kami bertemu tak jauh dari hotel tempatnya tinggal di daerah Kemang. Saya ditemani Richard Oh, Mikael Johani, Rahung dan Reiner, ngobrol dan makan malam bersama dia. Malam itu kami lebih banyak bicara tentang situasi politik. Antara lain mengenai rencana buku berikutnya, &#8220;The Future of America&#8221;. Juga ngobrol soal kenapa para pemimpin Komunis Indonesia yang terbunuh sampai sekarang belum juga ditemukan kuburannya, padahal di negara-negara lain hal ini mulai terungkap. Soal obrolannya mengenai hal ini, Rahung merekamnya dengan video.&nbsp;</p>
<p>Sementara itu mengenai urusan dengan saya, ia cuma meminta beberapa kopi novel saya. Melalui penerbitnya, Verso, dua tahun lalu ia memang pernah meminta buku-buku itu, tapi entah kenapa kiriman kami tak pernah sampai ke tangannya. Akhirnya saya berjanji besok siang dalam perjalanan ke studio saya akan mampir ke hotelnya dan membawakannya kedua novel saya, serta beberapa manuskrip yang juga dia minta.</p>
<p>
<div class='p_embed p_image_embed'> <a href="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled1000.jpg"><img alt="Tariqali_ratihkumala2" height="375" src="http://posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2011-10-11/CaAhFIglDhzdkslywaJpcwtxFzoCuchClFwzAeCjtEfqdIbtHldqxAvuacHH/TariqAli_RatihKumala2.jpg.scaled500.jpg" width="500" /></a> </div>
</p>
<p>Akhirnya siang tadi bersama Ratih Kumala, dalam perjalanan ke kantor, kami mampir ke hotelnya. Tariq Ali kebetulan ada di lobi. Istriku tanya apakah ia sudah makan siang. Karena belum, akhirnya kami makan siang bersama di satu restoran Jepang, di Codefin Kemang. Tak terasa, akhirnya kami bertiga ngobrol lagi. Dan kali ini dia menceritakan berbagai hal-hal lucu dan konyol di negara-negara Komunis yang dia kunjungi.</p>
<p>Salah satu negara yang diceritakannya, tentu saja Korea Utara. Kata dia, di negara itu, sopir yang mengantarnya ke sana-kemari sering berhenti selama beberapa waktu. Saat dia tanya untuk apa, si sopir jawab: untuk berpikir. Akhirnya dia bilang: sudah deh, kamu nggak usah berhenti-berhenti, aku gak akan bikin laporan yang menyusahkan ke atasanmu. Si sopir akhirnya ketawa ngakak bebas.</p>
<p>Dia juga bercerita tentang Museum Seni Nasional. Isinya? Di ruang pertama, ia melihat lukisan Kim Jong-il masih bayi. Ruang kedua, ada lukisan Kim Jong-il remaja. Ruang ketiga, ada lukisan Kim Jong-il sudah menikah, dan seterusnya. Garing banget, kan?</p>
<p>Dan, nah ini yang paling lucu. Saat kami masuk ke Codefin, pandangan Tariq Ali tertuju pada pajangan suratkabar &#8220;Koran Jakarta&#8221;. Dengan tak percaya, ia menoleh kepada kami dan bertanya: &#8220;Koran?&#8221; Awalnya kami tak menyadari apa yang salah dengan nama suratkabar itu, sampai kemudian aku dan Ratih tertawa. Buru-buru kami menjelaskan, &#8220;No, No. Koran dalam bahasa Indonesia artinya suratkabar. Kalau kitab agama Islam, di sini ditulis dengan &#8216;Q&#8217;. Quran.&#8221; Tariq Ali akhirnya mengangguk-angguk dan ikut tertawa. Dia bilang, di Pakistan kayaknya nggak akan ada yang berani kasih nama suratkabar dengan nama &#8220;Koran&#8221;, hahaha.</p>
<p>Untuk yang belum mengenal Tariq Ali, di luar buku-buku politiknya, ia menulis beberapa novel. Antara lain: &#8220;Kitab Salahuddin&#8221;, &#8220;Seorang Sultan di Palermo&#8221;, &#8220;Perempuan Batu&#8221; dan &#8220;Bayang-bayang Pohon Delima&#8221;. Keempatnya sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia. Akhirnya, selepas makan siang kami berpisah, sambil berjanji untuk saling berhubungan. Tak lupa ia memberi kami salah satu novelnya, &#8220;Fear of Mirrors&#8221;. Di bukunya ia menulis pesan untuk kami, &#8220;Terima kasih untuk perkawanan dan solidaritas pada kunjungan pertamaku ke Jakarta.&#8221; Kami juga senang dan berterima kasih dengan pertemuan tadi, Kamerad. Semoga Anda menikmati suasana Jakarta, yang macet gila (seperti kota-kota Asia lainnya).</p>
</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/tariq-ali-pertemuan-dan-beberapa-hal-lucu-2977.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

