<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eka Kurniawan Project</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com</link>
	<description>Life is prose, living a life is poetry</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Mar 2010 00:39:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gratis 2 Buku &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221;</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 17:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Giveaway]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php</guid>
		<description><![CDATA[Maaf nih, karena sibuk nulis, jadi jarang ngeblog. Sebagai gantinya saya mau kasih giveaway berupa buku kumpulan cerpen &#8220;Cinta Tak Ada Mati&#8221; untuk dua orang yang menjawab pertanyaan ini: &#8220;Kenapa kamu suka membaca?&#8221; Pemenang tidak akan diundi, tapi akan saya pilih sendiri yang asyik buat saya. Sila jawab di bagian komentar. Komentar akan ditutup 21 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf nih, karena sibuk nulis, jadi jarang ngeblog. Sebagai gantinya saya mau kasih <em>giveaway</em> berupa buku kumpulan cerpen &#8220;<a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya"  alt="">Cinta Tak Ada Mati</a>&#8221; untuk dua orang yang menjawab pertanyaan ini: <strong>&#8220;Kenapa kamu suka membaca?&#8221;</strong> Pemenang tidak akan diundi, tapi akan saya pilih sendiri yang asyik buat saya. Sila jawab di bagian komentar. Komentar akan ditutup 21 Maret 2010. NB. <em>Berlaku hanya untuk yang memiliki alamat pengiriman pos di Indonesia</em> :-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/gratis-2-buku-cinta-tak-ada-mati-1438.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/interupsi-horor-budak-abdullah-harahap-1426.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/interupsi-horor-budak-abdullah-harahap-1426.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 05:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramaditha]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Media Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ugoran Prasad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1426</guid>
		<description><![CDATA[MUNGKIN Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.
Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S5SGOcPiCKI/AAAAAAAAAdU/EJR6kABWYxM/s200/budaksetan.jpg" title="Kumpulan Budak Setan" class="alignleft" width="136" height="200" />MUNGKIN Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.</p>
<p>Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil&#8211;biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad&#8211;yang besar di Tanjung Karang, Lampung.<br />
<span id="more-1426"></span><br />
Adapun Intan menemukan tumpukan buku Abdullah saat menelusuri perpustakaan University of California. Kala itu ia sedang berniat menelusuri genealogi cerita horor Indonesia. Intan sendiri pernah menerbitkan kumpulan cerpen misteri Sihir Perempuan (2005) yang lebih banyak terpengaruh gaya horor Barat. &#8220;Kira-kira akhir 2008, kami diskusi di chatroom Yahoo Messenger. Aku di Jakarta, Intan di New York, Ugo di Yogyakarta,&#8221; kisah Eka di Jakarta, Rabu(24/2).</p>
<h3>Proses kreatif</h3>
<p>Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. &#8220;Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,&#8221; kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. &#8220;Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,&#8221; katanya.</p>
<p>Bertahun-tahun berjarak dengan kisah Abdullah rupanya membuat Eka, juga Ugo dan Intan, menemukan banyak hal ketika membaca ulang. Mereka merespons temuan itu dalam 12 cerita pendek (masing-masing menulis empat kisah) dalam Kumpulan Budak Setan. Intan mengakui narasi Abdullah yang rapi. &#8220;Tadinya saya berpikir (cerita) ini bakal norak. Tapi ternyatadia menulis dengan baik. Dia tidak pretensius, brutal saja. TSpi dia realis yang rapi,&#8221; kata Intan, Jumat (26/2).</p>
<p>Dalam pandangan Intan, Abdullah sangat moralis. Sesuatu yang melenceng akan dikembalikan lagi sesuai jalur-nya. Meski begitu, Abdullah juga memberi ruang subversi. &#8220;Misalnya, ada kisah seorang dukun yang menyuruh pasangan tidak menikah untuk membuat semacam ritual seks sebagai perangkap iblis pengganggu kampung,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara Ugo mengaku jadi lebih mengamati karakteristik dan plot dalam proses pembacaan ulang. &#8220;Saya biasa bekerja dengan deretan imaji. Tantangannya ialah bagaimana menyajikan sebuah adegan menjadi masuk akal,&#8221; ujar Ugo, Jumat (26/2).</p>
<h3>Rasa baru</h3>
<p>Yang kemudian terasa pada 12 kisah itu ialah upaya tiga penulis menghindari kuncian moralis ala Abdullah. Taman Patah Hati (halaman 11-21) yang ditulis Eka, sebetulnya terasa jenaka meski satiris. Eka mengisahkan kerepotan manusia mengakhiri hubungan. Bisa karena tak tega, atau malah merasa terancam. Alasan tokoh Ajo Kawir lebih cenderung pada yang kedua. Mia Mia, perempuan yang dipacari-ajchirnya dinikahi-Ajo Kawir, bukan manusia. Tentu saja, dalam konteks kehidupan modern bukan manusia boleh saja ditafsirkan seperti psikopatyang bila dicerai, sadisnya bisa melebihi setan.</p>
