Eka Kurniawan

Journal

The New Yorker

Though he considers Pramoedya an influence, and a master of the historical novel, he is quick to point out the radical differences in their approach to fiction: “I don’t think Pramoedya would write about an undead woman rising from underground,” he said. “It’s not his style.”

“A Writer’s Haunting Trip Through the Horrors of Indonesian History”, by Gillian Terzis, The New Yorker

“The Violent Mysteries of Indonesia”, by Ian Buruma, The New York Review of Book

“Indonesia: Robbed, Raped, Abused”, by Charles R. Larson, Counter Punch

2 Comments

  1. Sebagai seseorang yang baru terjun ke dalam dunia sastra, saya membutuhkan sedikit saran dari mas Eka. Bagaimana membangun kapasitas kepenulisan yang baik, padahal saya tak masuk lembaga/komunitas khusus untuk melatih diri secara berkelompok. Terima kasih.

    • @Adnan Ali
      Baca saja sebanyak-banyaknya. Itu bisa dilakukan sendiri. Kalau perlu 200 buku setahun. Kalau ternyata masih gagal jadi penulis, setidaknya sudah membaca banyak buku, dan itu bukan hal yang buruk.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