<p>Lantaran percaya takhayul, Ajo Kawir membawa Mia Mia berkelana ke semua tempat yang disebut orang bisa menghancurkan hubungan. Upaya Ajo Kawir melepaskan diri dari Mia Mia berakhir dengan sebuah renungan lanjutan, bukan kesimpulan.</p>
<p>Sementara itu, salah satu cerpen Intan, Goyang Penasaran (halaman 43-58) berkisah tentang tokoh utama pedangdut Salimah yang membuat lelaki sekampung mesum. Tubuh perempuan di wilayah publik itulah yang ternyata menghantui sehingga perlu dibinasakan. Haji Ahmad, tokoh berwibawa sekaligus pemuka agama mengusir Salimah.</p>
<p>Padahal ketika Salimah kembang perawan, Haji Ahmad-lah yang pernah bernafsu berusaha mencumbuinya. Di akhir kisah, Salimah mati dipukuli massa. Intan tidak berupaya membuat Salimah sebagai pahlawan, tapi menyisakan ketragisan. Ada semacam ketidakadilan karena perempuan begitu mudah diadili tanpa akal.</p>
<p>Adapun Ugo yang juga vokalis grup band Melancolis Bitch itu mengadopsi kebrutalan Abdullah tanpa rasa mengawang. Mungkin karena saat ini, kesadisan kerap kita temui. Misalnya pada Hidung Iblis (halaman 153-170) seorang suami membunuh sejumlah laki-laki yang ia kira akan meniduri istrinya. Tapi lantas, ia sendiri terbunuh istrinya. Dingin saja.</p>
<p>&#8220;Horor berlangsung karena dipengaruhi persepsi mental. Keputusan membunuh bisa sangat logis bagi pelakunya,&#8221; tambah Ugo. Horor pada kisah tiga penulis itu, jadinya malah memberikan perenungan. Bahwa perilaku manusia bisa lebih sadis dan memalukan ketimbang setan. Ia bisa memperalat kekuasaan, bahkan-agama untuk mematikan manusia lainnya. Celakanya, gejala ini ada di sekitar kita, bukan dunia lain tempat jin bersemayam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/interupsi-horor-budak-abdullah-harahap-1426.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Buku di Sini</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/pesan-buku-di-sini-1416.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/pesan-buku-di-sini-1416.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 16:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik itu Luka]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Tak Ada Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Gelak Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Lelaki Harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/pesan-buku-di-sini-1416.php</guid>
		<description><![CDATA[Buku-buku di bawah ini bisa dipesan langsung melalui blog saya. Beberapa masih bisa ditemukan di toko buku, beberapa hanya tinggal beberapa kopi di gudang penerbit. Semoga ini membantu teman-teman yang mencari buku saya (dan Ratih Kumala) tapi tak menemukannya di toko buku, atau malas ke toko buku, atau memang tak ada toko buku.
Buku-buku Eka Kurniawan
Cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buku-buku di bawah ini bisa dipesan langsung melalui blog saya. Beberapa masih bisa ditemukan di toko buku, beberapa hanya tinggal beberapa kopi di gudang penerbit. Semoga ini membantu teman-teman yang mencari buku saya (dan <a href="http://ratihkumala.com"  alt="">Ratih Kumala</a>) tapi tak menemukannya di toko buku, atau malas ke toko buku, atau memang tak ada toko buku.</p>
<h3>Buku-buku Eka Kurniawan</h3>
<div style="background: url(http://farm4.static.flickr.com/3189/2361097066_299fbc561e_o.jpg) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;"><a href="http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati-dan-cerita-cerita-lainnya/"><strong>Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya</strong></a><br />
(<em>Kumpulan Cerita Pendek</em>)<br />
ISBN: 979-22-1257-4<br />
<a href="http://gramedia.com"> Gramedia Pustaka Utama</a>, 2005<br />
Rp. 35.000,- </div>
<div style="background: url(http://farm4.static.flickr.com/3014/2361097068_70b3e34fb7_o.jpg) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;"><a href="http://ekakurniawan.com/books/gelak-sedih-dan-cerita-cerita-lainnya/"><strong>Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya</strong></a><br />
(<em>Kumpulan Cerita Pendek</em>)<br />
ISBN: 979-22-1348-1<br />
<a href="http://gramedia.com"> Gramedia Pustaka Utama</a>, 2005<br />
Rp. 37.500,-</div>
<p><span id="more-1416"></span></p>
<div style="background: url(http://farm3.static.flickr.com/2330/2361097070_0772b9092c_o.jpg) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;"><a href="http://ekakurniawan.com/books/lelaki-harimau/"><strong>Lelaki Harimau</strong></a><br />
(<em>Novel</em>)<br />
ISBN: 979-22-0799-6<br />
<a href="http://gramedia.com"> Gramedia Pustaka Utama</a>, 2004<br />
Rp. 27.500,- </div>
<div style="background: url(http://farm4.static.flickr.com/3158/2361097064_815fce66d8_o.jpg) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;"><a href="http://ekakurniawan.com/books/cantik-itu-luka/"><strong>Cantik itu Luka</strong></a><br />
(<em>Novel</em>)<br />
ISBN: 979-22-0798-8<br />
<a href="http://gramedia.com"> Gramedia Pustaka Utama</a>, 2004<br />
<span style=color:f00> (persediaan kosong)</span></div>
<div style="background: url(http://farm3.static.flickr.com/2008/2361097072_479b0d7bf0_o.jpg) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;"><a href="http://ekakurniawan.com/books/pramoedya-ananta-toer-dan-sastra-realisme-sosialis/"><strong>Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis</strong></a><br />
(<em>Non Fiksi</em>)<br />
ISBN: 979-22-2361-4<br />
<a href="http://gramedia.com"> Gramedia Pustaka Utama</a>, 2006<br />
<span style=color:f00> (persediaan kosong)</span>
</div>
<h3>Buku-buku <a href="http://ratihkumala.com"  alt="">Ratih Kumala</a></h3>
<div style="background: url(http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronikbetawi_tbl.png) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;">
<a href="http://ratihkumala.com/books/kronik-betawi/"><strong>Kronik Betawi</strong></a><br />
(<em>Novel</em>)<br />
ISBN: 978-979-22-4678-0<br />
<a href="http://gramedia.com">Gramedia Pustaka Utama</a>, 2009<br />
Rp. 40.000,- </div>
<div style="background: url(http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/larutansenja_tbl.png) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;">
<a href="http://ratihkumala.com/books/larutan-senja/"><strong>Larutan Senja</strong></a><br />
(<em>Kumpulan Cerita Pendek</em>)<br />
ISBN: 978-979-22-2029-1<br />
<a href="http://gramedia.com">Gramedia Pustaka Utama</a>, 2006<br />
Rp. 30.000,-
</div>
<div style="background: url(http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/genesis_tbl.png) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;">
<a href="http://ratihkumala.com/books/genesis"><strong>Genesis</strong></a><br />
(<em>Novel</em>)<br />
ISBN: 978-979-345-758-9<br />
Insist Press, 2004<br />
(persediaan kosong)
</div>
<div style="background: url(http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasa_tbl.png) no-repeat; padding-left:100px; border-bottom: 1px dotted #ccc; margin-top:10px; min-height:130px;">
<a href="http://ratihkumala.com/books/tabula-rasa/"><strong>Tabula Rasa</strong></a><br />
(<em>Novel Pemenang Sayembara DKJ 2004</em>)<br />
ISBN: 978-979-732-714-0<br />
<a href="http://grasindo.com">Grasindo</a>, 2004<br />
Rp. 32.500,-
</div>
<p>Sila tinggalkan pesan di bawah, dengan menyebutkan judul buku yang dipesan dan memberikan alamat email. Saya akan mengirimkan email berisi cara pembayaran. Harga yang tercantum belum termasuk ongkos kirim (rata-rata Rp 10.000, tergantung jumlah dan tujuan pengiriman buku). Selamat berbelanja :-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/pesan-buku-di-sini-1416.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budak Setan Menafsir Horor</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/budak-setan-menafsir-horor-1413.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/budak-setan-menafsir-horor-1413.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 14:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramaditha]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[Ugoran Prasad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Selain itu, kata Intan, banyak dimensi sosial-politik yang muncul pada karya Abdullah. Penyelesaian konflik internal dalam karyanya tak melibatkan institusi, tapi mempercayakannya pada keterlibatan benda-benda gaib atau subyek yang tak lazim, seperti arwah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S5SGOcPiCKI/AAAAAAAAAdU/EJR6kABWYxM/s200/budaksetan.jpg" title="Kumpulan Budak Setan" class="alignleft" width="136" height="200" /><em>Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: &#8220;Ina Mia?&#8221;</em><br />
(Riwayat Kesendirian, Eka Kurniawan)</p>
<p><em>Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan&#8211;lebih mirip terigu menggumpal tersapu air&#8211;dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.</em><br />
(Goyang Penasaran, Intan Paramaditha)</p>
<p><em>&#8220;Duluan mana ayam sama telur,&#8221; gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.</em><br />
(Hidung Iblis, Ugoran Prasad)<br />
<span id="more-1413"></span><br />
***</p>
<p>Penggalan cerita tersebut adalah karya tiga penulis muda yang termuat di dalam Kumpulan Budak Setan, buku kumpulan 12 cerpen horor yang diluncurkan Rabu pekan lalu di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama setebal 192 halaman ini merupakan bentuk nyata dari ketertarikan ketiga penulis itu, yakni Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, terhadap novel-novel horor Abdullah Harahap. Mereka membaca ulang karya Abdullah dan menuliskannya kembali menjadi kumpulan cerita horor ini.</p>
<p>Pada 1970 hingga 1980-an, Abdullah terkenal sebagai penulis novel horor picisan. Karya-karyanya tak pernah menjadi bagian dari kanon sastra Indonesia. Tapi, &#8220;Ia adalah penulis yang sangat produktif menghasilkan novel horor pada saat itu,&#8221; ujar Eka.</p>
<p>Novel-novel Abdullah, seperti <em>Panggilan Neraka</em>, <em>Menebus Dosa Turunan</em>, dan <em>Penyesalan Seumur Hidup</em>, umumnya dicetak dalam format buku saku murahan. Tebalnya sekitar 100-200 halaman. Tahun terbitnya tak disebut, tanpa nomor ISBN, dan nama penerbit dan alamatnya tak begitu jelas.</p>
<p>Abdullah bisa dikatakan sebagai pionir novel Gothic modern. Jacob Sumarjo dalam <em>Novel Populer Indonesia</em> (1985) menyinggung nama Abdullah ini sebagai pengekor Motinggo Busye dalam mempopulerkan novel bertema percintaan dengan pelukisan seksualitas yang lebih terbuka dengan menyisipkan tema Gothic.</p>
<p>Pada masa jayanya, novel-novel Abdullah dengan mudah dapat ditemukan di toko-toko buku, pasar loak, maupun lapak-lapak buku di stasiun kereta api. Anehnya, ketika proyek pembacaan dan penulisan ulang karya Abdullah ini mereka sepakati, Eka ternyata tak mudah menemukannya di pasar loak.</p>
<p>&#8220;Bukunya sudah langka dan tak banyak dicari orang,&#8221; ujar Eka.</p>
<p>Ide proyek ini muncul dari Intan. Perempuan manis ini menemukan koleksi lengkap Abdullah Harahap di perpustakaan Universitas Cornell, Amerika Serikat. &#8220;Pembacaan ulang ini tak hanya meminjam motif Abdullah, tetapi diluaskan menjadi eksplorasi terhadap horor,&#8221; ujar Intan. Bersama Ugo dan Eka, mereka mendiskusikan bersama gagasan ini melalui chatting.</p>
<p>Selama ini Intan menyenangi novel horor Gothic. Dari sini, Intan membandingkannya dengan karya Abdullah. Ternyata motif-motif yang menyertai cerita horor Abdullah mendekati novel Barat, mulai motif balas dendam, seks, pembunuhan, hingga motif stereotipe seperti jimat, topeng, dan susuk. Bahkan, dalam karya Abdullah, sering kali permasalahan muncul bermula dari tempat yang sangat intern, yaitu rumah atau keluarga.</p>
<p>Lalu apa yang disebut horor? Menurut Intan, batas horor berbeda-beda menurut persepsi setiap orang yang mengartikannya. Ia mencontohkan soal pembunuhan para jenderal pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa dikatakan horor, &#8220;Karena orang akan miris dan teringat terus dengan kejadian itu,&#8221; ujar Intan.<br />
Ugo, panggilan akrab Ugoran Prasad, heran ketika menemukan bahwa jumlah judul novel Abdullah sangatlah banyak, tapi isinya mirip. &#8220;Terkadang saya menemukan judul novel yang berbeda, tetapi isi, motif, dan alur cerita hampir sama. Tokohnya saja yang berbeda,&#8221; ujar Ugo. Keterlibatan setan, arwah penasaran, atau manusia jadi-jadian acap kali muncul dalam novel Abdullah.</p>
<p>Pada 1980-an, Abdullah bukanlah satu-satunya pengarang cerita horor. Nama lain yang pernah muncul adalah S.B. Chandra, yang terkenal dengan serial <em>Manusia Harimau</em>, dan Motinggo Busye, yang populer lewat serial <em>7 Manusia Harimau</em>.</p>
<p>Menurut Eka, karya-karya S.B. Chandra memang lebih bagus ketimbang karya Abdullah. Hanya, koleksi karyanya tak banyak. Adapun Intan menilai latar tempat pada karya Chandra hanya terbatas di Sumatera. &#8220;Abdullah lebih bermacam-macam, ada desa maupun kota,&#8221; ujar Intan.</p>
<p>Selain itu, kata Intan, banyak dimensi sosial-politik yang muncul pada karya Abdullah. Penyelesaian konflik internal dalam karyanya tak melibatkan institusi, tapi mempercayakannya pada keterlibatan benda-benda gaib atau subyek yang tak lazim, seperti arwah.</p>
<p>Proyek pembacaan dan penulisan ulang karya Abdullah ini memakan waktu setahun. Mereka tidak serta-merta menjiplak alur dan logika Abdullah Harahap. Seperti Eka dalam &#8220;Riwayat Kesendirian&#8221;, ia menulis prelude dalam cerita itu seolah-olah mengalaminya. &#8220;Saya menulisnya seolah memang ada sesuatu di punggung saya waktu itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Adapun Intan membumbui kisah horornya dengan kisah-kisah seksual, seperti pada &#8220;Goyang Penasaran&#8221;. Tokohnya, Salimah, digambarkan Intan sebagai perempuan dengan goyangan erotis yang akan membuat siapa pun selalu penasaran. Tapi tokoh ini terbunuh dengan sangat tragis.</p>
<p>Lain halnya dengan Ugo dalam &#8220;Hidung Iblis&#8221;. Ia menafsirkan horor dengan kesadisan. Tokoh Moko yang dingin dan tak kenal kompromi serta-merta membunuh korbannya dengan pisau yang siap di tangannya. Ugo memiliki definisi sendiri atas horor. Menurut dia, setiap teror yang mengancam psikis maupun fisik adalah horor. Latar tempat dan situasi yang digambarkan oleh ke-12 cerpen itu didominasi oleh kejadian-kejadian yang ada di sekitar masyarakat saat ini.</p>
<p><strong>ISMI WAHID | IWANK</strong><br />
Tempo Interaktif, Selasa, 23 Februari 2010 | 08:14 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/budak-setan-menafsir-horor-1413.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-memperkaya-diskusi-horor-1410.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-memperkaya-diskusi-horor-1410.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 14:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramaditha]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>
		<category><![CDATA[Ugoran Prasad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1410</guid>
		<description><![CDATA[Buku kumpulan cerita horor Kumpulan Budak Setan akan diluncurkan malam ini di Komunitas Salihara, Jalan Salihara Nomor 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buku itu berisi 12 cerpen karya Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.
Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an. Pada masanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S5SGOcPiCKI/AAAAAAAAAdU/EJR6kABWYxM/s200/budaksetan.jpg" title="Kumpulan Budak Setan" class="alignleft" width="136" height="200" />Buku kumpulan cerita horor <em>Kumpulan Budak Setan</em> akan diluncurkan malam ini di Komunitas Salihara, Jalan Salihara Nomor 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buku itu berisi 12 cerpen karya Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.</p>
<p>Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an. Pada masanya, Abdullah adalah penulis paling produktif di antara penulis horor lainnya, seperti S.B Chandra dan Fredy S.</p>
<p>Meski karya Abdullah sangat popular dan cenderung picisan, tetapi ketiga penulis ini sangat berminat untuk menafsirnya. Berikut ini wawancara <em>Tempo </em>dengan Intan Paramaditha, salah satu penulis di buku tersebut.<br />
<span id="more-1410"></span><br />
<strong>Bagaimana Anda dan teman-teman menafsirkan karya Abdullah Harahap?</strong></p>
<p>Saya dan teman-teman mengeksplorasi cerita horor melalui karya Abdullah Harahap, termasuk motif cerita, seperti pembunuhan, balas dendam, bahkan motif stereotipe seperti jimat dan susuk. Eksplorasi ini untuk menjawab pertanyaan apa sebenarnya horor itu. Karya kami tentu tak hanya meminjam motifnya saja, tapi juga mengeksplorasi lebih luas terhadap horor ini.</p>
<p><strong>Jadi, apa sesungguhnya batasan horor ini?</strong></p>
<p>Sebetulnya batasan horor itu berbeda-beda. Sebagai contoh, pemberontakan G30S/PKI dengan penggambaran pembunuhan yang keji terhadap para jendral pada waktu itu, menurut saya sudah horor. Sehingga yang menakutkan tak lagi objek hantu atau manusia jadi-jadian, tetapi motif juga berpengaruh.</p>
<p><strong>Mengapa harus karya Abdullah yang dipilih. Kalau dilihat pada masa itu banyak penulis horor lain, semisal S.B. Chandra, yang tak kalah menarik dibanding Abdullah?<br />
</strong><br />
Abdullah Harahap paling produktif di antara penulis horor lain pada masa 1970-1980 an. Menurut saya, ia menulis dengan sangat baik, meskipun ceritanya sangat populer, picisan. S.B Chandra hanya terbatas di Sumatera saja dan ceritanya agak terlalu plural. Kalau Abdullah Harahap, ia lebih macam-macam, ada desa, kota. Meski dalam ceritanya kadang menjiplak cerita-cerita detektif.</p>
<p><strong>Kalau demikian apakah cerita Abdullah layak untuk dikaji secara sastra?</strong></p>
<p>Saya rasa perlu. Banyak dimensi sosial-politik dari cerita Abdullah Harahap, apalagi cerita ini hadir pada tahun 1970-1980-an. Karya Abdullah sangat memperkaya diskusi tentang horor dengan konteks sosial-politik pada zaman itu. Saya dan teman-teman tidak berusaha memasukkan Abdullah untuk masuk dalam kanon sastra agar dapat dijadikan referensi sastra, tapi lebih banyak memberikan wacana terhadap dunia sastra Indonesia. Sebetulnya ada yang membahas Abdullah, tetapi tak terpublikasikan, yakni tentang erotisme novel Indonesia tahun 1970-an. Menurut saya, diskusi tentang Abdullah Harahap berarti juga meredefinisi kritik sastra.</p>
<p><strong>Ismi Wahid</strong><br />
Tempo Interakif, Rabu, 17 Februari 2010 | 15:29 WIB</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-memperkaya-diskusi-horor-1410.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/melacak-jejak-horor-1402.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/melacak-jejak-horor-1402.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 04:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Intan Paramaditha]]></category>
		<category><![CDATA[Koran Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Budak Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Ugoran Prasad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/melacak-jejak-horor-ala-barat-1402.php</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingatkah Anda pada Abdullah Harahap? Bagi Anda yang menyukai cerita-cerita horor sekitar tahun 70-80-an tentu ingat betul Abdullah Harahap yang selalu bercerita seputar balas dendam, seks, pembunuhan, serta motif-motif cerita setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Tapi bagi Anda yang tidak ingat karena tidak tahu, jangan khawatir karena Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S5SGOcPiCKI/AAAAAAAAAdU/EJR6kABWYxM/s200/budaksetan.jpg" title="Kumpulan Budak Setan" class="alignleft" width="136" height="200" />Masih ingatkah Anda pada Abdullah Harahap? Bagi Anda yang menyukai cerita-cerita horor sekitar tahun 70-80-an tentu ingat betul Abdullah Harahap yang selalu bercerita seputar balas dendam, seks, pembunuhan, serta motif-motif cerita setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Tapi bagi Anda yang tidak ingat karena tidak tahu, jangan khawatir karena Anda sekarang akan diajak tiga penulis muda berbakat; Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad untuk melacak jejak cerita-cerita horor yang diusung Abdullah Harahap dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Budak Setan” </p>
<p><span id="more-1402"></span><br />
Dari membaca judul bukunya dan tampilan sampulnya menampakkan perempuan berwajah seram dengan bercecerah darah, kita dibuat merinding, apalagi untuk membaca cerpen-cerpen di dalamnya. Tapi kembali saya mengingatkan Anda untuk tidak khawatir karena ketiga penulis muda itu tidak sekedar mengulang cerita-cerita horor, melainkan dengan penuh kesadaran mengambil sudut cerita yang aktual dengan keadaan sekarang. Semakin penasaran bukan? Seperti apa cerpen-cerpen horor di dalamnya yang dikatakan aktual dengan keadaan sekarang? Lalu apa yang sebenarnya ditawarkan dari buku kompilasi cerpen ini?</p>
<h3>Membaca Ulang, Menakar Kebebasan</h3>
<p>Meski penulisan buku ini berangkat dari membaca ulang karya-karya Abdullah Harahap, tapi serta-merta terjebak tema cerita-cerita horor yang diusungnya, karena ternyata ketiga penulis tersebut sepertinya mencoba menuntaskan dahaga penasarannya untuk kemudian menakar kebebasan bercerita yang tentu sesuai dengan daya kreatif mereka masing-masing. Mulai dari Eka Kurniawan yang di tahun 2004 menulis cerita horor Manusia Harimau itu tidak melulu mengangkat perihal mistiknya, seperti pada cerita Jimat Sero (hal 31-41), tapi ia mencoba sesuatu yang baru dengan gaya khas berceritanya untuk menguji kekuatan gaib jimat itu. </p>
<p>Ada logika yang Eka pakai dalam bercerita untuk tidak serta-merta langsung menyimpulkan bahwa benda bernama jimat itu memang memiliki kekuatan ghaib, tapi lebih pada keadaan psikis tokoh utama aku yang dialaminya ketika berhadapan dengan lawan cerita di dalamnya yang membuat jimat kemudian punya “kekuatan”. Akhir cerita bahkan dibuat sangat mengejutkan karena yang memberinya jimat, istilahnya “memberi kekuatan lebih pada dirinya”, justru kemudian berkhianat dengan meniduri kekasihnya, tapi ia tidak dendam, tapi hanya membiarkannya. Anehnya bahkan ia senang-senang saja. Akhir cerita seperti ini mungkin “menjadi lain” kalau di tangan Abdullah Harahap. </p>
<p>Begitu juga dengan Intan Paramaditha yang pernah menulis kumpulan cerita horor Sihir Perempuan (2005). Salah satu cerpennya Goyang Penasaran (hal 43-58) yang mengangkat cerita keseharian di masyarakat kita, yaitu tentang tokoh utama Salimah, penyanyi dangdut yang mati tragis sekali karena digebuki massa. Sebuah cerita yang sebenarnya kental mengenai seksualitas dengan dibumbui adanya intrik-intrik politik, tapi dikemas dengan cara berbeda karena di akhir cerita Intan sekilas “membangkitkan” Salimah dengan pesona cerita yang tetap menampilkan Salimah menggoda dengan goyangan erotis sehingga membuat orang akan selalu penasaran. </p>
<p>Gaya bercerita seperti itu tampaknya pengaruh dari cerita film horor ala Barat yang tidak serta-merta berhenti pada seorang tokoh antagonis mati, tapi pada pesona kisah tokoh yang menarik perhatian penonton agar penonton penasaran. Meski sekilas tapi akan tetap membekas sehingga terbuka peluang untuk sambungan cerita berikutnya. Mungkin karena Intan pernah melakukan penelitian dan kemudian dibukukan tentang film terkait dengan wacana politik, seksualitas, dan (trans)nasionalisme. </p>
<p>Adapun Ugoran Prasad tampak mengangkat fenomena sadisme yang sekarang semakin menggejala terjadi di masyarakat kita. Simak saja cerpennya Hidung Iblis (hal 153-170), dimana tokoh utama Mirna yang narsis begitu dingin dengan suaminya hingga sampai pada kematian sang suami ia tidak bersedih karena suami dianggapnya sebagai seorang budak.</p>
<h3>Antara Keinginan Bebas dan Kesetiaan Tak Jelas</h3>
<p>Seperti pada pengantar buku ini, ketiga penulis menyadari sebagai budak sejati, mereka juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan tak terjelaskan. Kita tentu cukup mengerti, sebagai penulis kreatif tentu mereka ingin kebebasan dalam mengunakan imajinasi dan kemudian menuangkannya dalam tulisan, meski mereka harus tetap mengacu pada karya-karya Abdullah Harahap.</p>
<p>Nama Abdullah Harahap memang tidak menjadi bagian dari kanon sastra Indonesia, tapi karya-karyanya meski dinilai sebagai novel horor “picisan” tampak melekat di hati masyarakat. Ini memang kasus serius yang tetap menghinggapi dunia kepenulisan kita di Indonesia sehingga masih muncul dikotomi antara pop dan sastra. Ada yang masih tetap di wilayah pop karena dengan begitu masyarakat pembacanya tetap banyak, tapi ada juga yang tetap “serius” di wilayah sastra meski karyanya tidak dilirik masyarakat karena memang ia menyakini jalan ditempuhnya adalah “jalan sunyi”.</p>
<p>Penerbitan buku ini semoga bisa menjembatani kedua kubu itu. Bisa disebut sebagai karya pop yang sastra atau sastra yang pop. Bahkan bisa juga punya kubu sendiri karena seperti keberanian mereka memilih tema cerita horor. Begitu juga dengan karyanya karena ceritanya realitas terjadi di tengah masyarakat, tapi tidak melulu menceritakan hal-hal yang ada di permukaan, melainkan lebih ke dalam lagi pada perenungan mereka yang mendalam tentang hidup dan kehidupan. </p>
<p><Strong>Akhmad Sekhu</strong>, pengamat buku, tinggal di Jakarta dan Tegal<br />
(selain di <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/03/05/1734/Melacak-Jejak-Horor-Abdullah-Harahap"><em>Suara Merdeka</em>, 5 Maret 2010</a>, versi yang agak berbeda juga dimuat di <a href="http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=45607"><em>Koran Jakarta</em>, Jumat, 19 Februari 2010</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/melacak-jejak-horor-1402.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bila Novel Ditulis di Blog (&#8220;Club Camilan&#8221;)</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/bila-novel-ditulis-di-blog-1396.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/bila-novel-ditulis-di-blog-1396.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 13:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menjadi rahasia umum gaya penulisan blog memiliki karakteristik yang mulai menjadi tipikal. Di satu sisi, ia seringkali bersifat personal seperti catatan harian. Tapi di sisi lain, ia juga bersifat publik sebagaimana media massa umumnya. Begitulah, blog berada di antara keduanya: personal sekaligus publik.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S3altiLuhKI/AAAAAAAAAdM/EGVl-27s4m8/s320/camilan.jpg" title="Club Camilan" class="alignleft" width="218" height="320" /><br />
Sudah menjadi rahasia umum gaya penulisan blog memiliki karakteristik yang mulai menjadi tipikal. Di satu sisi, ia seringkali bersifat personal seperti catatan harian. Tapi di sisi lain, ia juga bersifat publik sebagaimana media massa umumnya. Begitulah, blog berada di antara keduanya: personal sekaligus publik.</p>
<p>Pendekatan seperti itu pula yang dilakukan kebanyakan media massa arus utama ketika mendelegasikan jurnalisnya agar menulis blog. Koran-koran seperti The Washington Post hingga Kompas, tak hanya menyediakan konten beritanya dalam versi daring, tapi juga menyediakan ruang bagi jurnalisnya menulis secara personal melalui blog yang difasilitasi oleh media induknya. Blog-blog semacam ini, tak hanya tetap patuh pada kaidah-kaidah jurnalistik dalam penanganan fakta, tapi juga menyisipkan sentuhan personal. Mereka membiarkan opini penulisnya menyusup dan orang tetap memakluminya. Sebab itulah blog.<br />
<span id="more-1396"></span><br />
Itulah daya tarik blog: ada daya tarik antara yang personal dan yang publik. Jurnalisme dan layanan konsumen sudah banyak memanfaatkannya. Bagaimana dengan kesusastraan? Bagaimana jika sebuah novel ditulis dalam bentuk blog?</p>
<h3>Club Camilan</h3>
<p>Belum lama ini terbit sebuah novel berjudul Club Camilan, karya tiga penulis Donna Talitha, Bella Widjaja dan Brigitta NS (Gramedia Pustaka Utama, 2009). Sebagaimana ditulis di pengantar editor, novel ini awalnya muncul di blog <a href="http://sepocikopi.com">&#8220;Sepoci Kopi&#8221;</a>. “Sepoci Kopi” merupakan blog lesbian dalam Bahasa Indonesia, selain berisi segala informasi mengenai LGBT, mereka juga kerap menampilkan cerita pendek bertema serupa. Club Camilan barangkali proyek novel pertama mereka.</p>
<p>Tantangan utama menulis novel di ruang blog tentu saja adalah fakta sederhana: rasanya tak mungkin seseorang betah membaca puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu, kata di layar komputer. Tak terbayangkan jika mereka membacanya di layar telepon genggam sebagaimana kecenderungan terkini.</p>
<p>Para penulis di Jepang, China dan Korea melakukannya dengan tindakan brilian: memecah novel dalam posting-posting pendek sebanyak 140 karakter. Itu jumlah maksimal satu halaman pesan pendek di telepon genggam, atau satu posting di layanan mikroblog seperti Twitter dan Identica. Tentu saja para penulis Jepang, China dan Korea diuntungkan oleh karakter huruf mereka, yang memungkinkan 140 karakter bicara lebih banyak daripada 140 karakter huruf latin. Meskipun begitu, dalam bahasa kita, 140 karakter bahkan masih memungkinkan untuk menulis satu atau dua kalimat. Apalagi jika kita bisa mempergunakan singkatan.</p>
<p>Pada prakteknya, tentu tak perlu seekstrem ini. Pembaca masih memungkinkan membaca teks di layar komputer, atau telepon genggam, lebih banyak dari itu. 7000 karakter seperti tulisan di koran masih memungkinkan untuk dibaca dalam keadaan nyaman. Dan itulah yang dilakukan ketiga blogger di balik novel Club Camilan: mereka membagi novel mereka dalam posting-posting pendek yang ketika dicetak menjadi buku, tampaknya menjadi bab-bab.</p>
<p>Tantangan kedua, di antara jutaan blog di internet, cara menulis seperti apa sehingga orang mau membaca novel di blog?</p>
<p>Kembali ke isu awal, tentu ada alasan kenapa blog menjadi semakin personal dalam keadaannya yang bersifat publik? Jawaban paling sederhana, di antara jutaan blog yang ada di internet, dengan pendekatan personal, setiap blog bisa menjadi unik. Keunikan mengundang pembaca setia, tak sekadar para blogwalkers yang tersesat.</p>
<p>Itu pula yang bakal ditemui di novel Club Camilan ini. Di blog, masing-masing penulis menulis setiap tiga kali sehari, berselingan. Di buku, editor memutuskan untuk memformatnya menjadi tiga novela dalam sebuah buku. Hal pertama yang mudah ditemui sebagai karakter blog yang personal adalah bahwa novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Tentu saja ini bisa dibilang trik. Teknik ini bukan barang baru dalam kesusastraan. Tapi dalam blog, bisa jadi pendekatan ini menjadi penting.</p>
<p>Bayangkan jika kita melihat posting Twitter berbungi: “Pada suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi kecoa.” Percayalah, barangkali efeknya tak akan sebaik ketika membacanya di sebuah buku. Di Twitter dan kebanyakan blog, orang barangkali lebih tertarik membaca posting semacam ini: “Pagi ini saya terbangun karena digigit kecoa.” Kenapa? Posting kedua tampak lebih personal, meskipun boleh jadi sama fiksinya dengan posting pertama.</p>
<p>Demikianlah, teknik “jadul” ini bagaikan menemukan habitatnya yang utama di internet, utamanya di ruang blog.</p>
<h3>Logika blog</h3>
<p>Tentu saja sentuhan personal seringkali tak cukup hanya dengan mempergunakan kalimat dari sudut pandang orang pertama. Seringkali pembaca blog harus yakin bahwa penulis blog tertentu memang “seseorang” dan “di bidangnya”. Bahkan di blog-blog yang anonim pun, orang tetap harus diyakinkan dengan cara tertentu bahwa penulis blog itu ada dan memiliki alasan yang masuk akal untuk anonim.</p>
<p>Memang bukan tidak mungkin menyembunyikan diri di balik tulisan blog, atau menulis sesuatu yang dianggap orang “bukan bidangnya”. Yang terpenting adalah, pembaca yakin dengan personalitas penulis blog dan bahwa ada unsur personal dalam tulisannya, meskipun mungkin kenyataannya itu rekaan belaka. Jika di dalam fiksi ada “logika fiksi” (orang tetap percaya Harry Potter bisa terbang dengan sapu sihir), barangkali ini bisa disebut “logika blog”.</p>
<p>Rupanya dengan kesadaran semacam itu pula novel Club Camilan ditulis. Tak hanya ditulis dengan sudut pandang orang pertama, novel ini juga berisi mengenai isu-isu yang dihadapi oleh para penulisnya: hidup sebagai perempuan dengan kecenderungan seksual sebagai lesbian. Apakah yang mereka tulis merupakan kisah nyata sebagaimana mereka alami, itu persoalan yang barangkali hanya mereka yang tahu. Yang terpenting blog ini telah mengikuti “logika blog”: ditulis oleh lesbian tentang lesbian, dengan pendekatan pengalaman personal.</p>
<p>Jika akhirnya novel blog ini berakhir menjadi novel dalam bentuk buku, itu adalah anomali yang memang harus dihadapi saat ini. Kita tahu kesusastraan, sebagaimana bidang lainnya, tampaknya tengah berubah dengan kehadiran internet. Di Amerika, koran-koran sudah bertumbangan. Kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan buku, sebagaimana kita belum tahu kemana internet akan membawa kesusastraan. Dalam keadaan gamang seperti itu, menulis novel di blog dan mengembalikannya ke dalam bentuk buku, menjadi sesuatu yang tampaknya (masih) lumrah.</p>
<p>Meskipun begitu, ini merupakan rintik-rintik kecil dari kesusastraan saiber. Daripada membicarakannya, tentu lebih baik mencobanya dalam berbagai kemungkinan. Tak masalah jika itu masih merupakan langkah kecil. Masih sekadar memindahkan teks tercetak ke layar komputer. Sekecil apa pun, barangkali akan ada sesuatu yang berbeda dari sana. Sebab satu hal jelas: sastra saiber merupakan keniscayaan di masa mendatang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/bila-novel-ditulis-di-blog-1396.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Harahap dan Ratih Kumala</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-dan-ratih-kumala-1386.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-dan-ratih-kumala-1386.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 08:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-dan-ratih-kumala-1386.php</guid>
		<description><![CDATA[
Buat yang penasaran dengan Abdullah Harahap, penulis novel-novel horor yang terkenal di tahun 70-80an, ini fotonya bersama istri saya, Ratih Kumala. Di umurnya yang sekitar 70 tahun, ia tampak masih sehat. Penasaran juga, apakah ia masih menulis?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="mobile-photo" style="text-align:center"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S1_3U1uwNyI/AAAAAAAAAcg/5YyBOHSVReA/s1600-h/%3D%3Futf-8%3FB%3FYWgtcmF0aWguanBn%3F%3D-734964"><img src="http://1.bp.blogspot.com/_tn9p8W26Wqg/S1_3U1uwNyI/AAAAAAAAAcg/5YyBOHSVReA/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FYWgtcmF0aWguanBn%3F%3D-734964"  border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431331613024728866" /></a></p>
<p>Buat yang penasaran dengan Abdullah Harahap, penulis novel-novel horor yang terkenal di tahun 70-80an, ini fotonya bersama istri saya, <a href="http://ratihkumala.com">Ratih Kumala</a>. Di umurnya yang sekitar 70 tahun, ia tampak masih sehat. Penasaran juga, apakah ia masih menulis?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/abdullah-harahap-dan-ratih-kumala-1386.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku-buku Saya di Malaysia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/buku-buku-saya-di-malaysia-1384.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/buku-buku-saya-di-malaysia-1384.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 14:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[Buat beberapa teman di Malaysia yang tertarik membeli buku saya, barangkali bisa menengok situs ini: Oxygen Media. Semoga bisa membantu.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat beberapa teman di Malaysia yang tertarik membeli buku saya, barangkali bisa menengok situs ini: <a href="http://oxygenmedia22.blogspot.com/2010/01/buku-buku-dari-indonesia-sudah-mampir.html">Oxygen Media</a>. Semoga bisa membantu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/buku-buku-saya-di-malaysia-1384.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jimat Sero&#8221; di Suara Merdeka</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php</link>
		<comments>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 13:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu cerpen dalam buku &#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;, diterbitkan di Suara Merdeka, 24 Januari 2010, berjudul &#8220;Budak Sero&#8221;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu cerpen dalam buku &#8220;Kumpulan Budak Setan&#8221;, diterbitkan di <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/01/30/1651/Jimat-Sero">Suara Merdeka</a>, 24 Januari 2010, berjudul <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/01/30/1651/Jimat-Sero">&#8220;Budak Sero&#8221;</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekakurniawan.com/blog/jimat-sero-di-suara-merdeka-1380.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
